Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

SENI BUDAYA

Dari Saung Ke Panggung, Belajar dari Alam Merawat Kesadaran

badge-check


 Dari Saung Ke Panggung, Belajar dari Alam Merawat Kesadaran Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Di tengah rutinitas pendidikan yang kerap menitikberatkan pada capaian angka, suasana belajar yang cair dan membumi justru menjadi barang langka. Di sebuah sekolah alam, pendekatan itu hadir—sunyi dari hiruk-pikuk ruang kelas konvensional, namun kaya akan pengalaman yang membekas.

Di bawah rindang pepohonan, siswa tidak sekadar duduk dan mendengar. Mereka bergerak, mengamati, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan. Metode observasi menjadi pintu masuk. Pohon, rumput, hingga benda-benda sederhana di sekitar menjadi objek belajar. Dari situ, siswa mencatat, mengolah, lalu merangkai hasil pengamatan dalam bentuk tulisan maupun presentasi.

Sekilas tampak sederhana. Namun, di situlah inti pembelajaran bekerja. Observasi melatih fokus, kepekaan terhadap detail, sekaligus kemampuan memahami lingkungan secara lebih utuh. Pola pikir siswa perlahan terbentuk—tidak instan, melainkan melalui proses yang mereka alami sendiri.

“Hal itu cukup memupuk rasa percaya diri mereka,” kata Sahrul Muhamad Dafa, guru yang mengembangkan pendekatan tersebut.

Bagi sebagian siswa, berbicara di depan umum bukan perkara mudah. Namun, ketika mereka diminta mempresentasikan hasil pengamatan, keberanian itu tumbuh sedikit demi sedikit. Prosesnya tidak selalu mulus, tetapi justru di situlah pembelajaran menemukan maknanya.

Pendekatan ini tidak berhenti pada observasi. Unsur seni turut dihadirkan sebagai medium pembelajaran. Daun-daun kering disusun menjadi kolase, ranting kecil diolah menjadi properti artistik, sementara poster dan karya visual menjadi cara lain memahami materi. Dari tangan siswa, benda-benda sederhana menjelma menjadi karya yang sarat makna.

Yang ditekankan bukan hasil akhir, melainkan proses. Siswa tidak sekadar menerima materi, tetapi terlibat langsung: menggunting, menyusun, menempel, hingga mempresentasikan karya mereka. Aktivitas-aktivitas ini membangun pengalaman belajar yang personal dan mendalam.

Di titik itu, ruang belajar menjadi lebih manusiawi. Siswa belajar bahwa proses sering kali lebih penting daripada hasil. Mereka juga belajar mengenali diri—sebuah hal yang kerap terabaikan dalam sistem pendidikan yang serba cepat.

Dafa, yang memiliki latar belakang seni, memandang pembelajaran sebagai ruang untuk membangun kesadaran. Bagi dia, seni bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan sarana pembentukan karakter. Kesadaran terhadap diri sendiri, lingkungan, dan orang lain menjadi fondasi yang ingin ia tanamkan.

Pendekatan ini terasa relevan di tengah tekanan akademik dan distraksi yang dihadapi pelajar hari ini. Tidak sedikit siswa datang ke sekolah dengan beban yang tak kasat mata—kehilangan percaya diri, kelelahan, hingga kesulitan mengekspresikan diri. Di ruang belajar yang dekat dengan alam, seni dihadirkan sebagai ruang aman.

Pada akhirnya, metode boleh beragam. Namun, bagi Dafa, tujuan utamanya tetap satu: menumbuhkan kesadaran dalam diri setiap pelajar.

“Terbuka terhadap berbagai metode pembelajaran dan terus meningkatkan literasi,” ujarnya, menutup.***

Aisya Putri Sembodo, murid SMAIT Raflesia – Depok, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Trending di SENI BUDAYA