Menu

Mode Gelap
Anggota DPR Kesal Menteri KP Tak Beri Tahu Kunjungan ke Aceh Tamiang Evaluasi Nataru, Ditjen Hubdat Catat 3 Aspek ini Bus Sekolah di Pakpak Bharat: Solusi di Kaki Bukit Barisan Hari Pertama Libur Panjang Isra Miraj, Lebih 37 Ribu Penumpang Tinggalkan Jakarta dengan Kereta Api BPSPL Pontianak Pastikan Video Viral Bukan Penangkapan Pesut Mahakam ASDP Resmi Buka Lintasan Perintis Banggai–Paisulamo–Dungkean

JALUR

Bus Sekolah di Pakpak Bharat: Solusi di Kaki Bukit Barisan

badge-check


					Bus sekolah Perbesar

Bus sekolah

Penulis: Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Siswa SD yang tinggal jauh dari sekolah harus berjuang menempuh perjalanan kaki 4 hingga 5 kilometer setiap hari.

Wartatrans.com, JAKARTA – Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara, berada di wilayah dataran tinggi tepat di kaki Pegunungan Bukit Barisan.

Secara geografis, lokasi ini menyajikan potensi alam yang khas. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, populasi Kabupaten Pakpak Bharat tercatat sebanyak 57.152 jiwa.

Akses pendidikan di wilayah ini menghadapi kendala serius karena jarak sekolah yang terlampau jauh dari permukiman.

Anak-anak harus menempuh perjalanan kaki sejauh 4 hingga 5 kilometer setiap harinya.

Tantangan ini diperparah oleh ketiadaan trayek angkutan umum. Secara umum, layanan angkutan umum memang belum tersedia di hampir seluruh wilayah pedesaan di luar ibukota kabupaten, sehingga membatasi mobilitas dan menghambat upaya pemerataan pendidikan.

Ketiadaan fasilitas transportasi umum yang memadai menciptakan hambatan besar bagi siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Pakpak Bharat.

Perjuangan fisik harian ini memiliki dampak negatif langsung pada capaian pendidikan mereka. Siswa tiba di sekolah dalam kondisi sangat lelah dan seringkali terlambat, yang berujung pada kelelahan dan kantuk di dalam kelas.

Dampaknya, mereka sulit fokus pada materi pelajaran, dan potensi akademis mereka menjadi terhambat.

Bagi anak-anak usia sekolah dasar, jarak tempuh yang ekstrem ini bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga ancaman nyata terhadap kualitas belajar dan semangat mereka menuntut ilmu.

Kondisi sulit banyak dialami siswa yang tinggal jauh dari sekolah, mereka harus menempuh perjalanan kaki sejauh 4 hingga 5 kilometer setiap hari, sering kali berangkat sebelum subuh.

Ketiadaan bus atau angkutan umum di desa dan sekitar permukiman penduduk inilah yang menjadi akar masalah.

Akibatnya, siswa tiba di sekolah dalam kondisi sangat lelah dan sering terlambat. Kelelahan fisik ini lantas berlanjut menjadi rasa kantuk dan ketidakfokusan saat jam pelajaran berlangsung, sehingga menghambat proses belajar mereka dan mengancam capaian pendidikan mereka secara keseluruhan.

Untuk mengatasi tantangan mobilitas, telah dioperasikan layanan angkutan sewa kendaraan (bus) yang dikhususkan sebagai transportasi sekolah.

Layanan ini dirancang secara spesifik untuk mengantar dan menjemput siswa sekolah dasar (SD).

Saat ini, program tersebut didukung oleh tujuh unit bus yang secara eksklusif melayani siswa SD sebagai penerima manfaat utama (Pemkab. Pakpak Bharat, 2025).

Dengan adanya fasilitas ini, kendala keterlambatan dapat diatasi, dan anak-anak kini dapat tiba di sekolah tepat waktu dengan kondisi yang lebih siap dan prima untuk belajar.

Saat ini, tujuh unit bus sekolah telah dioperasikan dan didistribusikan untuk melayani rute-rute penting yang secara efektif menghubungkan permukiman siswa dengan sekolah mereka.

Pembagian rute layanan tersebut diatur sebagai berikut. Tiga unit bus dikhususkan untuk melayani Rute Prongil, yang menjangkau area dari Prongil Julu menuju SDN 0359444 Prongil Jehe.

Selanjutnya, dua unit bus dialokasikan untuk melayani Rute Kuta Kacip, yang menghubungkan Kuta Kacip dengan SDN 034816 Jambu Mbellang.

Sementara itu, sisa armada yaitu dua unit bus lainnya digunakan untuk melayani Rute Perduhapen – Kerajaan, yang bergerak dari Desa Perduhapen menuju SDN 03435 Kerajaan.

Pembagian armada bus sekolah ini tidak dilakukan secara acak, melainkan merupakan penyesuaian yang strategis dan cermat.

Secara spesifik dirancang untuk memastikan bahwa area-area dengan kebutuhan mobilitas pelajar tertinggi di wilayah tersebut dapat terlayani secara optimal dan merata, sehingga program ini memberikan dampak maksimal dalam memudahkan akses pendidikan.

Keberadaan bus sekolah ini memberikan dampak positif yang signifikan dan menyeluruh. Siswa kini dapat tiba di sekolah tepat waktu, sehingga energi mereka dapat dicurahkan penuh untuk belajar. Dampaknya, siswa menjadi semakin giat dan fokus dalam mengikuti pelajaran.

Selain manfaat akademis bagi anak-anak, program ini juga secara langsung mengurangi beban orang tua terkait transportasi.

Ketenangan pikiran dan kemudahan logistik ini juga terlihat dari peningkatan partisipasi dan kehadiran siswa di sekolah.

Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat menunjukkan komitmen kuat terhadap masa depan pendidikan lokal. Program-program transportasi dan intervensi ini bertujuan ganda, yakni mendukung penurunan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Anak Putus Sekolah, sekaligus meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah (APS).

Inti dari komitmen ini adalah upaya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa melalui peningkatan akses dan kualitas pendidikan, serta secara nyata mengurangi beban logistik dan finansial orang tua dalam menyekolahkan anak-anak mereka.

Operasional bus sekolah gratis ini sepenuhnya dikelola oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pakpak Bharat. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat (2025), menunjukkan komitmen yang kuat melalui alokasi anggaran yang terus meningkat setiap tahun.

Pada tahun 2023, anggaran untuk Bus Sekolah Gratis dialokasikan sebesar Rp300 juta. Angka ini kemudian meningkat tajam menjadi Rp522.750.000 pada tahun 2024, dan kembali naik menjadi Rp706.800.000 pada tahun 2025. Bahkan, rencana anggaran untuk tahun 2026 diproyeksikan mencapai Rp800 juta.

Peningkatan alokasi ini mencerminkan prioritas Pemkab. Pakpak Bharat, mengingat total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pakpak Bharat pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp472 miliar. (omy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Evaluasi Nataru, Ditjen Hubdat Catat 3 Aspek ini

15 Januari 2026 - 16:21 WIB

Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja!

14 Januari 2026 - 20:52 WIB

Bupati Bogor Tegaskan Pembebasan Lahan Jalur Tambang Masuk APBD 2026

14 Januari 2026 - 18:33 WIB

Bongkar 100 Tiang Monorel, Dishub DKI Jakarta Jamin Lalin Tetap Lancar

14 Januari 2026 - 13:26 WIB

Polsek Kawasan Muara Baru Sigap Bantu Warga Terdampak Genangan Rob dan Hujan

13 Januari 2026 - 16:39 WIB

Trending di JALUR