Menu

Mode Gelap
Masyarakat Bepergian Melonjak, DAMRI Layani Puluhan Ribu Pelanggan pada Libur Panjang Bulan Agustus 2026 ⁠Pelindo dan BNN Bekali Pelajar Pengetahuan tentang Bahaya Narkoba Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara Citilink Salurkan 91,5 Ton Bantuan Gempa NTT melalui Delapan Penerbangan KKP Terbitkan Izin Pemanfaatan Air Laut untuk 16 Pembangkit PLN Nusantara Power JPL 183 Rangkasbitung Ditutup Permanen 4 September, Warga Dialihkan ke JPO

Uncategorized

Antalogi Puisi “Jendela Tanpa Kaca” Nestor Rico Tambunan, Arah Untuk Mengatasi Gelisah

badge-check


 Antalogi Puisi “Jendela Tanpa Kaca” Nestor Rico Tambunan, Arah Untuk Mengatasi Gelisah Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Ada buku puisi yang tak sekadar ingin dibaca, melainkan mengajak pembacanya berhenti sejenak—menarik napas, lalu menengok ke dalam diri. Jendela Tanpa Kaca adalah salah satunya. Sejak pengantar, buku ini sudah memberi isyarat kuat tentang peran puisi sebagai ruang pereda gelisah, sebagai sinyal batin agar kita menghadapi kehidupan dengan cara yang lebih lembut dan berperasaan.

Kutipan dalam pengantar buku ini terasa seperti alarm yang bergaung di batin: bahwa membaca dan menulis puisi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Di tengah kebisingan politik, arus informasi yang bising, serta rasa pilu akibat bencana yang hadir nyaris tanpa jeda, puisi hadir sebagai jalan sunyi untuk kembali waras—tanpa mengingkari realitas.

Buku ini seakan berkata: tuliskan saja apa yang kita rasakan. Tidak perlu kata-kata gagah, gelap, atau rumit demi sebuah label “penyair”. Kejujuran rasa justru menjadi kekuatan utama. Kesederhanaan dikedepankan, namun tidak kehilangan kedalaman makna. Dalam pilihan kata yang jernih, pembaca diajak merasakan bahwa keindahan tidak selalu lahir dari metafora yang megah, tetapi dari keberanian menyentuh perasaan paling manusiawi.

Sebanyak 69 puisi di dalam Jendela Tanpa Kaca menjadi bukti bahwa kesahajaan bisa berbicara lantang. Puisi-puisi ini tidak menggurui, tidak pula berteriak. Ia hadir seperti bisikan—tenang, namun menetap. Dari sana, pembaca dapat menangkap arah: bahwa gelisah bukan untuk dilawan dengan amarah, melainkan dipeluk dan dipahami.

Buku ini pada akhirnya terasa seperti surat pribadi yang dibuka perlahan. Sebuah jendela tanpa kaca, tempat kita bisa memandang dunia apa adanya—tanpa penghalang, tanpa distorsi. Dan dari balik jendela itulah, penulis mengabarkan satu hal penting: selalu ada jalan untuk mengatasi gelisah, selama kita mau mendengarkan suara batin.

Melalui puisi-puisi ini, sang penyair – Nestor Rico Tambunan seakan menunjukan arah untuk kembali pada kehidupan yang hakiki—hening, jujur, dan manusiawi.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Masyarakat Bepergian Melonjak, DAMRI Layani Puluhan Ribu Pelanggan pada Libur Panjang Bulan Agustus 2026

27 Agustus 2026 - 22:28 WIB

⁠Pelindo dan BNN Bekali Pelajar Pengetahuan tentang Bahaya Narkoba

27 Agustus 2026 - 22:18 WIB

Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara

27 Agustus 2026 - 20:22 WIB

Ketua Fraksi PKS DPRD Depok: Depok Darurat LGBT

27 Agustus 2026 - 17:51 WIB

DDII Kota Depok Mendukung Gerakan Dakwah di Parlemen Depok

27 Agustus 2026 - 17:47 WIB

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia  Kota Depok Lakukan Silaturahmi Dakwah ke Sekretaris Fraksi PKS dan Anggota DPRD Kota Depok

27 Agustus 2026 - 17:43 WIB

Cegah Penyalahgunaan Disduk Capil Garut Musnahkan Blanko KTP-el Yang Rusak 

27 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Kembali ke Kampus, Wabup Bireuen Razuardi Jadi Pemateri PKKMB Universitas Almuslim 2026

27 Agustus 2026 - 11:21 WIB

PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman

27 Agustus 2026 - 11:16 WIB

Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok

27 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Trending di RAGAM