Wartatrans.com, JAKARTA — Ada buku puisi yang tak sekadar ingin dibaca, melainkan mengajak pembacanya berhenti sejenak—menarik napas, lalu menengok ke dalam diri. Jendela Tanpa Kaca adalah salah satunya. Sejak pengantar, buku ini sudah memberi isyarat kuat tentang peran puisi sebagai ruang pereda gelisah, sebagai sinyal batin agar kita menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih lembut dan berperasaan.
Kutipan dalam pengantar buku ini terasa seperti alarm yang bergaung di batin: bahwa membaca dan menulis puisi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Di tengah kebisingan politik, arus informasi yang bising, serta rasa pilu akibat bencana yang hadir nyaris tanpa jeda, puisi hadir sebagai jalan sunyi untuk kembali waras—tanpa mengingkari realitas.

Buku ini seakan berkata: tuliskan saja apa yang kita rasakan. Tidak perlu kata-kata gagah, gelap, atau rumit demi sebuah label “penyair”. Kejujuran rasa justru menjadi kekuatan utama. Kesederhanaan dikedepankan, namun tidak kehilangan kedalaman makna. Dalam pilihan kata yang jernih, pembaca diajak merasakan bahwa keindahan tidak selalu lahir dari metafora yang megah, tetapi dari keberanian menyentuh perasaan paling manusiawi.
Sebanyak 69 puisi di dalam Jendela Tanpa Kaca menjadi bukti bahwa kesahajaan bisa berbicara lantang. Puisi-puisi ini tidak menggurui, tidak pula berteriak. Ia hadir seperti bisikan—tenang, namun menetap. Dari sana, pembaca dapat menangkap arah: bahwa gelisah bukan untuk dilawan dengan amarah, melainkan dipeluk dan dipahami.
Buku ini pada akhirnya terasa seperti surat pribadi yang dibuka perlahan. Sebuah jendela tanpa kaca, tempat kita bisa memandang dunia apa adanya—tanpa penghalang, tanpa distorsi. Dan dari balik jendela itulah, penulis mengabarkan satu hal penting: selalu ada jalan untuk mengatasi gelisah, selama kita mau mendengarkan suara batin.
Melalui puisi-puisi ini, sang penyair – Nestor Rico Tambunan seakan menunjukan arah untuk kembali pada kehidupan yang hakiki—hening, jujur, dan manusiawi.*** (PG)









