Menu ✖

Mode Gelap
Kemenhub Terus Awasi Operasional Penerbangan di Tengah Dampak Karhutla Kemenhub Pantau Dampak Insiden di Riyadh, Penerbangan Langsung Indonesia-Arab Saudi Beroperasi Normal Pembiayaan Elektrifikasi Transjakarta Rp5,07 Triliun KAI Angkut 2,04 Juta Ton BBM hingga September 2026, Naik 3,92 Persen Tanjung Perak jadi Pelabuhan Uji Coba Pertama Penertiban Kendaraan ODOL Hendak Naik Kapal Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam

Uncategorized

Antalogi Puisi “Jendela Tanpa Kaca” Nestor Rico Tambunan, Arah Untuk Mengatasi Gelisah

badge-check


 Antalogi Puisi “Jendela Tanpa Kaca” Nestor Rico Tambunan, Arah Untuk Mengatasi Gelisah Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada buku puisi yang tak sekadar ingin dibaca, melainkan mengajak pembacanya berhenti sejenak—menarik napas, lalu menengok ke dalam diri. Jendela Tanpa Kaca adalah salah satunya. Sejak pengantar, buku ini sudah memberi isyarat kuat tentang peran puisi sebagai ruang pereda gelisah, sebagai sinyal batin agar kita menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih lembut dan berperasaan.

Kutipan dalam pengantar buku ini terasa seperti alarm yang bergaung di batin: bahwa membaca dan menulis puisi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Di tengah kebisingan politik, arus informasi yang bising, serta rasa pilu akibat bencana yang hadir nyaris tanpa jeda, puisi hadir sebagai jalan sunyi untuk kembali waras—tanpa mengingkari realitas.

Buku ini seakan berkata: tuliskan saja apa yang kita rasakan. Tidak perlu kata-kata gagah, gelap, atau rumit demi sebuah label “penyair”. Kejujuran rasa justru menjadi kekuatan utama. Kesederhanaan dikedepankan, namun tidak kehilangan kedalaman makna. Dalam pilihan kata yang jernih, pembaca diajak merasakan bahwa keindahan tidak selalu lahir dari metafora yang megah, tetapi dari keberanian menyentuh perasaan paling manusiawi.

Sebanyak 69 puisi di dalam Jendela Tanpa Kaca menjadi bukti bahwa kesahajaan bisa berbicara lantang. Puisi-puisi ini tidak menggurui, tidak pula berteriak. Ia hadir seperti bisikan—tenang, namun menetap. Dari sana, pembaca dapat menangkap arah: bahwa gelisah bukan untuk dilawan dengan amarah, melainkan dipeluk dan dipahami.

Buku ini pada akhirnya terasa seperti surat pribadi yang dibuka perlahan. Sebuah jendela tanpa kaca, tempat kita bisa memandang dunia apa adanya—tanpa penghalang, tanpa distorsi. Dan dari balik jendela itulah, penulis mengabarkan satu hal penting: selalu ada jalan untuk mengatasi gelisah, selama kita mau mendengarkan suara batin.

Melalui puisi-puisi ini, sang penyair – Nestor Rico Tambunan seakan menunjukan arah untuk kembali pada kehidupan yang hakiki—hening, jujur, dan manusiawi.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan

12 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

12 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

12 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Rocky Gerung Minta Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ingatkan Prabowo Jangan Terseret Polemik

12 Oktober 2026 - 16:40 WIB

CELIOS Merilis Menteri Terburuk dan Terbaik 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Siapa Saja?

12 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Indonesia Raih Kenaikan Kuota Tuna Sirip Biru Selatan 25 Persen, Jadi 1.670 Ton per Tahun

12 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Sambut Lima Abad Jakarta, Buku Kumpulan Cerpen Lebaran di Jakarta Hadirkan Jejak Budaya Betawi

12 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Aliansi Masyarakat Sipil Laporkan Proyek RS Pendidikan Untad Rp172 Miliar ke Kejati Sulteng

12 Oktober 2026 - 12:18 WIB

TPPAS Lulut Nambo dan Pengelolaan Sampah dari Hulu, H. Fikri Hudi Dorong Kolaborasi Masyarakat

12 Oktober 2026 - 11:10 WIB

​Karmila, Demisioner Presma Universitas Bumi Persada, Suarakan Aspirasi Pascabencana Aceh di Ajang Nasional Future Leaders Summit 2026

12 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Trending di RAGAM