Wartatrans.com, KOLOM — Senja adalah waktu ketika langit dan bumi seakan berdialog dalam keheningan. Warna jingga yang perlahan meredup menjadi saksi betapa segala yang hidup tunduk pada hukum waktu. Dalam momen inilah hati manusia paling mudah diajak mengingat—bahwa tiada yang kekal selain Yang Maha Kekal.
Di Mesir, negeri para nabi dan ulama, senja memiliki makna yang lebih dalam. Ia tidak hanya menandai pergantian siang dan malam, tetapi juga mengingatkan perjalanan panjang peradaban yang dibangun dengan ilmu, iman, dan pengorbanan. Di tepi sejarah itulah Istana Raja Farouk berdiri, anggun namun menyimpan getir. Ia adalah monumen kekuasaan yang pernah berjaya, lalu runtuh oleh gelombang zaman, menjadi pelajaran abadi tentang kefanaan dunia.

Istana itu menjadi saksi bagaimana tahta dapat berkilau, namun tak kuasa menahan takdir. Raja Farouk, penguasa terakhir Mesir, pernah memandang dunia dari singgasananya dengan keyakinan akan keabadian kuasa. Namun sejarah berkata lain. Kekuasaan hanyalah titipan, sebagaimana siang hanyalah persinggahan sebelum senja datang. Di sinilah Al-Qur’an seakan berbisik melalui peristiwa: “Katakanlah, wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.”

Ketika senja menyelimuti halaman istana, langkah-langkah yang mengayun pasti di sekitarnya bukan lagi langkah penguasa, melainkan langkah manusia biasa—para pencari makna, penuntut ilmu, dan sahabat-sahabat yang dipersatukan oleh niat baik. Dalam kebersamaan itu, persahabatan tumbuh sebagai ibadah sosial, terikat bukan oleh kepentingan dunia, tetapi oleh nilai saling menjaga dan mengingatkan dalam kebenaran.
Di hadapan bangunan megah yang kini menjadi saksi bisu, senja mengajarkan kerendahan hati. Sejarah Mesir mengingatkan bahwa peradaban besar tidak hanya lahir dari kekuatan senjata dan istana, melainkan dari masjid, madrasah, dan majelis ilmu. Dari doa-doa yang dipanjatkan saat matahari tenggelam, dari sujud-sujud panjang para ulama yang menjadikan iman sebagai fondasi negeri.
Senja di Istana Raja Farouk akhirnya menjadi cermin bagi jiwa. Ia mengajak manusia merenungi hidup: tentang kekuasaan yang fana, tentang persahabatan yang bernilai amal, dan tentang sejarah yang harus dibaca dengan iman. Sebab di balik megahnya istana dan indahnya senja, ada pesan Ilahi yang abadi—bahwa hidup adalah perjalanan singkat menuju perjumpaan dengan Tuhan, dan sebaik-baik bekal adalah iman, ilmu, serta persaudaraan yang tulus.***
Mesir 2026




















