Menu ✖

Mode Gelap
Pangkalan KPLP Tanjung Priok Kerahkan Kekuatan Armada Laut untuk Tangani Kebakaran KMP Batu Mandi di Selat Sunda ASDP Utamakan Keselamatan, Berhasil Evakuasi Seluruh Penumpang dan Awak KMP Batumandi Kemenhub Perkuat Layanan Kepelabuhanan di Kupang Fokus Penanganan Penumpang, Kemenhub Pastikan Penanggulangan Kebakaran KMP Batumandi Sekjen PBB Sambangi Hambalang, Prabowo Bahas Perdamaian Dunia dan Palestina Tarif Terjangkau, 14,16 Juta Pelanggan Manfaatkan KA PSO KAI hingga September 2026

RAGAM

Diskusi Budaya di Bekasi: Menimbang Sejarah Bubat, Antara Tafsir dan Kesadaran Kolektif

badge-check


 Diskusi Budaya di Bekasi: Menimbang Sejarah Bubat, Antara Tafsir dan Kesadaran Kolektif Perbesar

Wartatrans.com, BEKASI — Diskusi budaya yang menghadirkan praktisi jurnalis, budayawan, dan sastrawan berlangsung hangat di Kedai Wisata Sumur Alet, Kranggan, Kota Bekasi, Rabu (22/04/2026). Dalam suasana santai namun sarat gagasan, para peserta membahas pentingnya menghidupkan kembali tradisi literasi sejarah sebagai bagian dari kesadaran kebangsaan.

Acara tersebut dihadiri Ketua PJMI (Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia) Ismail Lutan, jurnalis Bachtiar, sastrawan Putra Gara, serta sejumlah jurnalis dan pegiat budaya lainnya. Diskusi mengerucut pada salah satu fragmen penting dalam sejarah Nusantara, yakni Perang Bubat yang melibatkan tokoh legendaris Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dan rombongan Kerajaan Sunda.

Bachtiar membuka diskusi dengan sudut pandang yang tak biasa. Ia mengaku pernah mendapatkan gambaran dalam mimpi yang menurutnya memberi perspektif berbeda terhadap peristiwa tersebut.

“Saya pernah diberi mimpi bahwa terjadinya Perang Bubat itu merupakan fitnah terhadap peran Gajah Mada, yang dituduh ingin memerangi iring-iringan Raja Sunda di Bubat,” ujarnya.

Ia menilai, sebagai seorang kesatria besar, Gajah Mada tidak mungkin melakukan tindakan yang mencoreng kehormatan seperti yang selama ini dituturkan dalam sebagian narasi sejarah.

Pandangan tersebut kemudian ditanggapi oleh sastrawan Putra Gara, yang dikenal kerap mengangkat tema sejarah dalam karya-karyanya. Menurutnya, sejarah harus dibaca secara kritis dan berimbang.

“Sejarah itu memang harus dilihat dari dua sisi, agar kita tidak merasa paling benar. Bisa jadi apa yang diimpikan Bachtiar memiliki makna, tetapi kita juga perlu merujuk pada sumber seperti Negarakertagama karya Mpu Prapanca,” kata Gara.

Ia menambahkan bahwa rujukan tersebut bukan untuk membenarkan satu versi, melainkan sebagai pembanding dalam memahami konteks dan sudut pandang penulis sejarah masa lampau. Negarakertagama sendiri merupakan kakawin yang ditulis pada abad ke-14 dan menjadi salah satu sumber penting mengenai kejayaan Majapahit, termasuk relasinya dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Dalam catatan sejarah, Perang Bubat yang terjadi sekitar tahun 1357 M kerap dipahami sebagai tragedi diplomatik yang berujung konflik antara Majapahit dan Kerajaan Sunda. Peristiwa ini tidak hanya berdampak secara politik, tetapi juga meninggalkan luka kultural yang masih terasa dalam memori kolektif masyarakat Sunda hingga kini.

Diskusi tersebut juga menyinggung pentingnya peran generasi kini dalam merawat sejarah lokal. Hal ini selaras dengan semangat tokoh publik Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang dikenal konsisten mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dan sejarah Sunda dalam berbagai kegiatan kebudayaan.

“Upaya tersebut dinilai penting sebagai bagian dari penguatan identitas dan karakter bangsa di tengah arus globalisasi,” ungkap Ismail Lutan menimpali.

Para peserta sepakat bahwa diskusi semacam ini perlu terus digalakkan. Selain sebagai ruang dialektika, kegiatan tersebut juga menjadi jembatan antara narasi sejarah, interpretasi budaya, dan kesadaran kritis masyarakat.

“Dengan mengedepankan dialog terbuka dan literasi yang kuat, sejarah tidak lagi sekadar menjadi catatan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih berakar dan berkarakter,” ungkap Ismail Lutan mengakhiri.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Catatan Iwan Piliang: Ketika Solusi Karhutla Terbentur Birokrasi

20 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Satpol PP Fakfak Beri Tenggat 3×24 Jam, Bangunan Liar di Pasar Kelapa Dua Terancam Dibongkar

20 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Bupati Fakfak Pimpin Sertijab Sekda Definitif Arif H. Rumagesan, Tekankan Sinergi OPD

20 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Jelang Akhir Tahun, TPK Koja Kembali Gelar Donor Darah Target 100 Pendonor

20 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Sewa Bus DAMRI, Pilihan Tepat untuk Perjalanan Bersama yang Nyaman

19 Oktober 2026 - 22:52 WIB

Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar

19 Oktober 2026 - 22:42 WIB

Persoalan Aceh Singkil Tak Kunjung Tuntas, Mahasiswa Kirim Petisi ke Presiden Prabowo

19 Oktober 2026 - 21:48 WIB

Dua Kali Tak Penuhi Panggilan KPK, Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa

19 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Cegah Abrasi Pantura Jawa, AHY Tanam Mangrove Berteknologi HexBricks

19 Oktober 2026 - 18:28 WIB

BKKP Kemenhub Catat Berbagai Prestasi Strategis

19 Oktober 2026 - 18:26 WIB

Trending di ANJUNGAN