Wartatrans.com, ACEH — Hingga hari keenam pascabencana banjir dan longsor yang melanda Dataran Tinggi Gayo, akses komunikasi di Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah masih lumpuh total. Kondisi ini membuat warga Gayo di perantauan, termasuk di luar negeri, belum dapat memastikan keadaan keluarga mereka di kampung halaman.
“Sampai pagi ini saya masih belum bisa berkomunikasi dengan keluarga di Takengon. Kemarin adik sepupu di Timang Gajah, Bener Meriah, sempat menelpon balik menggunakan Starlink, tetapi hanya sebentar dan terputus karena kendala jaringan,” ujar Yusradi Usman al-Gayoni, Diaspora Indonesia-Inggris, melalui pesan WhatsApp, Minggu pagi waktu UK (30/11/2025).

“Alhamdulillah keluarga di Timang Gajah tidak apa-apa. Hanya saja, jalan dari Ronga-Ronga ke Umah Besi terputus,” tambahnya.
Melihat situasi yang semakin mendesak, Yusradi meminta pemerintah pusat melalui kementerian terkait untuk segera memaksimalkan Bandara Rembele sebagai jalur utama mobilisasi penumpang dan distribusi bantuan ke wilayah Gayo, khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Menurutnya, pengiriman kebutuhan mendesak seperti makanan, minuman, obat-obatan, BBM, serta peralatan perbaikan telekomunikasi, listrik, jalan, dan jembatan harus diprioritaskan mengingat akses darat saat ini sebagian besar tidak dapat dilalui.
“Mengingat jalan dan jembatan ke dan dari Gayo terputus, termasuk antarwilayah di Gayonya sendiri, satu-satunya jalur yang paling memungkinkan saat ini adalah melalui udara,” jelas Yusradi, yang juga merupakan anggota Tim Pengembangan Kawasan Gayo-Alas Kemenko PMK (2018–2024) sekaligus inisiator World Gayonese Community (Diaspora Gayo Dunia).
Ia menegaskan, penggunaan Bandara Rembele secara optimal akan mempercepat penyaluran bantuan serta upaya perbaikan fasilitas di lapangan. Hal ini juga memungkinkan bantuan dari Pemerintah Aceh menjangkau wilayah tengah Aceh secara merata, tidak hanya terkonsentrasi di daerah pesisir.
“Dengan kondisi sulit di lapangan—jalan dan jembatan terputus, komunikasi lumpuh, BBM dan listrik tidak tersedia, serta stok makanan dan obat-obatan makin menipis—masyarakat sangat membutuhkan bantuan yang cepat dan maksimal. Pemerintah kabupaten di wilayah Gayo juga memiliki keterbatasan,” tegasnya.*** (Jasa)









