Wartatrans.com, AMBON – Perjalanan panjang mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh meninggalkan kesan yang mendalam bagi Yanto, peserta asal Kabupaten Buru Selatan, Maluku. Setelah menempuh perjalanan selama sepekan dan mengikuti rangkaian kegiatan sastra selama delapan hari di Aceh, ia akhirnya tiba dengan selamat di Bandara Pattimura, Ambon, sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya di Desa Hote, Kecamatan Waesama, Kabupaten Buru Selatan.
“Alhamdulillah wasyukurillah, saya tiba dengan selamat di Bandara Pattimura. Terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kak Novi MR, Bang Mahlizar Safdi, seluruh panitia, LO, para volunteer, panitia Aceh Tengah, Bireuen, Aceh Besar, para sesepuh, datuk, maestro sastra dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, serta para sahabat sastrawan dari berbagai daerah yang telah memberikan perhatian dan pelayanan luar biasa selama kegiatan berlangsung,” ungkap Yanto.

Menurutnya, pengalaman mengikuti PPN XIV Aceh bukan hanya memperkaya wawasan sastra, tetapi juga mempertemukannya dengan nilai-nilai keislaman, adat, dan budaya masyarakat Aceh yang sangat kuat. Sebelum berangkat, ia mengaku memiliki berbagai kekhawatiran karena baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Rencong. Namun seluruh kekhawatiran itu sirna setelah merasakan langsung keramahan masyarakat Aceh.
Selama berada di Banda Aceh, Bireuen, hingga Takengon, Aceh Tengah, Yanto mengaku terpesona oleh kekayaan budaya, tradisi, dan alam Aceh. Perjalanan darat sejauh sekitar 400 kilometer menuju dataran tinggi Gayo menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ia menyaksikan secara langsung keindahan Danau Lut Tawar, Bur Telege, hutan cemara, hingga hamparan perkebunan Kopi Arabika Gayo yang telah mendunia.
Baginya, Tanah Gayo tidak hanya dikenal sebagai penghasil kopi terbaik dunia, tetapi juga memiliki tradisi sastra lisan yang kuat melalui Didong, yang menjadi bukti kokohnya peradaban Islam dan budaya masyarakat setempat.
Usai seluruh rangkaian kegiatan, Yanto kembali ke Banda Aceh dan bertolak melalui Bandara Sultan Iskandar Muda menuju Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke Ambon. Setelah tiba di Ambon, ia masih harus melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau Buru Selatan.
Yanto berharap pengalaman mengikuti PPN XIV Aceh menjadi titik awal berkembangnya kegiatan sastra di Kabupaten Buru Selatan, khususnya di SMKN 10 Buru Selatan, tempat dirinya mengabdi sebagai guru.
Ia juga berharap perhatian terhadap pengembangan sastra semakin besar, termasuk dari Badan Bahasa Provinsi Maluku, agar ruang-ruang kreativitas bagi para penyair dan sastrawan muda terus tumbuh.
“Sastra tidak akan hilang bersama penyair selama kata-kata masih menjadi tujuan kebaikan dan kemanusiaan di bumi,” ujarnya.
Menutup refleksinya, Yanto menyebut PPN XIV Aceh sebagai penyelenggaraan yang luar biasa dan membekas di hati.
“PPN XIV Aceh luar biasa, keren, berkesan, tenang sampai ke qalbu. Semoga kita dapat kembali bertemu dalam pertemuan-pertemuan sastra berikutnya,” tutupnya.Bila diinginkan, berita ini juga dapat disusun dengan gaya jurnalistik media cetak lengkap dengan lead 5W+1H dan kutipan langsung yang lebih kuat.*** (Jasa)



