Wartatrans.com, YOGYAKARTA — Kabar wafatnya Kyai Jazir, tokoh sentral penggerak Masjid Jogokariyan Yogyakarta, menyebar cepat dan meninggalkan duka mendalam bagi umat. Kepergiannya tidak hanya dirasakan oleh jamaah tetap masjid, tetapi juga oleh banyak musafir, kaum dhuafa, dan masyarakat luas yang pernah merasakan langsung sentuhan kepedulian dan ketulusannya.
Semasa hidup, Kyai Jazir dikenal luas sebagai figur yang memaknai masjid lebih dari sekadar bangunan ibadah. Di bawah pengabdiannya, Masjid Jogokariyan tumbuh menjadi simbol masjid yang hidup—terbuka 24 jam, ramah bagi musafir, serta berpihak pada masyarakat kecil dan mereka yang membutuhkan.

Berbagai media kerap menyoroti kiprah beliau dalam membangun ekosistem masjid yang benar-benar memakmurkan umat. Masjid Jogokariyan hadir bukan hanya saat waktu shalat, tetapi juga ketika jamaah lapar, kelelahan di perjalanan, atau berada dalam kesulitan hidup. Tanpa banyak tanya, masjid menjadi tempat bernaung dan dapur harapan bagi siapa pun yang datang.
Salah satu prinsip yang kerap disampaikan Kyai Jazir adalah bahwa “saldo masjid harus nol di akhir hari.” Prinsip tersebut menjadi simbol bahwa harta masjid sejatinya milik jamaah dan harus kembali kepada umat dalam bentuk pelayanan, kepedulian, dan kebermanfaatan sosial.
Kepedulian itu dibangun bukan melalui pencitraan, melainkan lewat konsistensi dan kerja sunyi. Dakwah yang beliau teladankan hadir melalui tindakan nyata—menghidupkan masjid sebagai pusat spiritual sekaligus pusat kemanusiaan.
Kepergian Kyai Jazir meninggalkan warisan yang tak kasat mata namun terasa kuat: budaya masjid yang ramah, sistem kepedulian sosial yang terstruktur, serta teladan pengabdian yang menginspirasi banyak masjid di berbagai daerah di Indonesia.
Atas wafatnya tokoh yang telah mendedikasikan hidupnya bagi kemakmuran masjid dan umat ini, duka cita mendalam mengalir dari berbagai kalangan. Doa dipanjatkan agar Allah SWT menerima seluruh amal kebaikannya, melapangkan kuburnya, dan menjadikan setiap jejak pengabdiannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir melalui Masjid Jogokariyan dan jamaah yang melanjutkan perjuangannya.*** (Eka Munandar)










