Menu ✖

Mode Gelap
Truk Molen Diduga Rem Blong Tabrak Kerumunan di Bekasi, 6 Orang Tewas Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi Tolitoli Pastikan 21 Cabor Bertanding di Porprov X Sulteng Morowali 2026 Rimbun Air Bidik Rute Jakarta-Tasikmalaya KAI Buka Pemesanan Tiket Kereta untuk Keberangkatan 1 Desember 2026, Cek Jadwal Baru GAPEKA Borobudur Disorot: Kesejahteraan Warga dan Kontroversi Konser Andrea Bocelli

SENI BUDAYA

Catatan Halimah Munawir: Keagungan Kota Suci dan Jejak Buku di Pusat Peradaban Dunia

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Keagungan Kota Suci dan Jejak Buku di Pusat Peradaban Dunia Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Keagungan Kota Suci bukan sekadar judul sebuah buku. Ia lahir dari rahim peradaban umat manusia, dari denyut spiritual yang hidup dan mengalir di tengah sejarah panjang dunia Islam. Buku ini hadir bukan semata sebagai karya sastra, tetapi sebagai kesaksian batin dan intelektual atas kota-kota suci yang menjadi poros keimanan dan kebudayaan umat manusia lintas bangsa.

Tanpa kehendak dan “keajaiban”-Nya, barangkali Keagungan Kota Suci tak akan pernah terbang menembus batas geografis menuju Mesir—sebuah negeri yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai suhu para ilmu. Mesir masih berdiri teguh sebagai kiblat keilmuan dunia, sebuah negara yang hingga hari ini memuliakan buku sebagai barometer kecerdasan dan peradaban.

Keyakinan itu kian nyata ketika saya berkesempatan mengunjungi Perpustakaan Alexandria bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk Mesir, Abdul Muta’ali, PhD. Perpustakaan termegah ini berdiri di dekat pelabuhan kuno Alexandria, melanjutkan semangat legendaris perpustakaan dunia yang pernah menjadi mercusuar pengetahuan umat manusia.

 

Perpustakaan Alexandria modern mampu menampung hingga delapan juta buku. Tak hanya itu, di dalam kompleksnya terdapat museum, planetarium, serta pusat konferensi yang menjulang di atas bangunan setinggi sebelas lantai. Ia bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan pusat budaya dan ilmu pengetahuan modern yang merepresentasikan dialog masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Berada di ruang-ruang pengetahuan itu menghadirkan kekaguman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di sanalah saya merasakan kembali betapa buku tetap memiliki posisi terhormat sebagai penanda kemajuan sebuah bangsa.

Rasa syukur pun kian mendalam ketika Keagungan Kota Suci, bersama beberapa novel saya lainnya, diterima secara resmi untuk menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Alexandria. Sebuah kehormatan yang bukan hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi penegasan bahwa karya sastra Indonesia memiliki tempat dalam percakapan peradaban dunia.

Pada akhirnya, Keagungan Kota Suci bukan hanya perjalanan spiritual dan literer, melainkan juga jejak kecil dari Indonesia yang kini terpatri di salah satu pusat pengetahuan paling bergengsi di dunia.***

Mesir 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pengamanan Konser Andrea Bocelli di Borobudur Libatkan Ribuan Personel, Terbesar Sepanjang Sejarah?

1 November 2026 - 10:58 WIB

Seni, Seniman, Karya Seni, Pekerja Seni dan Penikmat Seni

31 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Lama Tak Terlihat di Layar Kaca, Krisna Mukti Blak-blakan Akui Sedang Cari Job

31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

‘Diana Memang Manja’, Novel SBY yang Lahir dari Riset dan Kenangan

30 Oktober 2026 - 18:39 WIB

Setnegpedia Ungkap Kisah di Balik Lukisan “Kawan-Kawan Revolusi” Karya S. Sudjojono

30 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Pelajar se-Sumatera Barat Pentas Bersama dalam Penutupan Workshop Apresiasi Sastra dan Pertunjukan Puisi

30 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Momen Sumpah Pemuda, Itab Purnama “Si Drumer Formula Langit” Rilis ‘Tersimpan Rapi’, Tembus Puluhan Ribu Views di YouTube

30 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Opie Kumis Akhirnya Bisa Main Film Bareng Sang Idola, Elvy Sukaesih

30 Oktober 2026 - 09:13 WIB

​Pelatihan Sastra dan Musikalisasi Puisi Kembali Bergairah, Sanggar Matahari Gelar Workshop Apresiasi Sastra di Rumah Puisi Taufiq Ismail

29 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Hazwan Iskandar Jaya Pimpin Satupena DIY 2026–2031, Perkuat Ekosistem Literasi dan Kebudayaan

28 Oktober 2026 - 10:40 WIB

Trending di SENI BUDAYA