Menu

Mode Gelap
Daimler Truck Operasikan Pusat Suku Cadang Global di Jerman, Pasokan Mercedes-Benz Indonesia Dipastikan Makin Cepat Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang Paradoks Lansia Indonesia: Menua dalam Jeratan Sektor Informal Terminal Teluk Lamong Raih Digital PR Award 2026 Berkat Strategi Komunikasi Digital yang Inovatif Semester I 2026, Penumpang KAI Divre III Palembang Tembus 603.967 Orang, Naik 11 Persen Kepala Dinas Keuangan Subulussalam Belum Dilantik Meski Lelang Jabatan Selesai, Publik Pertanyakan Alasannya

SENI BUDAYA

CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki

badge-check


 CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sastrawan dan budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan (CGR) menggagas penetapan Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki, sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak sejarah dan karya komponis besar Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki, yang dikenal sebagai komponis pejuang asal Tanah Betawi, lahir pada 11 Mei 1914 di Kampung Kwitang dan wafat pada 25 Mei 1958 di Kampung Bali, Tenabang. Atas jasa dan dedikasinya, namanya diabadikan sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM) oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1968, serta ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004.

Menurut CGR, penetapan bulan Mei memiliki makna historis yang kuat karena mencakup tanggal kelahiran dan wafat Ismail Marzuki. Gagasan ini juga berangkat dari proses panjang penulisan skenario film layar lebar (biopic) Ismail Marzuki yang digarap CGR sejak riset kelahiran hingga akhir hayat sang komponis.

“Ismail Marzuki adalah satu-satunya komponis nasional yang berhasil merekam setiap fase penting Revolusi Indonesia ke dalam lagu,” ujar CGR.

Sejumlah karya monumental Ismail Marzuki seperti Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Tanah Pusaka dinilai tak hanya menanamkan nasionalisme, tetapi juga menggetarkan emosi kebangsaan. Sementara sisi romantisnya tercermin dalam lagu Juwita Malam, Sabda Alam, Aryati, hingga Payung Fantasi. Adapun karya Selamat Hari Lebaran disebut sebagai penanda sejarah sosial Islam Betawi yang tetap hidup hingga kini.

Untuk mendukung gagasan Bulan Ismail Marzuki, CGR berencana melibatkan berbagai lembaga dan komunitas, di antaranya Sinematek Indonesia, RRI, Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, PKJ Taman Ismail Marzuki, sejumlah perguruan tinggi, akademisi, budayawan, seniman, sejarawan, serta kalangan pers. CGR menegaskan bahwa gerakan ini bersifat nasional dan terbebas dari latar belakang suku, agama, maupun kepentingan politik.

Sebagai langkah perlindungan ide, CGR menyatakan akan mendaftarkan gagasan Bulan Ismail Marzuki ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), mengingat pengalaman sebelumnya terkait konsep “Duit Betawi” yang diklaim pihak lain.

Pengakuan terhadap Ismail Marzuki juga datang dari dunia musik modern. Pada 2008, majalah Rolling Stone Indonesia menobatkannya sebagai salah satu The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Komponis musik klasik Ananda Sukarlan bahkan menggubah sejumlah karya bertajuk Concerto Marzukiana yang terinspirasi dari lagu-lagu Ismail Marzuki.

Museum yang Tak Pernah Terwujud
Dalam wawancara terpisah, CGR mengungkap fakta tragis yang ditemuinya menjelang rampungnya penulisan skenario film. Rachmi Aziah, anak semata wayang Ismail Marzuki, menyampaikan bahwa pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, barang-barang peninggalan Ismail Marzuki diminta pihak PKJ TIM dengan janji akan didirikan Museum Ismail Marzuki. Namun hingga 2017, museum tersebut tak pernah terwujud.

Menurut Rachmi, barang-barang peninggalan ayahnya justru diletakkan tanpa perawatan memadai. Bahkan, CGR mengaku tidak diperkenankan melihat langsung barang-barang tersebut oleh pengelola PKJ TIM.

Rachmi sempat menitipkan harapan kepada CGR agar memperjuangkan berdirinya museum tersebut. “Sebelum saya meninggal, saya ingin melihat museum bapak berdiri,” ucap Rachmi kepada CGR.

Film yang Tak Kunjung Diproduksi
Upaya mengangkat kisah Ismail Marzuki ke layar lebar juga menghadapi berbagai kendala. Pengajuan pembuatan film dokumenter pada 2018 ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta kandas di tahap akhir dengan alasan administratif. Upaya mencari dukungan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun tidak membuahkan hasil.

Padahal, menurut sutradara Enison Sinaro, naskah yang ditulis CGR telah dinilai matang. Hal itu diakui pula oleh Iwan Piliang dari Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN), yang menyebut skenario tersebut siap diproduksi. Namun hingga 2026, proyek film belum juga berjalan karena keterbatasan pendanaan.

Dalam skenario tersebut, CGR menggambarkan perjalanan hidup Ismail Marzuki secara utuh—mulai dari kelahiran, kisah asmara, perjalanan musikal, nasionalisme sebagai seniman, hingga wafatnya yang dramatis, dihiasi lantunan lagu-lagu ciptaannya.

Ismail Marzuki mengembuskan napas terakhir menjelang waktu Dzuhur, 25 Mei 1958, di Kampung Bali, Tenabang. Hingga kini, nada-nada ciptaannya terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari ingatan kolektif bangsa Indonesia.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Indra Adhari Kupas One Month One Song dan Viral Lagunya di TikTok Malaysia di Staradio Tangerang

1 Juli 2026 - 18:04 WIB

Pelepasan Peserta PPN XIV di Bandara SIM, Panitia Pastikan Misi Sastra dan Budaya Aceh Terus Berlanjut

1 Juli 2026 - 09:22 WIB

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

29 Juni 2026 - 19:17 WIB

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Syuting “Lautan Cinta” di Yogyakarta, Abidzar Al-Ghifari Nikmati Kebersamaan dengan Para Pemain

28 Juni 2026 - 14:22 WIB

Kementerian Kebudayaan Resmikan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Banyumas

28 Juni 2026 - 13:23 WIB

Syech Mulyadi Abadikan Semangat PPN XIV Aceh Lewat Puisi “Dari Tanah Aceh, PPN Ku Kenal”

28 Juni 2026 - 01:58 WIB

Trending di SENI BUDAYA