Menu ✖

Mode Gelap
Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20% Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL

JALUR

Konflik Timur Tengah Berpotensi Tingkatkan Biaya Distribusi Logistik dengan Truk

badge-check


 Setijadi Perbesar

Setijadi

Wartatrans.com, BANDUNG – Eskalasi konflik yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya distribusi nasional dan menekan harga barang di dalam negeri.

Jalur ini dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia serta 20-25 persen perdagangan LNG global, sehingga setiap gangguan dapat mendorong kenaikan harga energi internasional.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menilai dampak terhadap Indonesia akan terjadi melalui transmisi harga minyak global (Brent) ke harga solar domestik.

“Solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan, yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional,” ujarnya, Ahad (1/3/2026).

Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar USD25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp750-2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga.

Dalam skenario lebih berat dengan kenaikan hingga USD50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi dapat meningkat lebih signifikan.

Dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35-40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5-4 persen.

“Bila harga solar meningkat 20 persen, ongkos truk berpotensi naik 7-8 persen. Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30 persen dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5-12 persen,” kata Setijadi.

Rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14 persen dari harga produk, dengan kurang lebih separuhnya berasal dari transportasi jalan.

Kenaikan ongkos truk 7-8 persen berpotensi meningkatkan harga barang rata-rata sekitar 0,5 persen.

“Bahkan dalam kondisi lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10 persen dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji,” ucapnya.

Risiko Inflasi Distribusi Nasional dan Langkah Mitigasi

Setijadi menegaskan bahwa struktur logistik Indonesia yang masih bertumpu pada transportasi jalan membuat sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi.

Risiko terbesar adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya untuk komoditas pangan dan kebutuhan pokok.

“Industri berbasis impor bahan baku menghadapi risiko ganda: kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan biaya distribusi domestik,” imbuhnya.

Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin.

SCI menilai pemerintah perlu menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif serta mempercepat diversifikasi energi.

Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api, menjadi krusial untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar.

Dari sisi industri, diperlukan efisiensi rute distribusi, konsolidasi muatan, serta penerapan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik.

Hal itu karena bila tanpa reformasi struktural sistem logistik, setiap gejolak eksternal berisiko langsung diterjemahkan menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat. (omy)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20%

1 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi

1 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global

1 Oktober 2026 - 08:12 WIB

Menhub Dudy Sampaikan DIM RUU Perubahan Ketiga atas UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ

30 September 2026 - 16:20 WIB

Penjualan EV Melaju, Transformasi Pasar Indonesia Belum Maksimal

30 September 2026 - 16:09 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

BNI Apresiasi Pembinaan PBSI, Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali di Asian Games 2026

30 September 2026 - 10:44 WIB

MTI Ingatkan 3 Momentum September Jangan Hanya sebagai Seremoni Keselamatan

30 September 2026 - 10:21 WIB

Koperasi Syariah Indonesia Dibawa ke Forum Internasional IICF 2026

30 September 2026 - 07:31 WIB

Perkuat Ekonomi Pesisir, Terminal Teluk Lamong Raih Penghargaan CSR & PDB Awards 2026

29 September 2026 - 23:00 WIB

Trending di ANJUNGAN