Menu

Mode Gelap
KAI Daop 7 Madiun Lakukan 115 Sosialisasi Keselamatan Perlintasan Sepanjang 2025 KAI Daop 1 Jakarta Salurkan Dana TJSL Rp1,9 Miliar Sepanjang 2025 KAI dan Railfans Berkumpul di Balaiyasa Manggarai dalam Community Gathering 2026 PELNI Logistics Targetkan Bongkar Muat Tumbuh Positif di 2026, Tembus 56.482 TEUs Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja! IPC Terminal Petikemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs Sepanjang 2025

RAGAM

Diaspora Gayo di Luar Negeri Masih Kesulitan Hubungi Keluarga, Minta Pemerintah Optimalkan Bandara Rembele

badge-check


					Diaspora Gayo di Luar Negeri Masih Kesulitan Hubungi Keluarga, Minta Pemerintah Optimalkan Bandara Rembele Perbesar

Wartatrans.com, ACEH — Hingga hari keenam pascabencana banjir dan longsor yang melanda Dataran Tinggi Gayo, akses komunikasi di Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah masih lumpuh total. Kondisi ini membuat warga Gayo di perantauan, termasuk di luar negeri, belum dapat memastikan keadaan keluarga mereka di kampung halaman.

“Sampai pagi ini saya masih belum bisa berkomunikasi dengan keluarga di Takengon. Kemarin adik sepupu di Timang Gajah, Bener Meriah, sempat menelpon balik menggunakan Starlink, tetapi hanya sebentar dan terputus karena kendala jaringan,” ujar Yusradi Usman al-Gayoni, Diaspora Indonesia-Inggris, melalui pesan WhatsApp, Minggu pagi waktu UK (30/11/2025).

“Alhamdulillah keluarga di Timang Gajah tidak apa-apa. Hanya saja, jalan dari Ronga-Ronga ke Umah Besi terputus,” tambahnya.

Melihat situasi yang semakin mendesak, Yusradi meminta pemerintah pusat melalui kementerian terkait untuk segera memaksimalkan Bandara Rembele sebagai jalur utama mobilisasi penumpang dan distribusi bantuan ke wilayah Gayo, khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Menurutnya, pengiriman kebutuhan mendesak seperti makanan, minuman, obat-obatan, BBM, serta peralatan perbaikan telekomunikasi, listrik, jalan, dan jembatan harus diprioritaskan mengingat akses darat saat ini sebagian besar tidak dapat dilalui.

“Mengingat jalan dan jembatan ke dan dari Gayo terputus, termasuk antarwilayah di Gayonya sendiri, satu-satunya jalur yang paling memungkinkan saat ini adalah melalui udara,” jelas Yusradi, yang juga merupakan anggota Tim Pengembangan Kawasan Gayo-Alas Kemenko PMK (2018–2024) sekaligus inisiator World Gayonese Community (Diaspora Gayo Dunia).

Ia menegaskan, penggunaan Bandara Rembele secara optimal akan mempercepat penyaluran bantuan serta upaya perbaikan fasilitas di lapangan. Hal ini juga memungkinkan bantuan dari Pemerintah Aceh menjangkau wilayah tengah Aceh secara merata, tidak hanya terkonsentrasi di daerah pesisir.

“Dengan kondisi sulit di lapangan—jalan dan jembatan terputus, komunikasi lumpuh, BBM dan listrik tidak tersedia, serta stok makanan dan obat-obatan makin menipis—masyarakat sangat membutuhkan bantuan yang cepat dan maksimal. Pemerintah kabupaten di wilayah Gayo juga memiliki keterbatasan,” tegasnya.*** (Jasa)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Long Weekend Telah Tiba: DAMRI Hadirkan Promo Perjalanan ke Yogyakarta dan Denpasar, Mulai 200 Ribuan Aja!

14 Januari 2026 - 20:52 WIB

IPC Terminal Petikemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs Sepanjang 2025

14 Januari 2026 - 20:34 WIB

Catatan Halimah Munawir: Pulang Tanpa Pemberitahuan

14 Januari 2026 - 19:48 WIB

Direktur CV Tanoga Trading Company Salurkan Bantuan dari BFLF untuk Korban Banjir Bandang di Desa Tebuk Aceh Tengah

14 Januari 2026 - 15:41 WIB

Relawan Salurkan Bantuan dan Air Bersih untuk Korban Bencana di Silihnara

14 Januari 2026 - 13:19 WIB

Trending di PERISTIWA