Wartatrans.com, JAKARTA — Ada satu masalah mendasar dalam tradisi pembacaan puisi kita: terlalu banyak kontrol, terlalu sedikit tubuh.
Yang disebut “deklamasi” itu, kalau dibedah secara teknis, sebenarnya hanyalah paket lama yang berisi beberapa hal: manipulasi intonasi yang berlebihan, jeda yang diprogram seperti tanda baca mekanis, dan artikulasi yang terlalu sadar diri. Hasil akhirnya bukan performa, tapi simulasi performa, sebuah vocal rendering yang kehilangan urgensi.

Puisi seperti “Huesca” tidak membutuhkan itu.
Ia bekerja dengan tegangan yang lebih sederhana tapi lebih berbahaya: direct address, repetisi emosional, dan kesadaran akan kematian yang tidak disamarkan oleh metafora kompleks. Lihat saja:
“Aku cemas bisa kehilangan kau
Aku cemas pada kecemasanku sendiri”
Secara struktural, ini adalah bentuk repetisi paralel, hampir seperti looping syntax. Tapi dalam praktik deklamasi konvensional, repetisi ini justru diperlakukan sebagai kesempatan untuk variasi intonasi, bukan intensifikasi makna.
Padahal, kalau dibaca secara flat affect, atau setidaknya dengan kontrol napas yang jujur, repetisi itu akan terasa seperti gangguan mental kecil yang tidak selesai. Dan di situlah kekuatannya.
Slam, dalam pengertian teknisnya, bukan sekadar gaya membaca yang lebih keras atau lebih ekspresif. Ia menggeser pusat dari textual authority ke performative embodiment.
Artinya: makna tidak hanya ada di kata, tapi di cara tubuh memproduksi kata itu.
Kalimat seperti:
“Dan jika untung malang menghamparkan
Aku dalam kuburan dangkal”
dalam mode deklamasi akan dibaca dengan penekanan dramatis pada “kuburan dangkal”, seolah-olah itu klimaks. Tapi dalam pendekatan slam, justru yang penting adalah distribusi napas, apakah baris itu diucapkan dalam satu tarikan, apakah ada micro-pause, apakah suara sedikit retak.
Dengan kata lain: bukan apa yang ditekankan, tapi bagaimana tubuh gagal menyembunyikan beban kalimat itu.
Masalah dengan gaya deklamator adalah obsesinya terhadap clarity of delivery. Semua harus terdengar jelas, bersih, terstruktur. Tapi “Huesca” tidak ditulis untuk kejelasan semacam itu.
Puisi ini punya temporal instability. Ia bergerak antara masa kini, ingatan, dan kemungkinan masa depan (kematian) tanpa transisi yang rapi. Dalam kerangka teknis, ini bisa dibaca sebagai bentuk collapsed temporality.
Namun, dalam praktik pembacaan yang terlalu dikontrol, semua itu dirapikan. Waktu diluruskan. Emosi disusun. Dan yang tersisa hanyalah narasi yang jinak.
Ada juga persoalan register.
Deklamasi cenderung memaksakan satu register tinggi, seolah semua puisi harus terdengar “penting”. Padahal “Huesca” justru bekerja karena ketegangan antara yang biasa dan yang ekstrem.
Baris seperti:
“Kenanglah, sayang, dengan mesra”
secara leksikal hampir banal. Ini bahasa cinta yang bisa muncul di mana saja. Tapi justru karena ditempatkan di dalam konteks perang, ia menghasilkan semantic dissonance, ketidakcocokan yang menyakitkan.
Dalam pembacaan slam, disonansi ini bisa dipertahankan, bahkan diperkuat, dengan tidak “menaikkan” register secara artifisial. Biarkan ia terdengar biasa. Hampir canggung.
Karena memang begitu cara cinta bekerja ketika berdekatan dengan kematian: tidak puitis, hanya mendesak.
Yang sering dilupakan adalah bahwa puisi ini ditulis dalam kondisi ekstrem, 8 Desember 1936. Itu bukan catatan kaki sejarah; itu bagian dari performative context.
Setiap pembacaan, secara teknis, adalah bentuk re-enactment. Tapi deklamasi mengubahnya menjadi recitation. Ada jarak aman antara pembaca dan teks.
Slam, setidaknya secara ideal, mencoba menghapus jarak itu. Atau minimal, memperlihatkan bahwa jarak itu ada.
Dan itu tidak nyaman. Ada dimensi komikal yang tidak bisa dihindari di sini, ketika baris:
“Jiwa di dunia yang hilang jiwa”
Dibacakan dengan vibrato berlebihan dan gesture tangan yang terlalu sadar panggung, kita masuk ke wilayah unintentional parody. Tragedi berubah menjadi karikatur.
Ini bukan salah teks. Ini kegagalan delivery system.
Dalam istilah performa: terjadi over-signification. Terlalu banyak sinyal emosional sehingga tidak ada yang benar-benar terbaca.
Yang menarik, pendekatan slam juga tidak bebas dari masalah. Ia bisa jatuh ke over-performance, ke gestur yang terlalu sadar akan audiens, ke ritme yang klise. Tapi setidaknya, ia mengakui bahwa pembacaan puisi adalah peristiwa tubuh, bukan sekadar transmisi teks.
Dan mungkin itu yang hilang dari tradisi deklamasi: risiko.
Risiko terdengar salah.
Risiko terlalu datar.
Risiko terlalu jujur.
Membaca “Huesca” bukan soal memilih gaya yang lebih modern atau lebih lama. Ini soal memahami materiality of language, bahwa kata-kata ini membawa beban yang tidak bisa sepenuhnya dikontrol.
Jika dibacakan tanpa pelindung teknik yang berlebihan, yang tersisa hanyalah struktur paling dasar:
sebuah suara,
yang mencoba mengatakan sesuatu sebelum semuanya berakhir.
Dan mungkin, secara teknis maupun manusiawi, itu sudah cukup.
Atau lebih tepatnya: itu satu-satunya yang pernah kita punya.*** (Irzi)



























