Wartatrans.com, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong fase baru industri pusat data Indonesia.
Lonjakan kebutuhan komputasi membuat kapasitas data center terus diperluas, sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung, termasuk sistem pasokan listrik cadangan.

Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) menilai, industri data center nasional tengah memasuki fase ekspansi.
Pertumbuhan sektor ini didorong percepatan transformasi digital, komputasi awan, serta adopsi AI yang membutuhkan infrastruktur digital berkapasitas besar.
Riset Research and Markets memperkirakan pasar data center Indonesia tumbuh dari sekitar US$1,83 miliar pada 2026 menjadi US$3,48 miliar pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 13,7 persen.
Perkembangan tersebut memperbesar kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung, mulai dari sistem pendinginan hingga solusi kelistrikan yang lebih efisien.
Peningkatan kapasitas, membuat aspek energi menjadi perhatian utama. Data center generasi baru membutuhkan pasokan listrik yang stabil karena gangguan operasional dapat berdampak terhadap layanan digital yang berjalan sepanjang waktu.
Peluang tersebut mulai ditangkap industri penyedia solusi daya. PT Traktor Nusantara (Traknus) memperkuat posisinya di segmen infrastruktur kritis melalui partisipasi dalam Data Center & Cloud Infrastructure Technology Expo and Conference (DCTI-CX) 2026 di Jakarta, 5–6 Agustus 2026.
Dalam ajang tersebut, Traknus memperkenalkan solusi daya untuk kebutuhan data center, termasuk Perkins Engine 5000 Series dan Traknus Genset. Produk tersebut ditawarkan untuk mendukung kebutuhan operasional yang membutuhkan tingkat keandalan dan waktu operasi tinggi.
General Manager Marketing Traknus Adam Ghafarry mengatakan, kehadiran perusahaan dalam ekosistem data center merupakan bagian dari upaya mendukung perkembangan infrastruktur digital.
“Melalui partisipasi di DCTI-CX 2026, Traknus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan solusi power yang dapat menjaga kontinuitas operasional dan memaksimalkan uptime,” ujar Adam.
Dengan meningkatnya investasi AI dan ekspansi data center, industri solusi daya diperkirakan ikut berkembang.
Tantangan ke depan bukan hanya membangun kapasitas komputasi, tetapi memastikan infrastruktur energi mampu menopang kebutuhan digital yang semakin besar.
Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma mengatakan, perkembangan AI telah mengubah kebutuhan daya pada infrastruktur data center.
Menurut dia, peningkatan densitas komputasi membuat konsumsi energi server meningkat jauh dibandingkan sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan Hendra dalam Media Masterclass “Liquid Cooling & Next-Gen Data Center Infrastructure” di Jakarta, pada Mei lalu.
“Kalau pada 2012 satu rak server hanya membutuhkan daya sekitar 3 kilowatt, sekarang untuk workload AI sudah mencapai 120 kilowatt per rak. Tahun ini akan muncul rak dengan konsumsi daya 600 kilowatt, dan ke depan dapat mencapai 1.000 kilowatt per rak,” ujar Hendra.
Perubahan skala konsumsi energi tersebut membuat kebutuhan sistem pendukung daya semakin penting. Selain sumber listrik utama, operator data center membutuhkan solusi backup power untuk menjaga kontinuitas layanan ketika terjadi gangguan pasokan. (Artha Tidar)
































