Wartatrans.com, JAKARTA – Kecerdasan buatan (AI), diagnostik presisi, robotik, hingga digitalisasi rumah sakit menjadi penggerak baru transformasi industri kesehatan Indonesia.
Perkembangan teknologi tersebut menjadi sorotan dalam INDO Healthcare Gakeslab Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 5–7 Agustus, yang mempertemukan produsen alat kesehatan, rumah sakit, distributor, dan pelaku teknologi medis.

Pameran tersebut menghadirkan lebih dari 200 exhibitor dari sekitar 30 negara dengan target lebih dari 15.000 pengunjung.
Berbagai inovasi ditampilkan, mulai dari sistem pencitraan medis berbasis AI, perangkat laboratorium otomatis, teknologi point-of-care testing, hingga solusi digital untuk meningkatkan efisiensi layanan rumah sakit.
Potensi industri kesehatan nasional terus membesar seiring meningkatnya kebutuhan layanan medis.
Kementerian Kesehatan mencatat sektor jasa kesehatan tumbuh sekitar 7,6% pada triwulan I 2026, menjadikannya salah satu kontributor pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada periode yang sama, pemerintah juga mencatat industri alat kesehatan tumbuh sekitar 12%, menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap produk dan layanan kesehatan berbasis teknologi.
Dari sisi pasar, riset U.S. Commercial Service memperkirakan nilai pasar alat kesehatan Indonesia mencapai sekitar US$2,78 miliar pada 2025.
Namun, tantangan terbesar masih berada pada penguasaan teknologi tinggi karena peralatan medis canggih seperti perangkat diagnostik lanjutan masih banyak bergantung pada produk impor.
Kondisi tersebut membuat pengembangan teknologi kesehatan menjadi agenda strategis.
AI dan diagnostik presisi dinilai mampu membantu tenaga medis mempercepat identifikasi penyakit, meningkatkan akurasi keputusan klinis, serta mengoptimalkan pengelolaan data pasien.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, saat membuka Konferensi Nasional AI Kesehatan di Jakarta, Senin (8/6/2026), pemanfaatan AI harus berjalan dengan tata kelola yang kuat agar inovasi tetap mengutamakan keselamatan pasien.
“Inovasi tanpa tata kelola adalah risiko. Dan tata kelola tanpa inovasi adalah stagnasi,” ujar Dante.
Menurutnya, AI memiliki peluang besar untuk mempercepat diagnosis dan membantu pengolahan data kesehatan dalam skala besar.
Namun, penerapannya harus disertai regulasi, etika, akuntabilitas, serta perlindungan data pasien.
Sementara itu, peneliti kesehatan sekaligus Founder Health Collaborative Center, Dr. Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan fungsi pemanfaatan AI kesehatan, pada Juni 2026.
“AI harus ditempatkan sebagai clinical decision support, bukan menggantikan dokter. Teknologii itu berfungsi membantu analisis klinis, sedangkan keputusan diagnosis dan terapi, ya tetap menjadi kewenangan tenaga medis,” terangnya.
Dari sisi industri, CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan dalam penyelenggaraan Indo Healthcare GAKESLAB Expo sebelumnya bahwa pameran menjadi ruang kolaborasi bagi produsen, fasilitas kesehatan, dan mitra bisnis untuk memperkenalkan inovasi teknologi medis.
Perkembangan AI, diagnostik presisi, dan digitalisasi layanan kesehatan menjadi peluang besar bagi Indonesia.
Namun, percepatan inovasi tetap membutuhkan investasi, penguatan industri lokal, serta kemampuan memproduksi teknologi medis agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi. (Artha Tidar)































