Menu

Mode Gelap
Penjualan Tiket Whoosh Angkutan Lebaran 2026 Tunjukkan Tren Positif, Penumpang Diprediksi Naik 4 Persen Pastikan Kendaraan Dinas, Siap Digunakan Ops Ketupat Jaya 2026 & Sosialisasi 110  Pelindo Tetap Beroperasi Penuh Selama Masa Angkutan Lebaran 2026 Arus Kendaraan Mulai Meningkat di Pelabuhan Ketapang Ismi Melinda: Dari Mengandalkan Paras Cantik Hingga Menjadi Aktris Laga Mantap, 35 Kapal Nonstop Layani Arus Bali–Jawa Jelang Nyepi dan Lebaran

Uncategorized

Antalogi Puisi “Jendela Tanpa Kaca” Nestor Rico Tambunan, Arah Untuk Mengatasi Gelisah

badge-check


 Antalogi Puisi “Jendela Tanpa Kaca” Nestor Rico Tambunan, Arah Untuk Mengatasi Gelisah Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada buku puisi yang tak sekadar ingin dibaca, melainkan mengajak pembacanya berhenti sejenak—menarik napas, lalu menengok ke dalam diri. Jendela Tanpa Kaca adalah salah satunya. Sejak pengantar, buku ini sudah memberi isyarat kuat tentang peran puisi sebagai ruang pereda gelisah, sebagai sinyal batin agar kita menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih lembut dan berperasaan.

Kutipan dalam pengantar buku ini terasa seperti alarm yang bergaung di batin: bahwa membaca dan menulis puisi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Di tengah kebisingan politik, arus informasi yang bising, serta rasa pilu akibat bencana yang hadir nyaris tanpa jeda, puisi hadir sebagai jalan sunyi untuk kembali waras—tanpa mengingkari realitas.

Buku ini seakan berkata: tuliskan saja apa yang kita rasakan. Tidak perlu kata-kata gagah, gelap, atau rumit demi sebuah label “penyair”. Kejujuran rasa justru menjadi kekuatan utama. Kesederhanaan dikedepankan, namun tidak kehilangan kedalaman makna. Dalam pilihan kata yang jernih, pembaca diajak merasakan bahwa keindahan tidak selalu lahir dari metafora yang megah, tetapi dari keberanian menyentuh perasaan paling manusiawi.

Sebanyak 69 puisi di dalam Jendela Tanpa Kaca menjadi bukti bahwa kesahajaan bisa berbicara lantang. Puisi-puisi ini tidak menggurui, tidak pula berteriak. Ia hadir seperti bisikan—tenang, namun menetap. Dari sana, pembaca dapat menangkap arah: bahwa gelisah bukan untuk dilawan dengan amarah, melainkan dipeluk dan dipahami.

Buku ini pada akhirnya terasa seperti surat pribadi yang dibuka perlahan. Sebuah jendela tanpa kaca, tempat kita bisa memandang dunia apa adanya—tanpa penghalang, tanpa distorsi. Dan dari balik jendela itulah, penulis mengabarkan satu hal penting: selalu ada jalan untuk mengatasi gelisah, selama kita mau mendengarkan suara batin.

Melalui puisi-puisi ini, sang penyair – Nestor Rico Tambunan seakan menunjukan arah untuk kembali pada kehidupan yang hakiki—hening, jujur, dan manusiawi.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ismi Melinda: Dari Mengandalkan Paras Cantik Hingga Menjadi Aktris Laga

15 Maret 2026 - 13:57 WIB

Sahabat Safar Salurkan 42 Paket Lebaran untuk Penyintas Longsor di Aceh Tengah

15 Maret 2026 - 11:27 WIB

AJV Bahas Bahaya Uap Bensin di SPBU, Teknologi Penangkap VOCs Dinilai Jadi Solusi

15 Maret 2026 - 06:42 WIB

Hari Musik Nasional 2026 Jadi Momentum Refleksi Lewat Single “Diri Sebenarnya” Panji Sakti

14 Maret 2026 - 22:56 WIB

Okupansi KA Tembus 101 Persen, Tren Mudik Lebaran 2026 Mulai Terlihat, Hari Ini Lebih 166 Naik Kereta Api

14 Maret 2026 - 20:14 WIB

Nina Nugroho Luncurkan Koleksi Ramadan dan Raya 2026, Angkat Tenun Garut dan Busana Sarimbit

14 Maret 2026 - 19:53 WIB

Pertamina Patra Niaga Berikan Harga Khusus Avtur Dukung Kelancaran Penerbangan Masa Libur Idul Fitri 2026

14 Maret 2026 - 16:20 WIB

SEUSAMA Audiensi ke BPKH, Ajukan Pembangunan 15 Balai Pengajian di Aceh Utara

14 Maret 2026 - 16:09 WIB

Diskusi Tegaskan Pentingnya Musik dalam Film Horor

14 Maret 2026 - 13:04 WIB

Baim Wong Akui Sempat Bimbang Main di Film “Suamiku Lukaku”, Takut Dikaitkan dengan Isu Rumah Tangga

14 Maret 2026 - 12:10 WIB

Trending di SENI BUDAYA