Menu

Mode Gelap
InJourney Airports Kebut Transformasi Bandara Soekarno-Hatta Menuju 10 Besar Dunia 2029 Pelabuhan Patimban Mulai Layani Rute Peti Kemas Internasional ke Malaysia Anwar Aras: Gen Z Harus Kuasai Media Digital untuk Menebar Dakwah Perang Apparel Piala Dunia 2026: Hegemoni, Inovasi, dan Cuan Raksasa di Panggung 11 Miliar Dolar Paradoks Sampah: Swedia Sudah Impor Limbah, RI Kebakaran TPA Hingga 10 Hari Rp80 Triliun Subsidi Mobil Listrik, Industri Untung Rakyat Tetap Naik Motor

PERISTIWA

Cuaca Ekstrem Mengintai Kalimantan Barat, Warga Diminta Tetap Waspada

badge-check


 Cuaca Ekstrem Mengintai Kalimantan Barat, Warga Diminta Tetap Waspada Perbesar

Wartatrans.com, KALBAR — Langit Kalimantan Barat mulai diselimuti awan gelap. Udara yang biasanya hangat kini terasa berat, menandai perubahan kondisi atmosfer yang signifikan. Dalam beberapa hari ke depan, wilayah ini diprakirakan menghadapi cuaca ekstrem akibat dinamika atmosfer yang berkembang di sekitar Indonesia.

Berdasarkan informasi meteorologi terbaru, pada 28–30 November 2025, dua sistem cuaca besar—Siklon Tropis Koto dan eks-Siklon Tropis Senyar—menciptakan pola konvergensi angin di sekitar Kalimantan Barat. Pertemuan angin dari dua sistem ini memperkuat pembentukan awan hujan sehingga memicu potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang, khususnya di kawasan pesisir dan dataran rendah.

BMKG menyebutkan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Potensi hujan intensitas sedang hingga lebat diprediksi berlanjut hingga 3 Desember 2025, sehingga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.

Selain daratan, perairan Kalimantan Barat juga diprediksi terdampak signifikan. Pada 28 November hingga 1 Desember 2025, gelombang laut berpotensi mengalami peningkatan.

Perairan Sambas menjadi titik perhatian utama dengan tinggi gelombang diprakirakan mencapai 2,5–4 meter. Kondisi ini termasuk kategori gelombang tinggi dan berpotensi membahayakan kapal nelayan, kapal wisata, maupun aktivitas logistik.

Sementara itu, perairan Singkawang–Bengkayang, Pontianak–Mempawah, Kubu Raya, dan Kayong Utara diprediksi mengalami gelombang kategori sedang. Meski tidak setinggi Sambas, risiko bagi kapal kecil tetap perlu diwaspadai.

Data pengamatan cuaca pada 27 November pukul 07.00 WIB hingga 28 November pukul 07.00 WIB menunjukkan bahwa atmosfer Kalimantan Barat berada dalam fase transisi menuju cuaca buruk. Tidak ditemukan anomali suhu ekstrem, namun terjadi variasi suhu antarwilayah: Kapuas Hulu mencatat suhu tertinggi 34,4°C, sedangkan Sambas terendah 24,1°C. Secara umum, suhu rata-rata berada di kisaran 26,4–29,4°C.

Curah hujan mulai meningkat, dengan Sambas mencatat curah hujan tertinggi sebesar 23,9 mm per hari. Kondisi ini menunjukkan fase aktif pembentukan awan hujan. Meski begitu, wilayah Kalimantan Barat sebelumnya berada dalam periode kering relatif panjang, dengan hari tanpa hujan mencapai 15 hari.

Kecepatan angin juga meningkat, dengan catatan tertinggi 15 knot di Sambas—indikasi adanya aktivitas atmosfer yang perlu diwaspadai.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak, Reny, mengingatkan bahwa hujan beberapa hari ke depan berpotensi disertai petir, kilat, dan angin kencang berdurasi singkat.

Sejumlah wilayah seperti Sambas, Mempawah, Kubu Raya, dan Kayong Utara diimbau meningkatkan kesiapsiagaan. Kawasan rawan banjir diminta bersiap menghadapi potensi limpasan air yang meningkat, sementara daerah berbukit atau tebing curam berisiko mengalami tanah longsor. Jalanan di wilayah pesisir pun berpotensi tergenang akibat kombinasi pasang air laut dan hujan deras.

“Tetap waspada dan jangan mengabaikan peringatan dini cuaca,” ujar Reny, mengingatkan bahwa cuaca ekstrem dapat berlangsung tiba-tiba dan sulit diprediksi.

Kondisi cuaca ekstrem bukanlah hal baru bagi Kalimantan Barat. Namun, setiap peristiwa memerlukan kewaspadaan yang konsisten. Langit yang awalnya cerah dapat berubah menjadi badai dalam hitungan menit.

Meski demikian, seperti badai yang selalu berlalu, fase ekstrem ini juga akan mereda pada waktunya. Yang diperlukan adalah kesiapan, ketenangan, dan sikap waspada menghadapi setiap kemungkinan.*** (LonyenkRap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Paradoks Sampah: Swedia Sudah Impor Limbah, RI Kebakaran TPA Hingga 10 Hari

12 Juli 2026 - 15:12 WIB

Normalisasi Ciliwung Telan Anggaran Rp300 M: 1 RT Pasti Hilang, Banjir Belum Tentu 

12 Juli 2026 - 15:05 WIB

390 Ton Logam Tanah Jarang Bocor, Hilirisasi Indonesia Sangat Dipertanyakan

12 Juli 2026 - 15:01 WIB

IPC TPK Rayakan 13 Tahun dengan Semangat ESG, Hadirkan Pertumbuhan yang Berdampak Positif

12 Juli 2026 - 07:11 WIB

Akhirnya, Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus

11 Juli 2026 - 07:53 WIB

Jum’at Berkah Aceh Bangun Ukhuwah Lewat Segelas Kopi dan Sepotong Kue di Masjid tansaran 

10 Juli 2026 - 20:37 WIB

Nobar Perempatfinal Hingga Final Piala Dunia 2026 Dihadirkan InJourney Airports di 7 Bandara

10 Juli 2026 - 18:55 WIB

Febrie Setelah Digeledah Tegaskan Tidak Mundur, Penanganan Kasus Asabri hingga MBG Tetap Berjalan

10 Juli 2026 - 18:07 WIB

Omah Jangan Diam Terus, Resto di Depok yang Menyajikan Kelezatan, Perjalanan, dan Nilai Kemanusiaan

10 Juli 2026 - 17:05 WIB

Pelita Air Hadirkan Senandung Musikal Maliq & D’Essentials di Penerbangan

10 Juli 2026 - 15:42 WIB

Trending di EKOBIS