Menu

Mode Gelap
Eva Rudy Susmanto Tekankan Peran Strategis PKK di Era Digital Bupati Bogor Tetapkan Desa Gunung Putri sebagai Prototipe Desa Percontohan 2026 CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki Pacu Kinerja 2026: IPC TPK Optimalisasi Layanan Terminal dan Perkuat Sinergi melalui Berthing Window 2026 TJSL KAI Daop 1 Jakarta Salurkan Pompa Air ke Pemkot Cilegon untuk Dukung Sistem Irigasi Cegah Banjir KAI: Kinerja LRT Jabodebek Terus Melesat, Jumlah Pelanggan Tembus Lebih 57 Juta

SENI BUDAYA

CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki

badge-check


 CGR Gagas Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sastrawan dan budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan (CGR) menggagas penetapan Mei 2026 sebagai Bulan Ismail Marzuki, sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak sejarah dan karya komponis besar Indonesia sekaligus Pahlawan Nasional, Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki, yang dikenal sebagai komponis pejuang asal Tanah Betawi, lahir pada 11 Mei 1914 di Kampung Kwitang dan wafat pada 25 Mei 1958 di Kampung Bali, Tenabang. Atas jasa dan dedikasinya, namanya diabadikan sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM) oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1968, serta ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004.

Menurut CGR, penetapan bulan Mei memiliki makna historis yang kuat karena mencakup tanggal kelahiran dan wafat Ismail Marzuki. Gagasan ini juga berangkat dari proses panjang penulisan skenario film layar lebar (biopic) Ismail Marzuki yang digarap CGR sejak riset kelahiran hingga akhir hayat sang komponis.

“Ismail Marzuki adalah satu-satunya komponis nasional yang berhasil merekam setiap fase penting Revolusi Indonesia ke dalam lagu,” ujar CGR.

Sejumlah karya monumental Ismail Marzuki seperti Gugur Bunga, Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Tanah Pusaka dinilai tak hanya menanamkan nasionalisme, tetapi juga menggetarkan emosi kebangsaan. Sementara sisi romantisnya tercermin dalam lagu Juwita Malam, Sabda Alam, Aryati, hingga Payung Fantasi. Adapun karya Selamat Hari Lebaran disebut sebagai penanda sejarah sosial Islam Betawi yang tetap hidup hingga kini.

Untuk mendukung gagasan Bulan Ismail Marzuki, CGR berencana melibatkan berbagai lembaga dan komunitas, di antaranya Sinematek Indonesia, RRI, Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI, PKJ Taman Ismail Marzuki, sejumlah perguruan tinggi, akademisi, budayawan, seniman, sejarawan, serta kalangan pers. CGR menegaskan bahwa gerakan ini bersifat nasional dan terbebas dari latar belakang suku, agama, maupun kepentingan politik.

Sebagai langkah perlindungan ide, CGR menyatakan akan mendaftarkan gagasan Bulan Ismail Marzuki ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), mengingat pengalaman sebelumnya terkait konsep “Duit Betawi” yang diklaim pihak lain.

Pengakuan terhadap Ismail Marzuki juga datang dari dunia musik modern. Pada 2008, majalah Rolling Stone Indonesia menobatkannya sebagai salah satu The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Komponis musik klasik Ananda Sukarlan bahkan menggubah sejumlah karya bertajuk Concerto Marzukiana yang terinspirasi dari lagu-lagu Ismail Marzuki.

Museum yang Tak Pernah Terwujud
Dalam wawancara terpisah, CGR mengungkap fakta tragis yang ditemuinya menjelang rampungnya penulisan skenario film. Rachmi Aziah, anak semata wayang Ismail Marzuki, menyampaikan bahwa pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, barang-barang peninggalan Ismail Marzuki diminta pihak PKJ TIM dengan janji akan didirikan Museum Ismail Marzuki. Namun hingga 2017, museum tersebut tak pernah terwujud.

Menurut Rachmi, barang-barang peninggalan ayahnya justru diletakkan tanpa perawatan memadai. Bahkan, CGR mengaku tidak diperkenankan melihat langsung barang-barang tersebut oleh pengelola PKJ TIM.

Rachmi sempat menitipkan harapan kepada CGR agar memperjuangkan berdirinya museum tersebut. “Sebelum saya meninggal, saya ingin melihat museum bapak berdiri,” ucap Rachmi kepada CGR.

Film yang Tak Kunjung Diproduksi
Upaya mengangkat kisah Ismail Marzuki ke layar lebar juga menghadapi berbagai kendala. Pengajuan pembuatan film dokumenter pada 2018 ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta kandas di tahap akhir dengan alasan administratif. Upaya mencari dukungan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun tidak membuahkan hasil.

Padahal, menurut sutradara Enison Sinaro, naskah yang ditulis CGR telah dinilai matang. Hal itu diakui pula oleh Iwan Piliang dari Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN), yang menyebut skenario tersebut siap diproduksi. Namun hingga 2026, proyek film belum juga berjalan karena keterbatasan pendanaan.

Dalam skenario tersebut, CGR menggambarkan perjalanan hidup Ismail Marzuki secara utuh—mulai dari kelahiran, kisah asmara, perjalanan musikal, nasionalisme sebagai seniman, hingga wafatnya yang dramatis, dihiasi lantunan lagu-lagu ciptaannya.

Ismail Marzuki mengembuskan napas terakhir menjelang waktu Dzuhur, 25 Mei 1958, di Kampung Bali, Tenabang. Hingga kini, nada-nada ciptaannya terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari ingatan kolektif bangsa Indonesia.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pameran Tunggal Sonny Eska Angkat Makna “Atas Nama” dalam Perspektif Seni

8 Februari 2026 - 23:51 WIB

Sinetron “Istiqomah Cinta” Siap Temani Ramadan 1447 H di SCTV

5 Februari 2026 - 13:58 WIB

INDOSIAR Hadirkan “D’Academy 7 Mega Konser”, Bertabur Bintang dan Legenda Musik Indonesia

3 Februari 2026 - 16:50 WIB

Group CEO BRI Apresiasi Kinerja Pemberdayaan PNM dalam Menciptakan Nilai Ekonomi dan Dampak Sosial Berkelanjutan

3 Februari 2026 - 16:44 WIB

Catatan Halimah Munawir: Keagungan Kota Suci dan Jejak Buku di Pusat Peradaban Dunia

2 Februari 2026 - 19:25 WIB

Trending di SENI BUDAYA