Wartatrans.com, MAGELANG – Suasana syahdu menyambut para pengunjung yang memasuki Galeri Kampoeng Semar, Magelang, Jawa Tengah, tempat berlangsungnya pameran lukisan bersama bertajuk “Rembulan di Atas Borobudur.” Pameran ini menampilkan karya para perupa dari Asosiasi Pelukis Nusantara (Aspen) yang diketuai Kembang Sepatu.
Seniman dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Yogyakarta, Solo, Semarang, hingga Magelang turut ambil bagian, menghadirkan karya yang menggambarkan keindahan dan ketenangan Candi Borobudur dalam cahaya rembulan.

Pameran dibuka pada Minggu (7/12/2025) pukul 16.00 WIB dan dihadiri sejumlah pejabat serta tokoh budaya, antara lain Bupati Magelang Grengseng Pamuji, Direktur PT TWC Mardijono Nugroho, Kepala Lemdiklat Polri Komjen Pol Prof Dr Chryshnanda Dwilaksana, serta jajaran dewan pakar dan pembina Aspen.
Direktur Seni Rupa dan Pertunjukan Kemenparekraf, Dr Dadam Mahdar, dalam sambutannya menyebut pameran ini sebagai “peristiwa budaya yang mempertemukan gagasan, imajinasi, dan identitas bangsa.”
Sementara itu Ketua Umum Aspen, Kembang Sepatu, mengapresiasi kolaborasi berbagai komunitas seni dan menyebut tema “Rembulan di Atas Borobudur” dipilih karena Borobudur dipandang sebagai ruang spiritual yang memancarkan keajaiban, terutama saat rembulan berada tepat di atas struktur candi.
Pembukaan pameran juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya Betawi seperti Ondel-ondel dan tari Topeng Geprak Betawi.
Prosesi simbolis menorehkan cat di atas kanvas dilakukan oleh sejumlah tokoh sebagai tanda pembukaan resmi dan simbol “membangkitkan cahaya” dalam ruang seni.
Sebanyak 36 pelukis berpartisipasi dalam pameran ini, menampilkan karya dari gaya realis hingga abstrak. Beberapa nama di antaranya Agus Salim, Hatmojo, Cecilia D Kristiari, I Made Wira Hadikesuma, Kembang Sepatu, Sarnadi Adam, Thomas Black Area, hingga Yunti Ars.
Karya-karya tersebut menafsirkan rembulan sebagai elemen estetis maupun spiritual, mengajak pengunjung memasuki suasana kontemplatif tentang hubungan manusia dengan alam dan sejarah.
Pada hari pembukaan, galeri dipadati pecinta seni, komunitas kreatif, masyarakat umum, hingga wisatawan yang tengah berkunjung ke kawasan Borobudur.
“Melihat lukisan-lukisan ini seperti sedang duduk di Borobudur pada malam hari,” ujar salah satu pengunjung.
Pameran ini tak hanya menonjolkan visual Borobudur, tetapi juga menyampaikan pesan spiritual dan budaya. Borobudur diposisikan sebagai simbol keteguhan peradaban, sementara rembulan menjadi metafora cahaya batin yang menyinari perjalanan manusia.
Pameran “Rembulan di Atas Borobudur” berlangsung hingga 30 Desember 2025 di Galeri Kampoeng Semar, Jl Kanggan, Tanjungan, Kecamatan Borobudur, Magelang. Penyelenggara berharap kegiatan ini memperkuat jejaring seniman dan memperkaya wacana seni rupa Indonesia yang terinspirasi dari situs budaya Nusantara.*** (Priyo)










