Menu

Mode Gelap
KA Ekonomi Kerakyatan Pasar Senen–Lempuyangan Laris Manis, Okupansi Konsisten 100 Persen Razan Ikhsyan: Catatan Ramadhan di Madinah (3) PTP Nonpetikemas Terima Penghargaan di Ajang 15th Anugerah BUMN 2026 Dampak Perbaikan Dermaga Bajoe, ASDP Alihkan Operasional Lintasan Siwa–Kolaka Menhub Dudy Beberkan Kesiapan Infrastruktur dan Layanan Transportasi Angleb InJourney Airports Hadirkan Customer Experience di Ramadhan dan Libur Lebaran

RAGAM

7 Tipe Teman yang Baiknya Dihindarkan

badge-check


 7 Tipe Teman yang Baiknya Dihindarkan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada fakta yang cukup mengejutkan namun jarang dibicarakan. Menurut riset psikologi sosial, kualitas pertemanan yang buruk bisa menurunkan tingkat kebahagiaan lebih besar daripada tekanan pekerjaan. Artinya, orang yang salah bisa menjadi penghambat hidupmu tanpa mereka melakukan apa pun selain hadir dalam keseharianmu. Pertemanan seharusnya memperkuat, bukan mengikis kemampuanmu melihat diri sendiri dengan jernih.

Dalam keseharian, kamu mungkin pernah merasa lelah setelah bertemu seseorang padahal tidak terjadi konflik apa pun. Ada pula teman yang kamu tahu tidak baik untukmu, tapi kamu bertahan karena faktor kedekatan emosional. Situasi seperti ini membuat banyak orang terjebak dalam lingkaran hubungan yang menguras energi. Itulah kenapa memahami tipe pertemanan yang harus dijauhi menjadi langkah awal untuk menjaga kewarasan.

1. Teman yang hanya datang saat butuh

Tipe ini sangat mudah dikenali. Mereka muncul ketika membutuhkan bantuan, perhatian, atau dukungan emosional, tetapi menghilang ketika kamu memerlukan hal yang sama. Kamu bisa menolongnya berkali kali, namun ketika kamu sedang terpuruk, mereka memberi alasan sibuk atau pura pura tidak tahu. Dalam jangka panjang, relasi seperti ini menciptakan ketimpangan yang membuatmu merasa digunakan tanpa dihargai.

Contoh sehari hari muncul ketika kamu selalu menjadi tempat bercerita bagi mereka, namun ketika kamu bercerita, mereka seperti tidak punya ruang mendengarkan. Cara terbaik menghadapi situasi ini adalah mulai mengatur jarak emosional dan memberi batasan tegas terhadap seberapa banyak energi yang kamu investasikan. Kamu layak memiliki hubungan yang saling menguatkan, bukan yang hanya menguras.

2. Teman yang meremehkan pencapaianmu

Ada teman yang pura pura memberi dukungan tetapi selalu menyisipkan komentar halus yang meremehkan. Ketika kamu mendapat prestasi kecil, mereka menganggap itu hal biasa. Ketika kamu berhasil mencapai sesuatu yang besar, mereka bilang kamu hanya beruntung. Komentar seperti ini tidak hanya menyakitkan, tetapi juga merusak persepsi dirimu terhadap kemampuanmu sendiri.

Dalam kehidupan sehari hari, komentar seperti ini muncul dalam bentuk candaan yang terlihat ringan namun menyimpan rasa iri. Kamu bisa tetap ramah, tetapi jangan biarkan suara mereka menentukan bagaimana kamu menilai dirimu. Fokuskan perhatian pada orang yang tulus menghargai prosesmu.

3. Teman yang suka membawa drama

Ada orang yang hidupnya selalu dipenuhi masalah karena mereka menikmati menjadi pusat konflik. Mereka datang dengan cerita yang selalu rumit, memancing emosi, dan menarikmu masuk ke dalam pusaran drama yang tidak ada habisnya. Kamu awalnya memberi dukungan, tetapi lama lama merasa kewalahan dan kehilangan waktu produktif.

Misalnya, setiap pertemuan selalu berubah menjadi sesi curhat yang berakhir dengan keributan baru. Hubungan seperti ini membuat pikiranmu tidak pernah tenang. Menjaga jarak dari mereka bukan berarti kamu tidak peduli, tetapi kamu sedang menjaga ketenangan mentalmu agar bisa hidup lebih stabil.

