Wartatrans.com, KOLOM — Keagungan Kota Suci bukan sekadar judul sebuah buku. Ia lahir dari rahim peradaban umat manusia, dari denyut spiritual yang hidup dan mengalir di tengah sejarah panjang dunia Islam. Buku ini hadir bukan semata sebagai karya sastra, tetapi sebagai kesaksian batin dan intelektual atas kota-kota suci yang menjadi poros keimanan dan kebudayaan umat manusia lintas bangsa.
Tanpa kehendak dan “keajaiban”-Nya, barangkali Keagungan Kota Suci tak akan pernah terbang menembus batas geografis menuju Mesir—sebuah negeri yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai suhu para ilmu. Mesir masih berdiri teguh sebagai kiblat keilmuan dunia, sebuah negara yang hingga hari ini memuliakan buku sebagai barometer kecerdasan dan peradaban.


Keyakinan itu kian nyata ketika saya berkesempatan mengunjungi Perpustakaan Alexandria bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Mesir, Abdul Muta’ali, PhD. Perpustakaan termegah ini berdiri di dekat pelabuhan kuno Alexandria, melanjutkan semangat legendaris perpustakaan dunia yang pernah menjadi mercusuar pengetahuan umat manusia.
Perpustakaan Alexandria modern mampu menampung hingga delapan juta buku. Tak hanya itu, di dalam kompleksnya terdapat museum, planetarium, serta pusat konferensi yang menjulang di atas bangunan setinggi sebelas lantai. Ia bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan pusat budaya dan ilmu pengetahuan modern yang merepresentasikan dialog masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Berada di ruang-ruang pengetahuan itu menghadirkan kekaguman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di sanalah saya merasakan kembali betapa buku tetap memiliki posisi terhormat sebagai penanda kemajuan sebuah bangsa.
Rasa syukur pun kian mendalam ketika Keagungan Kota Suci, bersama beberapa novel saya lainnya, diterima secara resmi untuk menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Alexandria. Sebuah kehormatan yang bukan hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi penegasan bahwa karya sastra Indonesia memiliki tempat dalam percakapan peradaban dunia.
Pada akhirnya, Keagungan Kota Suci bukan hanya perjalanan spiritual dan literer, melainkan juga jejak kecil dari Indonesia yang kini terpatri di salah satu pusat pengetahuan paling bergengsi di dunia.***
Mesir 2026




















