Menu

Mode Gelap
FLS3N SMA Kota Depok 2026: Panggung Ekspresi 500 Pelajar, Merawat Kreativitas dan Jejak Budaya Subkhi “Smart” Muralis Magelang Borong Prestasi April, Karya Dipuji Namun Tetap Dikritisi Chic’s Musik Luncurkan The Morbius, Harapan Baru Kebangkitan Grup Band Anak Muda KAI Catat Lonjakan Penumpang di Stasiun Rogojampi, Mobilitas Warga Kian Tinggi Hajatan FIFGROUP Hadir Meriah di Bekasi, Dirangkai Peresmian Gedung Baru dan Solar Panel Kick-Off KLIC FEST 2026 di Bundaran HI Meriah, Klaten Siap Jadi Pusat Festival Sepeda Dunia

SENI BUDAYA

Erick Mulyono Angkat Kearifan Lokal Lewat Film, Serukan Kesadaran Sejarah Budaya

badge-check


 Erick Mulyono Angkat Kearifan Lokal Lewat Film, Serukan Kesadaran Sejarah Budaya Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Komitmen sineas Erick Mulyono dalam mengangkat nilai-nilai lokal kembali ditegaskan dalam sebuah forum kebudayaan. Hal tersebut disampaikannya disela acara halal bihalal yang diselenggarakan oleh Persatuan Karyawan Film & Televisi Indonesia (KFT Indonesia) di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jumat (24/04/2026).

Dalam obrolan santai itu, Erick menekankan pentingnya peran film sebagai medium untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan budaya daerah. Ia menyebut, setiap wilayah di Indonesia memiliki kekayaan cerita yang layak diangkat ke layar lebar.

“Saya percaya setiap daerah punya cerita yang kuat. Film bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai itu kepada generasi sekarang,” ujar Erick.

Menurutnya, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi kultural. Oleh karena itu, ia memilih untuk menggarap film-film dengan pendekatan lokalitas yang mampu merefleksikan identitas masyarakat di berbagai daerah.

Pendekatan tersebut, lanjut Erick, membutuhkan riset yang mendalam agar cerita yang dihadirkan tetap autentik dan tidak kehilangan konteks sejarahnya. Ia ingin penonton tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Semangat itu juga tercermin dalam salah satu proyek filmnya, Dowa Juseyo, yang mengusung elemen lokal meski dikemas dalam nuansa lintas budaya Indonesia dan Korea Selatan.

“Film lokal harus bisa menyadarkan, bukan hanya menghibur. Ada tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan kembali sejarah serta budaya kita,” katanya lagi.

Acara halal bihalal yang digelar oleh KFT Indonesia tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus diskusi bagi para pelaku industri perfilman untuk memperkuat arah dan identitas sinema Indonesia ke depan.

Dengan konsistensi tersebut, Erick berharap karya-karya film Indonesia mampu menjadi medium yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat jati diri budaya bangsa.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

FLS3N SMA Kota Depok 2026: Panggung Ekspresi 500 Pelajar, Merawat Kreativitas dan Jejak Budaya

26 April 2026 - 16:03 WIB

Subkhi “Smart” Muralis Magelang Borong Prestasi April, Karya Dipuji Namun Tetap Dikritisi

26 April 2026 - 13:44 WIB

Chic’s Musik Luncurkan The Morbius, Harapan Baru Kebangkitan Grup Band Anak Muda

26 April 2026 - 12:30 WIB

Dari Saung Ke Panggung, Belajar dari Alam Merawat Kesadaran

25 April 2026 - 17:02 WIB

Novelis Nucke Rahma Siap berikan Hadiah 100 Novel Inspiratip kepada Peserta Diskusi Ngobrol Santai Bareng Kartini Film Musik dan Seni 

24 April 2026 - 14:37 WIB

Film “Dowa Juseyo” Padukan Horor Urban Indonesia dan Korea Selatan

24 April 2026 - 14:06 WIB

Diskusi Budaya di Bekasi: Menimbang Sejarah Bubat, Antara Tafsir dan Kesadaran Kolektif

23 April 2026 - 00:13 WIB

Kartun Satir Slamet Widodo Warnai JAKARTUN 2026

22 April 2026 - 10:17 WIB

Catatan Tentang Tubuh, Napas, dan Risiko dalam Membaca “Huesca”

22 April 2026 - 09:47 WIB

Band 7Dunia Visit to Bogor, Perkuat Promosi “Seandainya Engkau Tahu” Lewat Radio

22 April 2026 - 09:34 WIB

Trending di SENI BUDAYA