Menu

Mode Gelap
Eva Rudy Susmanto Tekankan Peran Strategis PKK di Era Digital Bupati Bogor Tetapkan Desa Gunung Putri sebagai Prototipe Desa Percontohan 2026 CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki Pacu Kinerja 2026: IPC TPK Optimalisasi Layanan Terminal dan Perkuat Sinergi melalui Berthing Window 2026 TJSL KAI Daop 1 Jakarta Salurkan Pompa Air ke Pemkot Cilegon untuk Dukung Sistem Irigasi Cegah Banjir KAI: Kinerja LRT Jabodebek Terus Melesat, Jumlah Pelanggan Tembus Lebih 57 Juta

SENI BUDAYA

Catatan Halimah Munawir: Keagungan Kota Suci dan Jejak Buku di Pusat Peradaban Dunia

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Keagungan Kota Suci dan Jejak Buku di Pusat Peradaban Dunia Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Keagungan Kota Suci bukan sekadar judul sebuah buku. Ia lahir dari rahim peradaban umat manusia, dari denyut spiritual yang hidup dan mengalir di tengah sejarah panjang dunia Islam. Buku ini hadir bukan semata sebagai karya sastra, tetapi sebagai kesaksian batin dan intelektual atas kota-kota suci yang menjadi poros keimanan dan kebudayaan umat manusia lintas bangsa.

Tanpa kehendak dan “keajaiban”-Nya, barangkali Keagungan Kota Suci tak akan pernah terbang menembus batas geografis menuju Mesir—sebuah negeri yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai suhu para ilmu. Mesir masih berdiri teguh sebagai kiblat keilmuan dunia, sebuah negara yang hingga hari ini memuliakan buku sebagai barometer kecerdasan dan peradaban.

Keyakinan itu kian nyata ketika saya berkesempatan mengunjungi Perpustakaan Alexandria bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Mesir, Abdul Muta’ali, PhD. Perpustakaan termegah ini berdiri di dekat pelabuhan kuno Alexandria, melanjutkan semangat legendaris perpustakaan dunia yang pernah menjadi mercusuar pengetahuan umat manusia.

 

Perpustakaan Alexandria modern mampu menampung hingga delapan juta buku. Tak hanya itu, di dalam kompleksnya terdapat museum, planetarium, serta pusat konferensi yang menjulang di atas bangunan setinggi sebelas lantai. Ia bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan pusat budaya dan ilmu pengetahuan modern yang merepresentasikan dialog masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Berada di ruang-ruang pengetahuan itu menghadirkan kekaguman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di sanalah saya merasakan kembali betapa buku tetap memiliki posisi terhormat sebagai penanda kemajuan sebuah bangsa.

Rasa syukur pun kian mendalam ketika Keagungan Kota Suci, bersama beberapa novel saya lainnya, diterima secara resmi untuk menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Alexandria. Sebuah kehormatan yang bukan hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi penegasan bahwa karya sastra Indonesia memiliki tempat dalam percakapan peradaban dunia.

Pada akhirnya, Keagungan Kota Suci bukan hanya perjalanan spiritual dan literer, melainkan juga jejak kecil dari Indonesia yang kini terpatri di salah satu pusat pengetahuan paling bergengsi di dunia.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki

9 Februari 2026 - 21:53 WIB

Pameran Tunggal Sonny Eska Angkat Makna “Atas Nama” dalam Perspektif Seni

8 Februari 2026 - 23:51 WIB

Sinetron “Istiqomah Cinta” Siap Temani Ramadan 1447 H di SCTV

5 Februari 2026 - 13:58 WIB

INDOSIAR Hadirkan “D’Academy 7 Mega Konser”, Bertabur Bintang dan Legenda Musik Indonesia

3 Februari 2026 - 16:50 WIB

Group CEO BRI Apresiasi Kinerja Pemberdayaan PNM dalam Menciptakan Nilai Ekonomi dan Dampak Sosial Berkelanjutan

3 Februari 2026 - 16:44 WIB

Trending di PERISTIWA