Wartatrans.com, JAKARTA — Malam puncak Hari Puisi Nasional (HPN) 2026 di Taman Ismail Marzuki tak hanya diisi pembacaan puisi dan pertunjukan musikalisasi. Di sela rangkaian acara, seniman Arie Batubara tampil membawakan monolog puitik berdurasi lima menit—sebuah bentuk pertunjukan yang, menurut pengakuannya, justru baru pertama kali ia lakoni.
“Panitia, Mustafa Ismail, meminta saya membuat monolog puitik. Jujur, saya sendiri belum pernah benar-benar memahami bentuknya seperti apa,” kata Arie usai tampil.

Permintaan itu datang mendadak. Tanpa persiapan matang, Arie mengaku mengandalkan intuisi. Ia teringat pada puisi naratif “Cerita Buat Dien Tamaela”, lalu mengolahnya secara spontan menjadi monolog yang memadukan narasi, emosi, dan ritme puitik.
Hasilnya adalah pertunjukan yang cenderung improvisasional. Naskah yang ia tulis hanya sempat dibaca dua kali sebelum naik ke panggung. “Entah ngawur atau tidak, saya juga tidak tahu. Yang jelas, tidak ada latihan sebelumnya,” ujarnya, setengah berkelakar.
Di tengah keraguan itu, justru lahir performa yang terasa jujur. Arie menyampaikan monolognya dengan gaya bertutur yang mengalir, sesekali patah, namun tetap menjaga intensitas emosi. Penonton merespons dengan hening yang penuh perhatian—indikasi keterlibatan yang kerap menjadi ukuran keberhasilan pertunjukan sastra.
Kehadiran monolog puitik dalam panggung HPN menunjukkan kecenderungan baru dalam ekspresi sastra, yang tidak lagi terpaku pada pembacaan teks semata. Bentuk ini membuka ruang eksplorasi antara puisi, teater, dan performans, sekaligus menegaskan bahwa sastra hidup dalam berbagai kemungkinan medium.
Mustafa Ismail, selaku panitia, menyebut keterlibatan Arie sebagai upaya menghadirkan dinamika dalam acara. “Kami ingin memberi ruang bagi eksperimen, termasuk bentuk-bentuk yang belum mapan,” katanya.
Hari Puisi Nasional sendiri diperingati setiap 28 April untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar, tokoh penting dalam sejarah sastra Indonesia. Peringatan ini kerap diisi berbagai kegiatan lintas komunitas, dari diskusi hingga pertunjukan.
Di tengah rangkaian acara yang padat, penampilan Arie Batubara menjadi penanda bahwa spontanitas masih memiliki tempat dalam lanskap sastra kontemporer. Bahkan, dari sesuatu yang “ngarang-ngarang”, lahir kemungkinan baru dalam cara puisi dihidupkan di atas panggung.*** (PG)



























