Menu ✖

Mode Gelap
Pangkalan KPLP Tanjung Priok Kerahkan Kekuatan Armada Laut untuk Tangani Kebakaran KMP Batu Mandi di Selat Sunda ASDP Utamakan Keselamatan, Berhasil Evakuasi Seluruh Penumpang dan Awak KMP Batumandi Kemenhub Perkuat Layanan Kepelabuhanan di Kupang Fokus Penanganan Penumpang, Kemenhub Pastikan Penanggulangan Kebakaran KMP Batumandi Sekjen PBB Sambangi Hambalang, Prabowo Bahas Perdamaian Dunia dan Palestina Tarif Terjangkau, 14,16 Juta Pelanggan Manfaatkan KA PSO KAI hingga September 2026

SENI BUDAYA

Dari Saung Ke Panggung, Belajar dari Alam Merawat Kesadaran

badge-check


 Dari Saung Ke Panggung, Belajar dari Alam Merawat Kesadaran Perbesar

Wartatrans.com, DEPOK — Di tengah rutinitas pendidikan yang kerap menitikberatkan pada capaian angka, suasana belajar yang cair dan membumi justru menjadi barang langka. Di sebuah sekolah alam, pendekatan itu hadir—sunyi dari hiruk-pikuk ruang kelas konvensional, namun kaya akan pengalaman yang membekas.

Di bawah rindang pepohonan, siswa tidak sekadar duduk dan mendengar. Mereka bergerak, mengamati, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan. Metode observasi menjadi pintu masuk. Pohon, rumput, hingga benda-benda sederhana di sekitar menjadi objek belajar. Dari situ, siswa mencatat, mengolah, lalu merangkai hasil pengamatan dalam bentuk tulisan maupun presentasi.

Sekilas tampak sederhana. Namun, di situlah inti pembelajaran bekerja. Observasi melatih fokus, kepekaan terhadap detail, sekaligus kemampuan memahami lingkungan secara lebih utuh. Pola pikir siswa perlahan terbentuk—tidak instan, melainkan melalui proses yang mereka alami sendiri.

“Hal itu cukup memupuk rasa percaya diri mereka,” kata Sahrul Muhamad Dafa, guru yang mengembangkan pendekatan tersebut.

Bagi sebagian siswa, berbicara di depan umum bukan perkara mudah. Namun, ketika mereka diminta mempresentasikan hasil pengamatan, keberanian itu tumbuh sedikit demi sedikit. Prosesnya tidak selalu mulus, tetapi justru di situlah pembelajaran menemukan maknanya.

Pendekatan ini tidak berhenti pada observasi. Unsur seni turut dihadirkan sebagai medium pembelajaran. Daun-daun kering disusun menjadi kolase, ranting kecil diolah menjadi properti artistik, sementara poster dan karya visual menjadi cara lain memahami materi. Dari tangan siswa, benda-benda sederhana menjelma menjadi karya yang sarat makna.

Yang ditekankan bukan hasil akhir, melainkan proses. Siswa tidak sekadar menerima materi, tetapi terlibat langsung: menggunting, menyusun, menempel, hingga mempresentasikan karya mereka. Aktivitas-aktivitas ini membangun pengalaman belajar yang personal dan mendalam.

Di titik itu, ruang belajar menjadi lebih manusiawi. Siswa belajar bahwa proses sering kali lebih penting daripada hasil. Mereka juga belajar mengenali diri—sebuah hal yang kerap terabaikan dalam sistem pendidikan yang serba cepat.

Dafa, yang memiliki latar belakang seni, memandang pembelajaran sebagai ruang untuk membangun kesadaran. Bagi dia, seni bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan sarana pembentukan karakter. Kesadaran terhadap diri sendiri, lingkungan, dan orang lain menjadi fondasi yang ingin ia tanamkan.

Pendekatan ini terasa relevan di tengah tekanan akademik dan distraksi yang dihadapi pelajar hari ini. Tidak sedikit siswa datang ke sekolah dengan beban yang tak kasat mata—kehilangan percaya diri, kelelahan, hingga kesulitan mengekspresikan diri. Di ruang belajar yang dekat dengan alam, seni dihadirkan sebagai ruang aman.

Pada akhirnya, metode boleh beragam. Namun, bagi Dafa, tujuan utamanya tetap satu: menumbuhkan kesadaran dalam diri setiap pelajar.

“Terbuka terhadap berbagai metode pembelajaran dan terus meningkatkan literasi,” ujarnya, menutup.***

Aisya Putri Sembodo, murid SMAIT Raflesia – Depok, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

ISI Padangpanjang Jadi Panggung Diplomasi Budaya, Seniman Lima Negara Ramaikan FKI XIII

19 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Brotherhood of SANFFEST, Sineas Mancanegara Berbagi Ilmu Film di Sejumlah Daerah

19 Oktober 2026 - 12:52 WIB

15 Tahun Sastra Bulan Purnama, Merawat Persahabatan dan Menghidupkan Puisi di Era Digital

18 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Seluruh Academia Sabet Tiga Standing Ovation, Persaingan Top 12 D’Academy 8 Kian Ketat

17 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Dari Panggung Spanyol, Anak-Anak Indonesia Suarakan Perdamaian Dunia, Teater Tanah Air Borong Empat Penghargaan

17 Oktober 2026 - 08:22 WIB

Jakarta Kulminasi: Satu Hari Tanpa Bayangan, Ketika Seni Mengajak Warga Membaca Perubahan Kota

16 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Nina Nugroho Sulap Tenun Makassar Jadi Busana Modern, Filosofi Kehormatan dan Harmoni Jadi Inspirasi

16 Oktober 2026 - 05:36 WIB

Dwiki Dharmawan: Indonesia Tidak Kekurangan Talenta Musik

16 Oktober 2026 - 00:06 WIB

Sineas Palestina Ameen Nayfeh Tiba di Jakarta, Disambut Panitia SANFFEST 2026

15 Oktober 2026 - 20:41 WIB

Karena Dianggap Cacat Hukum, Yon Bayu Wahyono Desak Pemilihan Ulang DKJ, DPRD Jakarta Siap Panggil Pihak Terkait

15 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Trending di PERISTIWA