Menu ✖

Mode Gelap
Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎ KAI Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang, 748 Petugas PJL Disertifikasi hingga Tutup 1.329 Perlintasan Liar

SENI BUDAYA

CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki

badge-check


 CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sastrawan dan budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan (CGR) menggagas penetapan Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki, sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak sejarah dan karya komponis besar Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki, yang dikenal sebagai komponis pejuang asal Tanah Betawi, lahir pada 11 Mei 1914 di Kampung Kwitang dan wafat pada 25 Mei 1958 di Kampung Bali, Tenabang. Atas jasa dan dedikasinya, namanya diabadikan sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM) oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1968, serta ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004.

Menurut CGR, penetapan bulan Mei memiliki makna historis yang kuat karena mencakup tanggal kelahiran dan wafat Ismail Marzuki. Gagasan ini juga berangkat dari proses panjang penulisan skenario film layar lebar (biopic) Ismail Marzuki yang digarap CGR sejak riset kelahiran hingga akhir hayat sang komponis.

“Ismail Marzuki adalah satu-satunya komponis nasional yang berhasil merekam setiap fase penting Revolusi Indonesia ke dalam lagu,” ujar CGR.

Sejumlah karya monumental Ismail Marzuki seperti Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Tanah Pusaka dinilai tak hanya menanamkan nasionalisme, tetapi juga menggetarkan emosi kebangsaan. Sementara sisi romantisnya tercermin dalam lagu Juwita Malam, Sabda Alam, Aryati, hingga Payung Fantasi. Adapun karya Selamat Hari Lebaran disebut sebagai penanda sejarah sosial Islam Betawi yang tetap hidup hingga kini.

Untuk mendukung gagasan Bulan Ismail Marzuki, CGR berencana melibatkan berbagai lembaga dan komunitas, di antaranya Sinematek Indonesia, RRI, Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, PKJ Taman Ismail Marzuki, sejumlah perguruan tinggi, akademisi, budayawan, seniman, sejarawan, serta kalangan pers. CGR menegaskan bahwa gerakan ini bersifat nasional dan terbebas dari latar belakang suku, agama, maupun kepentingan politik.

Sebagai langkah perlindungan ide, CGR menyatakan akan mendaftarkan gagasan Bulan Ismail Marzuki ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), mengingat pengalaman sebelumnya terkait konsep “Duit Betawi” yang diklaim pihak lain.

Pengakuan terhadap Ismail Marzuki juga datang dari dunia musik modern. Pada 2008, majalah Rolling Stone Indonesia menobatkannya sebagai salah satu The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Komponis musik klasik Ananda Sukarlan bahkan menggubah sejumlah karya bertajuk Concerto Marzukiana yang terinspirasi dari lagu-lagu Ismail Marzuki.

Museum yang Tak Pernah Terwujud
Dalam wawancara terpisah, CGR mengungkap fakta tragis yang ditemuinya menjelang rampungnya penulisan skenario film. Rachmi Aziah, anak semata wayang Ismail Marzuki, menyampaikan bahwa pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, barang-barang peninggalan Ismail Marzuki diminta pihak PKJ TIM dengan janji akan didirikan Museum Ismail Marzuki. Namun hingga 2017, museum tersebut tak pernah terwujud.

Menurut Rachmi, barang-barang peninggalan ayahnya justru diletakkan tanpa perawatan memadai. Bahkan, CGR mengaku tidak diperkenankan melihat langsung barang-barang tersebut oleh pengelola PKJ TIM.

Rachmi sempat menitipkan harapan kepada CGR agar memperjuangkan berdirinya museum tersebut. “Sebelum saya meninggal, saya ingin melihat museum bapak berdiri,” ucap Rachmi kepada CGR.

Film yang Tak Kunjung Diproduksi
Upaya mengangkat kisah Ismail Marzuki ke layar lebar juga menghadapi berbagai kendala. Pengajuan pembuatan film dokumenter pada 2018 ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta kandas di tahap akhir dengan alasan administratif. Upaya mencari dukungan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun tidak membuahkan hasil.

Padahal, menurut sutradara Enison Sinaro, naskah yang ditulis CGR telah dinilai matang. Hal itu diakui pula oleh Iwan Piliang dari Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN), yang menyebut skenario tersebut siap diproduksi. Namun hingga 2026, proyek film belum juga berjalan karena keterbatasan pendanaan.

Dalam skenario tersebut, CGR menggambarkan perjalanan hidup Ismail Marzuki secara utuh—mulai dari kelahiran, kisah asmara, perjalanan musikal, nasionalisme sebagai seniman, hingga wafatnya yang dramatis, dihiasi lantunan lagu-lagu ciptaannya.

Ismail Marzuki mengembuskan napas terakhir menjelang waktu Dzuhur, 25 Mei 1958, di Kampung Bali, Tenabang. Hingga kini, nada-nada ciptaannya terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari ingatan kolektif bangsa Indonesia.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

1 Oktober 2026 - 03:44 WIB

Mansyur S Minta Wejangan Rhoma Irama: Jangan Takut Dangdut Ditinggal Anak Muda

1 Oktober 2026 - 03:12 WIB

Rhoma Irama Menangis Saat Menonton Film Lawas, dari Pengabdian ke Perjuangan Dangdut Menuju UNESCO

30 September 2026 - 08:17 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

Mentor Bang Budi dan Lukisan Karya Anak yang Membawa Cerita Aceh Tamiang ke Jakarta

30 September 2026 - 01:37 WIB

Bupati Aceh Tamiang Dorong Terapi Melukis untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana

29 September 2026 - 19:34 WIB

Ekraf Peduli Hadirkan Karya Anak Korban Bencana Sumatra, Pemerintah Dorong Pemulihan Lewat Seni

29 September 2026 - 18:39 WIB

Dianna Dee Full Jadwal Show, Sempatkan Cover Lagu di YouTube, 1 Minggu Tembus Setengah Juta Views

29 September 2026 - 17:10 WIB

HUT ke 81, KAI Daop 4 Semarang Menggelar Acara Baca Puisi Antar Negara

29 September 2026 - 09:44 WIB

Jaja Mihardja Mengidolakan Almarhum Bing Slamet 

29 September 2026 - 03:02 WIB

Trending di SENI BUDAYA