Menu

Mode Gelap
KAI Commuter Siagakan 126 Personel di Stasiun Strategis Antisipasi Aksi Massa Kembali ke Kampus, Wabup Bireuen Razuardi Jadi Pemateri PKKMB Universitas Almuslim 2026 PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI KAI Terapkan B50, Tekan Emisi Karbon Operasional Kereta Api

PERISTIWA

Cuaca Ekstrem Mengintai Kalimantan Barat, Warga Diminta Tetap Waspada

badge-check


 Cuaca Ekstrem Mengintai Kalimantan Barat, Warga Diminta Tetap Waspada Perbesar

Wartatrans.com, KALBAR — Langit Kalimantan Barat mulai diselimuti awan gelap. Udara yang biasanya hangat kini terasa berat, menandai perubahan kondisi atmosfer yang signifikan. Dalam beberapa hari ke depan, wilayah ini diprakirakan menghadapi cuaca ekstrem akibat dinamika atmosfer yang berkembang di sekitar Indonesia.

Berdasarkan informasi meteorologi terbaru, pada 28–30 November 2025, dua sistem cuaca besar—Siklon Tropis Koto dan eks-Siklon Tropis Senyar—menciptakan pola konvergensi angin di sekitar Kalimantan Barat. Pertemuan angin dari dua sistem ini memperkuat pembentukan awan hujan sehingga memicu potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang, khususnya di kawasan pesisir dan dataran rendah.

BMKG menyebutkan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Potensi hujan intensitas sedang hingga lebat diprediksi berlanjut hingga 3 Desember 2025, sehingga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.

Selain daratan, perairan Kalimantan Barat juga diprediksi terdampak signifikan. Pada 28 November hingga 1 Desember 2025, gelombang laut berpotensi mengalami peningkatan.

Perairan Sambas menjadi titik perhatian utama dengan tinggi gelombang diprakirakan mencapai 2,5–4 meter. Kondisi ini termasuk kategori gelombang tinggi dan berpotensi membahayakan kapal nelayan, kapal wisata, maupun aktivitas logistik.

Sementara itu, perairan Singkawang–Bengkayang, Pontianak–Mempawah, Kubu Raya, dan Kayong Utara diprediksi mengalami gelombang kategori sedang. Meski tidak setinggi Sambas, risiko bagi kapal kecil tetap perlu diwaspadai.

Data pengamatan cuaca pada 27 November pukul 07.00 WIB hingga 28 November pukul 07.00 WIB menunjukkan bahwa atmosfer Kalimantan Barat berada dalam fase transisi menuju cuaca buruk. Tidak ditemukan anomali suhu ekstrem, namun terjadi variasi suhu antarwilayah: Kapuas Hulu mencatat suhu tertinggi 34,4°C, sedangkan Sambas terendah 24,1°C. Secara umum, suhu rata-rata berada di kisaran 26,4–29,4°C.

Curah hujan mulai meningkat, dengan Sambas mencatat curah hujan tertinggi sebesar 23,9 mm per hari. Kondisi ini menunjukkan fase aktif pembentukan awan hujan. Meski begitu, wilayah Kalimantan Barat sebelumnya berada dalam periode kering relatif panjang, dengan hari tanpa hujan mencapai 15 hari.

Kecepatan angin juga meningkat, dengan catatan tertinggi 15 knot di Sambas—indikasi adanya aktivitas atmosfer yang perlu diwaspadai.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak, Reny, mengingatkan bahwa hujan beberapa hari ke depan berpotensi disertai petir, kilat, dan angin kencang berdurasi singkat.

Sejumlah wilayah seperti Sambas, Mempawah, Kubu Raya, dan Kayong Utara diimbau meningkatkan kesiapsiagaan. Kawasan rawan banjir diminta bersiap menghadapi potensi limpasan air yang meningkat, sementara daerah berbukit atau tebing curam berisiko mengalami tanah longsor. Jalanan di wilayah pesisir pun berpotensi tergenang akibat kombinasi pasang air laut dan hujan deras.

“Tetap waspada dan jangan mengabaikan peringatan dini cuaca,” ujar Reny, mengingatkan bahwa cuaca ekstrem dapat berlangsung tiba-tiba dan sulit diprediksi.

Kondisi cuaca ekstrem bukanlah hal baru bagi Kalimantan Barat. Namun, setiap peristiwa memerlukan kewaspadaan yang konsisten. Langit yang awalnya cerah dapat berubah menjadi badai dalam hitungan menit.

Meski demikian, seperti badai yang selalu berlalu, fase ekstrem ini juga akan mereda pada waktunya. Yang diperlukan adalah kesiapan, ketenangan, dan sikap waspada menghadapi setiap kemungkinan.*** (LonyenkRap)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kembali ke Kampus, Wabup Bireuen Razuardi Jadi Pemateri PKKMB Universitas Almuslim 2026

27 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Pelindo Solusi Digital Hadirkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Sekitar Pelabuhan Tanjung Priok

27 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Dukung Kebijakan Logistik Nasional, IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real-Time kepada Bappenas RI

27 Agustus 2026 - 05:38 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324

26 Agustus 2026 - 17:22 WIB

Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI

26 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur

26 Agustus 2026 - 15:03 WIB

KKP Intensifkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Donasi Terkumpul Rp920 Juta

26 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Lomba Tahfiz Warnai Peringatan HUT RI dan Maulid Nabi di Sukadanau

26 Agustus 2026 - 12:52 WIB

Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

26 Agustus 2026 - 08:16 WIB

Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia

25 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Trending di RAGAM