Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

SENI BUDAYA

Erick Mulyono Angkat Kearifan Lokal Lewat Film, Serukan Kesadaran Sejarah Budaya

badge-check


 Erick Mulyono Angkat Kearifan Lokal Lewat Film, Serukan Kesadaran Sejarah Budaya Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Komitmen sineas Erick Mulyono dalam mengangkat nilai-nilai lokal kembali ditegaskan dalam sebuah forum kebudayaan. Hal tersebut disampaikannya disela acara halal bihalal yang diselenggarakan oleh Persatuan Karyawan Film & Televisi Indonesia (KFT Indonesia) di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Jumat (24/04/2026).

Dalam obrolan santai itu, Erick menekankan pentingnya peran film sebagai medium untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan budaya daerah. Ia menyebut, setiap wilayah di Indonesia memiliki kekayaan cerita yang layak diangkat ke layar lebar.

“Saya percaya setiap daerah punya cerita yang kuat. Film bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai itu kepada generasi sekarang,” ujar Erick.

Menurutnya, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi kultural. Oleh karena itu, ia memilih untuk menggarap film-film dengan pendekatan lokalitas yang mampu merefleksikan identitas masyarakat di berbagai daerah.

Pendekatan tersebut, lanjut Erick, membutuhkan riset yang mendalam agar cerita yang dihadirkan tetap autentik dan tidak kehilangan konteks sejarahnya. Ia ingin penonton tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Semangat itu juga tercermin dalam salah satu proyek filmnya, Dowa Juseyo, yang mengusung elemen lokal meski dikemas dalam nuansa lintas budaya Indonesia dan Korea Selatan.

“Film lokal harus bisa menyadarkan, bukan hanya menghibur. Ada tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan kembali sejarah serta budaya kita,” katanya lagi.

Acara halal bihalal yang digelar oleh KFT Indonesia tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus diskusi bagi para pelaku industri perfilman untuk memperkuat arah dan identitas sinema Indonesia ke depan.

Dengan konsistensi tersebut, Erick berharap karya-karya film Indonesia mampu menjadi medium yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat jati diri budaya bangsa.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta PPN XIV Asal Maluku: Aceh Tinggalkan Kesan Mendalam, Sastra Tak Akan Hilang Selama Kata-kata Menjadi Jalan Kemanusiaan

2 Juli 2026 - 11:12 WIB

Yuli Riban, Perupa yang Mengabdikan Seni untuk Anak-anak Disabilitas

2 Juli 2026 - 11:02 WIB

Yuli Riban Art Class Gelar Pameran Seni Rupa Perupa Disabilitas Sambut Hari Anak Nasional 2026

2 Juli 2026 - 10:56 WIB

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Trending di SENI BUDAYA