Menu

Mode Gelap
KAI Daop 7 Madiun Lakukan 115 Sosialisasi Keselamatan Perlintasan Sepanjang 2025 KAI Daop 1 Jakarta Salurkan Dana TJSL Rp1,9 Miliar Sepanjang 2025 KAI dan Railfans Berkumpul di Balaiyasa Manggarai dalam Community Gathering 2026 PELNI Logistics Targetkan Bongkar Muat Tumbuh Positif di 2026, Tembus 56.482 TEUs Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja! IPC Terminal Petikemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs Sepanjang 2025

BANDARA

Cuaca Buruk di Bandara Soekarno-Hatta, AirNav Alihkan Pendaratan Sejumlah Penerbangan

badge-check


					Tower Airnav Indonesia di Bandara Soetta Perbesar

Tower Airnav Indonesia di Bandara Soetta

Wartatrans.com, TANGERANG – Hujan yang turun secara terus menerus mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak Senin pagi (12/1/2026) memaksa AirNav Indonesia melakukan sejumlah prosedur pengalihan hingga pembatalan pendaratan terhadap sejumlah penerbangan tujuan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten.

Alasannya, tak lain untuk memastikan keselamatan penerbangan. Manajemen AirNav Indonesia melalui pernyataan resminya menegaskan, langkah tersebut sebagai bagian dari prosedur keselamatan penerbangan yang harus dijalankan para petugas Air Trafic Controller (ATC) yang melakukan pemanduan.

”Langkah ini adalah bagian dari layanan navigasi yang harus kami lakukan, mengacu pada kondisi cuaca buruk yang berisiko terhadap keselamatan penerbangan. Semua dilakukan berdasarkan aturan dan ketentuan, serta dengan satu alasan, yaitu untuk keselamatan penerbangan,” jelas EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro.

Perubahan pelayanan navigasi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta itu, khususnya terjadi pada periode pukul 05.00 – 10.00 WIB, ketika hujan dengan derasnya mengguyur wilayah bandara dan sekitarnya.

Situasi tersebut menyebabkan peningkatan pergerakan pesawat yang melakukan pembatalan pendaratan (go-around) dan pengalihan pendaratan ke bandara alternatif (divert).

”Pada periode tersebut, jarak pandang (visibility) di semua landasan pacu yang ada di Soekarno- Hatta, tercatat berada di bawah 1000 meter, yang merupakan batas minimum prosedur pendaratan bagi pesawat. Kalau dipaksakan untuk terus mendarat, itu sangat membahayakan. Karena itu, kondisi ini mengakibatkan terjadinya penumpukan lalu lintas kedatangan (arrival trafic) di wilayah udara Jakarta,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari prosedur keselamatan penerbangan, petugas ATC mengantur pesawat untuk melakukan holding pada area atau pola holding yang ditetapkan.

Durasi holding berkisar antara 40 menit hingga satu jam. Pada durasi ini, jumlah pesawat yang berada dalam holding
mencapai sekitar 15 pesawat.

Selain itu, tercatat 16 pesawat diarahkan untuk melakukan divert ke bandara alternatif.

”Tujuan divert antara lain ke Palembang sebanyak dua pesawat, kemudian ke Semarang sebanyak tiga pesawat, Halim Perdanakusuma (3 pesawat), Tanjung Pandan (1 pesawat), Pangkalpinang (1 pesawat), Solo (2 pesawat), Yogyakarta International Airport/YIA (4 pesawat), dan Jambi (1 pesawat),” jelas Hermana.

Untuk diketahui, prosedur go-around, holding maupun divert, merupakan bagian dari prosedur keselamatan penerbangan yang baku dan diterapkan bila kondisi cuaca atau faktor operasional tidak memenuhi standar keselamatan. Kendati demikian, keputusan akhir tetap menjadi kewenangan pilot.

”Sementara petugas ATC memberikan informasi cuaca, kondisi lalu lintas, serta clearance sebagai rekomendasi guna memastikan separasi pesawat tetap aman,”
tegasnya.

Menurutnya, seluruh prosedur tersebut sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, serta regulasi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), termasuk Annex 2 dan Annex 6 dan CASR yang berlaku di Indonesia.

Seluruh aturan tersebut menegaskan bahwa keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama dan Pilot in Command memiliki kewenangan mengambil keputusan demi keselamatan penerbangan.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, AirNav Indonesia melakukan manajemen lalu lintas
penerbangan secara intensif melalui berbagai langkah.

“Antara lain penerapan ground delay di beberapa bandara keberangkatan untuk mengurangi kepadatan di wilayah udara Jakarta,” ungkapnya.

Di sisi lain, juga dilakukan pengaturan interval keberangkatan guna menjaga ruang udara tetap aman dan terkendali, hingga melakukan koordinasi cuaca secara berkelanjutan dengan BMKG maupun
pengelola bandara alternatif terkait kesiapan apron dan kapasitas penerimaan penerbangan divert.

”Sepanjang waktu, AirNav Indonesia terus memantau perkembangan cuaca dan lalu lintas penerbangan secara real-time. Ini adalah komitmen kami memastikan pelayanan navigasi penerbangan yang diberikan dapat optimal, selamat, aman, dan andal, sekaligus meminimalisasi dampak operasional bagi maskapai dan pengguna jasa,” pungkas Hermana. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Libur Nataru, Garuda dan Citilink Angkut 1,5 Juta Penumpang

14 Januari 2026 - 16:07 WIB

Perlindungan Konsumen Penerbangan Butuh Revolusi Regulasi

13 Januari 2026 - 20:35 WIB

Penerbangan Perdana Subsidi Perintis 2026 Korwil Gorontalo Dimulai

13 Januari 2026 - 19:19 WIB

Pelita Air Bersama Poslog Indonesia Bantu Percepatan Penyaluran Bantuan Kemanusiaan

13 Januari 2026 - 18:46 WIB

Operasional Bandara Juanda Tetap Terkendali Usai Puting Beliung

9 Januari 2026 - 16:59 WIB

Trending di BANDARA