Wartatrans.com, JAKARTA — Ada yang selalu terasa berbeda ketika para penyair dan sastrawan berkumpul tanpa sekat. Bukan sekadar temu, melainkan pertemuan batin yang saling menguatkan. Itulah yang saya rasakan pada Senin sore, 30 Maret 2026, ketika rumah sederhana kami di Duren Sawit dipenuhi wajah-wajah yang membawa cahaya: para pecinta kata, para penjaga makna.
Halal bihalal yang kami gelar bersama Komunitas Obor Sastra sejatinya bukan hanya tradisi tahunan selepas Idulfitri. Ia adalah ruang pulang—tempat kita menanggalkan lelah, merawat luka, sekaligus menyalakan kembali semangat yang mungkin sempat redup di tengah riuh kehidupan.

Saya percaya, sastra tidak hanya lahir dari kesunyian, tetapi juga dari perjumpaan. Dari obrolan ringan yang tiba-tiba menjadi ide puisi. Dari tawa yang menyimpan makna. Dari saling sapa yang sederhana, namun menghidupkan kembali rasa memiliki.
Di antara cangkir-cangkir kopi dan hidangan seadanya, kami berbagi cerita. Tentang proses kreatif yang tak selalu mudah. Tentang kegelisahan yang mencari jalan pulang lewat kata. Dan tentu saja, tentang harapan—agar sastra tetap menjadi ruang yang jujur, bebas, dan memanusiakan.
Beberapa sahabat penyair bahkan spontan membacakan karya mereka. Tidak ada panggung megah, tidak ada sorotan lampu. Hanya suara-suara yang mengalir apa adanya, namun justru di situlah letak keindahannya. Sastra kembali pada asalnya: dekat, hangat, dan hidup.
Bagi saya pribadi, momen seperti ini adalah pengingat bahwa kita tidak sendiri. Bahwa di luar sana, ada banyak hati yang berdenyut dalam frekuensi yang sama. Bahwa obor sastra yang kita jaga bersama tidak akan padam, selama kita terus merawat kebersamaan ini.
Obor Sastra mungkin hanya sebuah komunitas kecil. Namun saya meyakini, setiap nyala kecil memiliki daya untuk menerangi. Dan ketika nyala-nyala itu berkumpul, ia akan menjadi cahaya yang lebih besar—cukup untuk menjaga harapan tetap hidup.
Terima kasih untuk semua yang telah hadir, yang telah membawa cerita, tawa, dan cinta dalam setiap kata. Semoga silaturahmi ini tidak berhenti di satu momen, tetapi terus berlanjut dalam karya-karya yang kita lahirkan bersama.
Karena pada akhirnya, sastra bukan hanya tentang tulisan. Ia adalah tentang kita—tentang bagaimana kita saling menjaga, saling menguatkan, dan terus percaya bahwa kata-kata masih punya daya untuk mengubah dunia.***
Duren Sawit 2026.

























