Wartatrans.com, JAKARTA – Kiprah wakil Asia di Piala Dunia 2026 berakhir dengan hasil mengecewakan. Harapan terakhir Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pupus setelah Australia tersingkir dari Mesir melalui adu penalti pada babak 32 besar, Sabtu (4/7/2026). Hasil tersebut memastikan tidak ada satu pun wakil Asia yang melaju ke babak 16 besar.
Ironisnya, kegagalan itu terjadi ketika AFC mencatat sejarah dengan mengirimkan sembilan wakil ke putaran final Piala Dunia 2026, seiring penerapan format baru 48 peserta. Di antara sembilan tim tersebut, terdapat dua debutan, yakni Yordania dan Uzbekistan.

Sepanjang turnamen, mayoritas wakil Asia tersingkir sejak fase grup. Hanya Jepang dan Australia yang mampu mencapai fase gugur, namun keduanya gagal melangkah lebih jauh setelah dikalahkan lawan-lawan dari Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan.
Di tengah hasil yang kurang menggembirakan tersebut, muncul kembali wacana perluasan Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim. Gagasan yang diusulkan CONMEBOL itu kini masih berada dalam tahap pembahasan oleh FIFA dan belum diputuskan secara resmi.
Apabila format 64 peserta disetujui, kuota langsung setiap konfederasi diproyeksikan meningkat signifikan. Asia berpeluang memperoleh 12 tiket, naik dari 8,5 tiket saat ini. Afrika diproyeksikan mendapat 13 tiket, Eropa 20 tiket, Amerika Selatan dan CONCACAF masing-masing delapan tiket, sementara Oseania meningkat menjadi tiga tiket langsung.
Meski demikian, rencana penambahan kuota tersebut masih memunculkan perdebatan. Sejumlah pihak menilai tambahan jatah belum tentu menguntungkan Asia apabila tidak diimbangi peningkatan kualitas kompetisi di tingkat nasional maupun regional.
Pengamat sepak bola nasional, Mohamad Kusnaeni, menilai kebijakan tersebut ibarat pisau bermata dua.
“Penambahan kuota memang membuka jalan bagi negara-negara berkembang untuk tampil di Piala Dunia. Namun di sisi lain, kualitas kompetisi berpotensi menurun jika kesenjangan kemampuan antarnegara masih terlalu lebar,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, perbedaan kualitas antara kekuatan utama Asia seperti Jepang dan Korea Selatan dengan negara-negara berkembang masih cukup besar. Apabila kuota diperluas tanpa diiringi pembinaan yang memadai, wakil Asia dikhawatirkan hanya menjadi sasaran empuk tim-tim elite dunia, sehingga justru mencoreng reputasi sepak bola benua tersebut.
Di sisi lain, peluang bertambahnya kuota tetap menjadi angin segar bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk mewujudkan impian tampil di putaran final Piala Dunia. Namun peluang tersebut harus dibarengi reformasi menyeluruh, mulai dari pembinaan usia muda, peningkatan kualitas kompetisi domestik, hingga pembangunan infrastruktur sepak bola.
Hingga saat ini, FIFA belum mengambil keputusan final terkait usulan perluasan Piala Dunia 2030 menjadi 64 peserta. Jika akhirnya disahkan, tantangan terbesar bagi Asia bukan sekadar memanfaatkan tambahan kuota, melainkan membuktikan bahwa wakil-wakilnya mampu bersaing secara kompetitif di panggung sepak bola dunia.***
(Artha Tidar)






























