Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

SENI BUDAYA

Film “Dowa Juseyo” Padukan Horor Urban Indonesia dan Korea Selatan

badge-check


 Film “Dowa Juseyo” Padukan Horor Urban Indonesia dan Korea Selatan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Industri perfilman Tanah Air kembali menghadirkan karya menarik melalui film horor berjudul Dowa Juseyo (Tolong Saya!). Film ini menawarkan pendekatan berbeda dengan memadukan cerita urban Indonesia dan Korea Selatan dalam satu narasi yang menegangkan sekaligus emosional.

Film tersebut digarap oleh sineas Erick Mulyono yang dikenal memiliki perhatian pada detail visual dan kekuatan cerita. Dalam proses kreatifnya, Erick tidak bekerja sendiri. Ia berkolaborasi erat dengan sang istri, Nucke Rachma, yang dipercaya menulis skenario film ini.

Kolaborasi pasangan ini menghadirkan nuansa yang lebih personal dalam penggarapan cerita. Naskah yang ditulis Nucke Rachma menghadirkan lapisan emosi yang kuat, sekaligus mengangkat ketegangan khas film horor dengan sentuhan budaya lintas negara.

Dowa Juseyo tidak sekadar menyuguhkan teror, tetapi juga merefleksikan dinamika kehidupan urban yang kerap bersinggungan dengan kepercayaan, trauma, dan misteri yang sulit dijelaskan secara logika. Perpaduan latar Indonesia dan Korea Selatan menjadi kekuatan utama film ini, menghadirkan atmosfer yang unik dan jarang ditemui dalam film horor lokal.

Kehadiran film ini diharapkan mampu memberikan warna baru bagi industri perfilman Indonesia, sekaligus memperluas jangkauan cerita horor yang tidak hanya berakar pada budaya lokal, tetapi juga membuka ruang kolaborasi internasional.

Dengan proses produksi yang telah memasuki tahap lanjutan, Dowa Juseyo digadang-gadang menjadi salah satu film horor yang layak dinantikan kehadirannya di layar lebar.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Trending di SENI BUDAYA