Menu

Mode Gelap
Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ Citilink Buka 2 Rute Baru Menuju Sumatera via Bandara Halim Sukses Kelola Komunikasi Berdampak, PNM Raih Tiga Penghargaan PR Indonesia Awards 2026 Tiga Titik Genangan Air di Jalur KA Daop 4 Semarang, KAI Lakukan Penyesuaian Perjalanan KAI Layani 622 Ribu Pelanggan dalam Tiga Hari Awal Libur Panjang Imlek 2026 KAI Services Latih Prama Prami Tingkatkan Pelayanan dan Penjualan Jelang Angkutan Lebaran

RAGAM

Tokoh Penggerak Masjid Jogokariyan, Kyai Jazir, Wafat

badge-check


 Tokoh Penggerak Masjid Jogokariyan, Kyai Jazir, Wafat Perbesar

Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Kabar wafatnya Kyai Jazir, tokoh sentral penggerak Masjid Jogokariyan Yogyakarta, menyebar cepat dan meninggalkan duka mendalam bagi umat. Kepergiannya tidak hanya dirasakan oleh jamaah tetap masjid, tetapi juga oleh banyak musafir, kaum dhuafa, dan masyarakat luas yang pernah merasakan langsung sentuhan kepedulian dan ketulusannya.

Semasa hidup, Kyai Jazir dikenal luas sebagai figur yang memaknai masjid lebih dari sekadar bangunan ibadah. Di bawah pengabdiannya, Masjid Jogokariyan tumbuh menjadi simbol masjid yang hidup—terbuka 24 jam, ramah bagi musafir, serta berpihak pada masyarakat kecil dan mereka yang membutuhkan.

Berbagai media kerap menyoroti kiprah beliau dalam membangun ekosistem masjid yang benar-benar memakmurkan umat. Masjid Jogokariyan hadir bukan hanya saat waktu shalat, tetapi juga ketika jamaah lapar, kelelahan di perjalanan, atau berada dalam kesulitan hidup. Tanpa banyak tanya, masjid menjadi tempat bernaung dan dapur harapan bagi siapa pun yang datang.

Salah satu prinsip yang kerap disampaikan Kyai Jazir adalah bahwa “saldo masjid harus nol di akhir hari.” Prinsip tersebut menjadi simbol bahwa harta masjid sejatinya milik jamaah dan harus kembali kepada umat dalam bentuk pelayanan, kepedulian, dan kebermanfaatan sosial.

Kepedulian itu dibangun bukan melalui pencitraan, melainkan lewat konsistensi dan kerja sunyi. Dakwah yang beliau teladankan hadir melalui tindakan nyata—menghidupkan masjid sebagai pusat spiritual sekaligus pusat kemanusiaan.

Kepergian Kyai Jazir meninggalkan warisan yang tak kasat mata namun terasa kuat: budaya masjid yang ramah, sistem kepedulian sosial yang terstruktur, serta teladan pengabdian yang menginspirasi banyak masjid di berbagai daerah di Indonesia.

Atas wafatnya tokoh yang telah mendedikasikan hidupnya bagi kemakmuran masjid dan umat ini, duka cita mendalam mengalir dari berbagai kalangan. Doa dipanjatkan agar Allah SWT menerima seluruh amal kebaikannya, melapangkan kuburnya, dan menjadikan setiap jejak pengabdiannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir melalui Masjid Jogokariyan dan jamaah yang melanjutkan perjuangannya.*** (Eka Munandar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ

16 Februari 2026 - 14:38 WIB

Sukses Kelola Komunikasi Berdampak, PNM Raih Tiga Penghargaan PR Indonesia Awards 2026

16 Februari 2026 - 14:24 WIB

MADEENA & Jagawana Band Ramaikan Blantika Musik Tanah Air Lewat Single “CANDU”

16 Februari 2026 - 10:44 WIB

Sesuaikan Selera Jemaah Haji, Kemenhaj Pastikan Standar Dapur di Makkah Bercita Rasa Nusantara

16 Februari 2026 - 09:22 WIB

DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah Apresiasi Bantuan Sapi Meugang Presiden dan Gubernur Aceh

15 Februari 2026 - 23:10 WIB

Trending di PERISTIWA