Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

RAGAM

Diskusi Budaya di Bekasi: Menimbang Sejarah Bubat, Antara Tafsir dan Kesadaran Kolektif

badge-check


 Diskusi Budaya di Bekasi: Menimbang Sejarah Bubat, Antara Tafsir dan Kesadaran Kolektif Perbesar

Wartatrans.com, BEKASI — Diskusi budaya yang menghadirkan praktisi jurnalis, budayawan, dan sastrawan berlangsung hangat di Kedai Wisata Sumur Alet, Kranggan, Kota Bekasi, Rabu (22/04/2026). Dalam suasana santai namun sarat gagasan, para peserta membahas pentingnya menghidupkan kembali tradisi literasi sejarah sebagai bagian dari kesadaran kebangsaan.

Acara tersebut dihadiri Ketua PJMI (Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia) Ismail Lutan, jurnalis Bachtiar, sastrawan Putra Gara, serta sejumlah jurnalis dan pegiat budaya lainnya. Diskusi mengerucut pada salah satu fragmen penting dalam sejarah Nusantara, yakni Perang Bubat yang melibatkan tokoh legendaris Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dan rombongan Kerajaan Sunda.

Bachtiar membuka diskusi dengan sudut pandang yang tak biasa. Ia mengaku pernah mendapatkan gambaran dalam mimpi yang menurutnya memberi perspektif berbeda terhadap peristiwa tersebut.

“Saya pernah diberi mimpi bahwa terjadinya Perang Bubat itu merupakan fitnah terhadap peran Gajah Mada, yang dituduh ingin memerangi iring-iringan Raja Sunda di Bubat,” ujarnya.

Ia menilai, sebagai seorang kesatria besar, Gajah Mada tidak mungkin melakukan tindakan yang mencoreng kehormatan seperti yang selama ini dituturkan dalam sebagian narasi sejarah.

Pandangan tersebut kemudian ditanggapi oleh sastrawan Putra Gara, yang dikenal kerap mengangkat tema sejarah dalam karya-karyanya. Menurutnya, sejarah harus dibaca secara kritis dan berimbang.

“Sejarah itu memang harus dilihat dari dua sisi, agar kita tidak merasa paling benar. Bisa jadi apa yang diimpikan Bachtiar memiliki makna, tetapi kita juga perlu merujuk pada sumber seperti Negarakertagama karya Mpu Prapanca,” kata Gara.

Ia menambahkan bahwa rujukan tersebut bukan untuk membenarkan satu versi, melainkan sebagai pembanding dalam memahami konteks dan sudut pandang penulis sejarah masa lampau. Negarakertagama sendiri merupakan kakawin yang ditulis pada abad ke-14 dan menjadi salah satu sumber penting mengenai kejayaan Majapahit, termasuk relasinya dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Dalam catatan sejarah, Perang Bubat yang terjadi sekitar tahun 1357 M kerap dipahami sebagai tragedi diplomatik yang berujung konflik antara Majapahit dan Kerajaan Sunda. Peristiwa ini tidak hanya berdampak secara politik, tetapi juga meninggalkan luka kultural yang masih terasa dalam memori kolektif masyarakat Sunda hingga kini.

Diskusi tersebut juga menyinggung pentingnya peran generasi kini dalam merawat sejarah lokal. Hal ini selaras dengan semangat tokoh publik Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dikenal konsisten mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dan sejarah Sunda dalam berbagai kegiatan kebudayaan.

“Upaya tersebut dinilai penting sebagai bagian dari penguatan identitas dan karakter bangsa di tengah arus globalisasi,” ungkap Ismail Lutan menimpali.

Para peserta sepakat bahwa diskusi semacam ini perlu terus digalakkan. Selain sebagai ruang dialektika, kegiatan tersebut juga menjadi jembatan antara narasi sejarah, interpretasi budaya, dan kesadaran kritis masyarakat.

“Dengan mengedepankan dialog terbuka dan literasi yang kuat, sejarah tidak lagi sekadar menjadi catatan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih berakar dan berkarakter,” ungkap Ismail Lutan mengakhiri.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat

3 Juli 2026 - 02:26 WIB

BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan

2 Juli 2026 - 22:05 WIB

Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan

2 Juli 2026 - 21:58 WIB

Tangis Haru Iringi Peresmian Akses Enang-Enang, Gotong Royong Akhiri Keterisolasian Warga

2 Juli 2026 - 16:23 WIB

Kepala BNN RI Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Sambut Hari Bhayangkara ke-80

2 Juli 2026 - 13:08 WIB

Gelar RUPS Tahunan, PT Pelindo Solusi Maritim Catat Pertumbuhan Kinerja Positif pada 2025

2 Juli 2026 - 13:06 WIB

Yayasan HAkA Dampingi Perempuan Beutong Bersatu Bangun Kemandirian Ekonomi

2 Juli 2026 - 11:24 WIB

Pemko Subulussalam Dikritik: Ikut Kegiatan APEKSI di Medan di Tengah Keterbatasan Anggaran

2 Juli 2026 - 11:20 WIB

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Trending di SENI BUDAYA