Menu ✖

Mode Gelap
INACA Dorong Percepatan Pembebasan Pajak Suku Cadang Pesawat AHY Menanggapi Penghentian Pembangunan Pusat Data AI oleh Gubernur Jabar KDM Ditjenpas Jabar Gandeng PWI untuk Perkuat Komunikasi Publik Alam Pedang Berkibar di Takengon, Zam Zam Mubarak: Momentum Kebangkitan Identitas Historis Gayo H. Fikri Prihatin Kenakalan Remaja Kembali Marak di Kabupaten Bogor, Semua Pihak Diminta Turun Tangan Prabowo dan El-Sisi Sepakati Empat Kerja Sama Strategis, Indonesia–Mesir Perkuat Kemitraan Ekonomi hingga Pertahanan

PERISTIWA

Cuaca Ekstrem Mengintai Kalimantan Barat, Warga Diminta Tetap Waspada

badge-check


 Cuaca Ekstrem Mengintai Kalimantan Barat, Warga Diminta Tetap Waspada Perbesar

Wartatrans.com, KALBAR — Langit Kalimantan Barat mulai diselimuti awan gelap. Udara yang biasanya hangat kini terasa berat, menandai perubahan kondisi atmosfer yang signifikan. Dalam beberapa hari ke depan, wilayah ini diprakirakan menghadapi cuaca ekstrem akibat dinamika atmosfer yang berkembang di sekitar Indonesia.

Berdasarkan informasi meteorologi terbaru, pada 28–30 November 2025, dua sistem cuaca besar—Siklon Tropis Koto dan eks-Siklon Tropis Senyar—menciptakan pola konvergensi angin di sekitar Kalimantan Barat. Pertemuan angin dari dua sistem ini memperkuat pembentukan awan hujan sehingga memicu potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang, khususnya di kawasan pesisir dan dataran rendah.

BMKG menyebutkan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Potensi hujan intensitas sedang hingga lebat diprediksi berlanjut hingga 3 Desember 2025, sehingga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.

Selain daratan, perairan Kalimantan Barat juga diprediksi terdampak signifikan. Pada 28 November hingga 1 Desember 2025, gelombang laut berpotensi mengalami peningkatan.

Perairan Sambas menjadi titik perhatian utama dengan tinggi gelombang diprakirakan mencapai 2,5–4 meter. Kondisi ini termasuk kategori gelombang tinggi dan berpotensi membahayakan kapal nelayan, kapal wisata, maupun aktivitas logistik.

Sementara itu, perairan Singkawang–Bengkayang, Pontianak–Mempawah, Kubu Raya, dan Kayong Utara diprediksi mengalami gelombang kategori sedang. Meski tidak setinggi Sambas, risiko bagi kapal kecil tetap perlu diwaspadai.

Data pengamatan cuaca pada 27 November pukul 07.00 WIB hingga 28 November pukul 07.00 WIB menunjukkan bahwa atmosfer Kalimantan Barat berada dalam fase transisi menuju cuaca buruk. Tidak ditemukan anomali suhu ekstrem, namun terjadi variasi suhu antarwilayah: Kapuas Hulu mencatat suhu tertinggi 34,4°C, sedangkan Sambas terendah 24,1°C. Secara umum, suhu rata-rata berada di kisaran 26,4–29,4°C.

Curah hujan mulai meningkat, dengan Sambas mencatat curah hujan tertinggi sebesar 23,9 mm per hari. Kondisi ini menunjukkan fase aktif pembentukan awan hujan. Meski begitu, wilayah Kalimantan Barat sebelumnya berada dalam periode kering relatif panjang, dengan hari tanpa hujan mencapai 15 hari.

Kecepatan angin juga meningkat, dengan catatan tertinggi 15 knot di Sambas—indikasi adanya aktivitas atmosfer yang perlu diwaspadai.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak, Reny, mengingatkan bahwa hujan beberapa hari ke depan berpotensi disertai petir, kilat, dan angin kencang berdurasi singkat.

Sejumlah wilayah seperti Sambas, Mempawah, Kubu Raya, dan Kayong Utara diimbau meningkatkan kesiapsiagaan. Kawasan rawan banjir diminta bersiap menghadapi potensi limpasan air yang meningkat, sementara daerah berbukit atau tebing curam berisiko mengalami tanah longsor. Jalanan di wilayah pesisir pun berpotensi tergenang akibat kombinasi pasang air laut dan hujan deras.

“Tetap waspada dan jangan mengabaikan peringatan dini cuaca,” ujar Reny, mengingatkan bahwa cuaca ekstrem dapat berlangsung tiba-tiba dan sulit diprediksi.

Kondisi cuaca ekstrem bukanlah hal baru bagi Kalimantan Barat. Namun, setiap peristiwa memerlukan kewaspadaan yang konsisten. Langit yang awalnya cerah dapat berubah menjadi badai dalam hitungan menit.

Meski demikian, seperti badai yang selalu berlalu, fase ekstrem ini juga akan mereda pada waktunya. Yang diperlukan adalah kesiapan, ketenangan, dan sikap waspada menghadapi setiap kemungkinan.*** (LonyenkRap)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ditjenpas Jabar Gandeng PWI untuk Perkuat Komunikasi Publik

13 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Alam Pedang Berkibar di Takengon, Zam Zam Mubarak: Momentum Kebangkitan Identitas Historis Gayo

13 Oktober 2026 - 15:21 WIB

H. Fikri Prihatin Kenakalan Remaja Kembali Marak di Kabupaten Bogor, Semua Pihak Diminta Turun Tangan

13 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Prabowo dan El-Sisi Sepakati Empat Kerja Sama Strategis, Indonesia–Mesir Perkuat Kemitraan Ekonomi hingga Pertahanan

13 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Kabut Asap Kepung Fakfak, Warga Bertahan di Rumah, Kualitas Udara Mengancam Kesehatan

13 Oktober 2026 - 12:30 WIB

Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam

12 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan

12 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

12 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

12 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Rocky Gerung Minta Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ingatkan Prabowo Jangan Terseret Polemik

12 Oktober 2026 - 16:40 WIB

Trending di RAGAM