Menu

Mode Gelap
Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota 38 Persen Transaksi QRIS Nasional Terpusat di Jakarta, Jadi Motor Ekonomi Sekaligus Sinyal Ketimpangan Digital 35 Negara dan Indonesia Adopsi Registrasi Biometrik, Pengamat: Tak Kebal Penipuan Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Daop 6 dan KAI Services Bergerak Cepat Lakukan Penanganan Konektivitas Kereta dan Pelabuhan Makin Diminati, Tiga Stasiun KAI Layani 3,88 Juta Pelanggan Semester I 2026 Harga Kopi Gayo Menguat, Petani Harapkan Stabilitas Pasar dan Dukungan Pemerintah

Uncategorized

Antalogi Puisi “Jendela Tanpa Kaca” Nestor Rico Tambunan, Arah Untuk Mengatasi Gelisah

badge-check


 Antalogi Puisi “Jendela Tanpa Kaca” Nestor Rico Tambunan, Arah Untuk Mengatasi Gelisah Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada buku puisi yang tak sekadar ingin dibaca, melainkan mengajak pembacanya berhenti sejenak—menarik napas, lalu menengok ke dalam diri. Jendela Tanpa Kaca adalah salah satunya. Sejak pengantar, buku ini sudah memberi isyarat kuat tentang peran puisi sebagai ruang pereda gelisah, sebagai sinyal batin agar kita menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih lembut dan berperasaan.

Kutipan dalam pengantar buku ini terasa seperti alarm yang bergaung di batin: bahwa membaca dan menulis puisi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Di tengah kebisingan politik, arus informasi yang bising, serta rasa pilu akibat bencana yang hadir nyaris tanpa jeda, puisi hadir sebagai jalan sunyi untuk kembali waras—tanpa mengingkari realitas.

Buku ini seakan berkata: tuliskan saja apa yang kita rasakan. Tidak perlu kata-kata gagah, gelap, atau rumit demi sebuah label “penyair”. Kejujuran rasa justru menjadi kekuatan utama. Kesederhanaan dikedepankan, namun tidak kehilangan kedalaman makna. Dalam pilihan kata yang jernih, pembaca diajak merasakan bahwa keindahan tidak selalu lahir dari metafora yang megah, tetapi dari keberanian menyentuh perasaan paling manusiawi.

Sebanyak 69 puisi di dalam Jendela Tanpa Kaca menjadi bukti bahwa kesahajaan bisa berbicara lantang. Puisi-puisi ini tidak menggurui, tidak pula berteriak. Ia hadir seperti bisikan—tenang, namun menetap. Dari sana, pembaca dapat menangkap arah: bahwa gelisah bukan untuk dilawan dengan amarah, melainkan dipeluk dan dipahami.

Buku ini pada akhirnya terasa seperti surat pribadi yang dibuka perlahan. Sebuah jendela tanpa kaca, tempat kita bisa memandang dunia apa adanya—tanpa penghalang, tanpa distorsi. Dan dari balik jendela itulah, penulis mengabarkan satu hal penting: selalu ada jalan untuk mengatasi gelisah, selama kita mau mendengarkan suara batin.

Melalui puisi-puisi ini, sang penyair – Nestor Rico Tambunan seakan menunjukan arah untuk kembali pada kehidupan yang hakiki—hening, jujur, dan manusiawi.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota

4 Juli 2026 - 21:00 WIB

Yatti Surachman Resmikan Kedai Seblak Prasmanan & Ayam Penyet Sambel Ijo Gacorrr di Cipayung

4 Juli 2026 - 15:29 WIB

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Krakatau Bergerak ke Barat, Belum Berdampak pada Bandara dan Jalur Penerbangan

4 Juli 2026 - 15:09 WIB

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Trending di ANJUNGAN