4. Teman yang terlalu kompetitif

Persaingan sehat itu wajar, tetapi ada teman yang menjadikan setiap hal sebagai perlombaan. Jika kamu membeli barang baru, mereka buru buru membeli yang lebih mahal. Jika kamu mendapat kesempatan kerja, mereka membandingkan pencapaiannya. Kamu tidak sedang berteman, kamu sedang tanpa sadar ikut perlombaan yang tidak kamu setujui.

Perilaku seperti ini terlihat ketika setiap cerita tentang kebahagiaanmu berubah menjadi kesempatan bagi mereka untuk memamerkan sesuatu. Kamu bisa menahan diri untuk tidak terlalu membuka diri dan menjaga fokus pada apa yang kamu anggap penting. Hidup bukan kompetisi, dan kamu tidak perlu masuk arena yang mereka bangun sendiri.

5. Teman yang menyebarkan energi negatif

Beberapa orang selalu melihat sisi buruk dari segala hal. Mereka mengeluh, mengomel, dan memandang dunia dengan kacamata pesimis yang membebani. Menghabiskan waktu dengan mereka membuatmu ikut merasa berat, seolah dunia selamanya tidak adil. Dampaknya, kamu menjadi ragu mengambil keputusan atau memulai hal baru karena terinfeksi pesimisme mereka.

Contoh sehari hari misalnya ketika kamu berbagi ide kecil dan respons mereka selalu berupa kekhawatiran berlebihan. Kamu bisa tetap menghargai pandangan mereka, tetapi lebih baik membatasi intensitas pertemuan agar energimu tidak terkuras.

6. Teman yang tidak menghargai batasan

Tipe ini sering memaksakan waktu, perhatian, dan emosimu tanpa mempertimbangkan situasimu. Mereka menghubungi kapan saja, meminta ditemani dalam situasi yang tidak mendesak, dan marah ketika kamu berkata tidak. Ini membuatmu sulit bernapas sebagai individu yang punya kehidupan sendiri.

Contohnya ketika kamu sibuk bekerja tetapi mereka menuntutmu untuk mengobrol panjang. Perlahan kamu bisa menunjukkan bahwa batasan bukan bentuk penolakan, melainkan cara sehat menjaga hubungan agar tetap stabil. Orang yang dewasa akan memahami, sementara yang tidak akan menjauh dengan sendirinya.

7. Teman yang tidak bisa dipercaya

Tipe terakhir adalah mereka yang sering membocorkan cerita pribadimu atau memanipulasi informasi demi kepentingan mereka. Dalam hubungan pertemanan, kepercayaan adalah pondasi. Begitu pondasi retak, hubungan menjadi rapuh. Jika seseorang membocorkan rahasia kecil, bukan tidak mungkin mereka melakukan hal yang lebih besar.

Kehidupan sehari hari memberi banyak contoh, seperti teman yang menyebarkan cerita tanpa izin atau memelintir fakta agar terlihat baik. Cara terbaik melindungi diri adalah tidak memberikan informasi penting kepada mereka dan perlahan memahami bahwa menjauh adalah langkah yang paling sehat.*** (Ham)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Razan Ikhsyan: Catatan Ramadhan di Madinah (3)

11 Maret 2026 - 23:13 WIB

Komunitas TDA Gelar Sharing Inspirasi dan Buka Puasa Bersama di Takengon

11 Maret 2026 - 16:15 WIB

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Mengajak Wartawan Ikut Membangun Wilayahnya

11 Maret 2026 - 14:35 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Siap Mendukung Kelancaran Angkutan Lebaran 2026

11 Maret 2026 - 11:22 WIB

Walikota Semarang Agustina Wilujeng Melantik Sekaligus 354 Pejabat Eselon III dan IV

11 Maret 2026 - 11:10 WIB

Komnas HAM RI Dalami Aksi Demo dan Segel Kantor Komnas HAM Sulteng

11 Maret 2026 - 10:55 WIB

Mantap, Tenaga Ahli Meruorah Terjun jadi Penguji di UKK SMK Negeri 1 Labuan Bajo

11 Maret 2026 - 10:04 WIB

Berbagi di Bulan Ramadhan: Pelindo Solusi Digital Hadirkan Kegembiraan di Panti Asuhan Bersama Anak Yatim

11 Maret 2026 - 06:21 WIB

Zakat Pekerja IPC TPK Jangkau Mustahik di Palestina dan Jakarta Utara

11 Maret 2026 - 05:52 WIB

Razan Ikhsyan: Catatan Ramadan dari Madinah, Syahdunya Kota Nabi (2)

11 Maret 2026 - 00:04 WIB

Trending di RAGAM