Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

SENI BUDAYA

Catatan Tentang Tubuh, Napas, dan Risiko dalam Membaca “Huesca”

badge-check


 Catatan Tentang Tubuh, Napas, dan Risiko dalam Membaca “Huesca” Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada satu masalah mendasar dalam tradisi pembacaan puisi kita: terlalu banyak kontrol, terlalu sedikit tubuh.

Yang disebut “deklamasi” itu, kalau dibedah secara teknis, sebenarnya hanyalah paket lama yang berisi beberapa hal: manipulasi intonasi yang berlebihan, jeda yang diprogram seperti tanda baca mekanis, dan artikulasi yang terlalu sadar diri. Hasil akhirnya bukan performa, tapi simulasi performa, sebuah vocal rendering yang kehilangan urgensi.

Puisi seperti “Huesca” tidak membutuhkan itu.

Ia bekerja dengan tegangan yang lebih sederhana tapi lebih berbahaya: direct address, repetisi emosional, dan kesadaran akan kematian yang tidak disamarkan oleh metafora kompleks. Lihat saja:

“Aku cemas bisa kehilangan kau

Aku cemas pada kecemasanku sendiri”

Secara struktural, ini adalah bentuk repetisi paralel, hampir seperti looping syntax. Tapi dalam praktik deklamasi konvensional, repetisi ini justru diperlakukan sebagai kesempatan untuk variasi intonasi, bukan intensifikasi makna.

Padahal, kalau dibaca secara flat affect, atau setidaknya dengan kontrol napas yang jujur, repetisi itu akan terasa seperti gangguan mental kecil yang tidak selesai. Dan di situlah kekuatannya.

Slam, dalam pengertian teknisnya, bukan sekadar gaya membaca yang lebih keras atau lebih ekspresif. Ia menggeser pusat dari textual authority ke performative embodiment.

Artinya: makna tidak hanya ada di kata, tapi di cara tubuh memproduksi kata itu.

Kalimat seperti:

“Dan jika untung malang menghamparkan

Aku dalam kuburan dangkal”

dalam mode deklamasi akan dibaca dengan penekanan dramatis pada “kuburan dangkal”, seolah-olah itu klimaks. Tapi dalam pendekatan slam, justru yang penting adalah distribusi napas, apakah baris itu diucapkan dalam satu tarikan, apakah ada micro-pause, apakah suara sedikit retak.

Dengan kata lain: bukan apa yang ditekankan, tapi bagaimana tubuh gagal menyembunyikan beban kalimat itu.

Masalah dengan gaya deklamator adalah obsesinya terhadap clarity of delivery. Semua harus terdengar jelas, bersih, terstruktur. Tapi “Huesca” tidak ditulis untuk kejelasan semacam itu.

Puisi ini punya temporal instability. Ia bergerak antara masa kini, ingatan, dan kemungkinan masa depan (kematian) tanpa transisi yang rapi. Dalam kerangka teknis, ini bisa dibaca sebagai bentuk collapsed temporality.

Namun, dalam praktik pembacaan yang terlalu dikontrol, semua itu dirapikan. Waktu diluruskan. Emosi disusun. Dan yang tersisa hanyalah narasi yang jinak.

Ada juga persoalan register.

Deklamasi cenderung memaksakan satu register tinggi, seolah semua puisi harus terdengar “penting”. Padahal “Huesca” justru bekerja karena ketegangan antara yang biasa dan yang ekstrem.

Baris seperti:

“Kenanglah, sayang, dengan mesra”

secara leksikal hampir banal. Ini bahasa cinta yang bisa muncul di mana saja. Tapi justru karena ditempatkan di dalam konteks perang, ia menghasilkan semantic dissonance, ketidakcocokan yang menyakitkan.

Dalam pembacaan slam, disonansi ini bisa dipertahankan, bahkan diperkuat, dengan tidak “menaikkan” register secara artifisial. Biarkan ia terdengar biasa. Hampir canggung.

Karena memang begitu cara cinta bekerja ketika berdekatan dengan kematian: tidak puitis, hanya mendesak.

Yang sering dilupakan adalah bahwa puisi ini ditulis dalam kondisi ekstrem, 8 Desember 1936. Itu bukan catatan kaki sejarah; itu bagian dari performative context.

Setiap pembacaan, secara teknis, adalah bentuk re-enactment. Tapi deklamasi mengubahnya menjadi recitation. Ada jarak aman antara pembaca dan teks.

Slam, setidaknya secara ideal, mencoba menghapus jarak itu. Atau minimal, memperlihatkan bahwa jarak itu ada.

Dan itu tidak nyaman. Ada dimensi komikal yang tidak bisa dihindari di sini, ketika baris:

“Jiwa di dunia yang hilang jiwa”

Dibacakan dengan vibrato berlebihan dan gesture tangan yang terlalu sadar panggung, kita masuk ke wilayah unintentional parody. Tragedi berubah menjadi karikatur.

Ini bukan salah teks. Ini kegagalan delivery system.

Dalam istilah performa: terjadi over-signification. Terlalu banyak sinyal emosional sehingga tidak ada yang benar-benar terbaca.

Yang menarik, pendekatan slam juga tidak bebas dari masalah. Ia bisa jatuh ke over-performance, ke gestur yang terlalu sadar akan audiens, ke ritme yang klise. Tapi setidaknya, ia mengakui bahwa pembacaan puisi adalah peristiwa tubuh, bukan sekadar transmisi teks.

Dan mungkin itu yang hilang dari tradisi deklamasi: risiko.

Risiko terdengar salah.

Risiko terlalu datar.

Risiko terlalu jujur.

Membaca “Huesca” bukan soal memilih gaya yang lebih modern atau lebih lama. Ini soal memahami materiality of language, bahwa kata-kata ini membawa beban yang tidak bisa sepenuhnya dikontrol.

Jika dibacakan tanpa pelindung teknik yang berlebihan, yang tersisa hanyalah struktur paling dasar:

sebuah suara,

yang mencoba mengatakan sesuatu sebelum semuanya berakhir.

Dan mungkin, secara teknis maupun manusiawi, itu sudah cukup.

Atau lebih tepatnya: itu satu-satunya yang pernah kita punya.*** (Irzi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Trending di SENI BUDAYA