Menu

Mode Gelap
Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

SENI BUDAYA

Dari Saung Ke Panggung, Belajar dari Alam Merawat Kesadaran

badge-check


 Dari Saung Ke Panggung, Belajar dari Alam Merawat Kesadaran Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Di tengah rutinitas pendidikan yang kerap menitikberatkan pada capaian angka, suasana belajar yang cair dan membumi justru menjadi barang langka. Di sebuah sekolah alam, pendekatan itu hadir—sunyi dari hiruk-pikuk ruang kelas konvensional, namun kaya akan pengalaman yang membekas.

Di bawah rindang pepohonan, siswa tidak sekadar duduk dan mendengar. Mereka bergerak, mengamati, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan. Metode observasi menjadi pintu masuk. Pohon, rumput, hingga benda-benda sederhana di sekitar menjadi objek belajar. Dari situ, siswa mencatat, mengolah, lalu merangkai hasil pengamatan dalam bentuk tulisan maupun presentasi.

Sekilas tampak sederhana. Namun, di situlah inti pembelajaran bekerja. Observasi melatih fokus, kepekaan terhadap detail, sekaligus kemampuan memahami lingkungan secara lebih utuh. Pola pikir siswa perlahan terbentuk—tidak instan, melainkan melalui proses yang mereka alami sendiri.

“Hal itu cukup memupuk rasa percaya diri mereka,” kata Sahrul Muhamad Dafa, guru yang mengembangkan pendekatan tersebut.

Bagi sebagian siswa, berbicara di depan umum bukan perkara mudah. Namun, ketika mereka diminta mempresentasikan hasil pengamatan, keberanian itu tumbuh sedikit demi sedikit. Prosesnya tidak selalu mulus, tetapi justru di situlah pembelajaran menemukan maknanya.

Pendekatan ini tidak berhenti pada observasi. Unsur seni turut dihadirkan sebagai medium pembelajaran. Daun-daun kering disusun menjadi kolase, ranting kecil diolah menjadi properti artistik, sementara poster dan karya visual menjadi cara lain memahami materi. Dari tangan siswa, benda-benda sederhana menjelma menjadi karya yang sarat makna.

Yang ditekankan bukan hasil akhir, melainkan proses. Siswa tidak sekadar menerima materi, tetapi terlibat langsung: menggunting, menyusun, menempel, hingga mempresentasikan karya mereka. Aktivitas-aktivitas ini membangun pengalaman belajar yang personal dan mendalam.

Di titik itu, ruang belajar menjadi lebih manusiawi. Siswa belajar bahwa proses sering kali lebih penting daripada hasil. Mereka juga belajar mengenali diri—sebuah hal yang kerap terabaikan dalam sistem pendidikan yang serba cepat.

Dafa, yang memiliki latar belakang seni, memandang pembelajaran sebagai ruang untuk membangun kesadaran. Bagi dia, seni bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan sarana pembentukan karakter. Kesadaran terhadap diri sendiri, lingkungan, dan orang lain menjadi fondasi yang ingin ia tanamkan.

Pendekatan ini terasa relevan di tengah tekanan akademik dan distraksi yang dihadapi pelajar hari ini. Tidak sedikit siswa datang ke sekolah dengan beban yang tak kasat mata—kehilangan percaya diri, kelelahan, hingga kesulitan mengekspresikan diri. Di ruang belajar yang dekat dengan alam, seni dihadirkan sebagai ruang aman.

Pada akhirnya, metode boleh beragam. Namun, bagi Dafa, tujuan utamanya tetap satu: menumbuhkan kesadaran dalam diri setiap pelajar.

“Terbuka terhadap berbagai metode pembelajaran dan terus meningkatkan literasi,” ujarnya, menutup.***

Aisya Putri Sembodo, murid SMAIT Raflesia – Depok, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Guruh Sukarno Putra Galang Dana untuk Anak Penyintas Kanker Lewat “Untuk Indonesia”

22 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

21 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur

21 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Ketua BFLF Dampingi Putri Pariwisata Aceh 2026 Raih Dukungan Forkopimda Lhokseumawe

21 Agustus 2026 - 16:02 WIB

SBY Art Community Menggelar Pameran Lukisan, Dibuka Gubernur Pramono Anung

20 Agustus 2026 - 07:25 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Maknai Kemerdekaan RI, InJourney Group Hadirkan Kesenian Rakyat

18 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Trending di EKOBIS