Wartatrans.com, BANDA ACEH – Dunia akademik dan kebudayaan Aceh kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Dr. Iskandar, resmi meraih gelar Doktor Seni dari Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Capaian tersebut menjadikan Iskandar sebagai doktor pertama di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV) asal Aceh. Keberhasilannya sekaligus menghadirkan paradigma baru dalam pengembangan ilmu desain melalui konsep Desain Kebudayaan, yang menempatkan warisan budaya sebagai objek kajian utama dalam disiplin DKV.

Gelar doktor diraih melalui disertasi berjudul “Batu Nisan Aceh sebagai Media Komunikasi Budaya: Transformasi Makna dan Fungsi Komunikasi Visual dalam Perspektif Desain Komunikasi Visual.”
Dalam penelitiannya, Iskandar mengemukakan bahwa Desain Komunikasi Visual tidak hanya berperan sebagai ilmu yang menghasilkan media komunikasi visual, tetapi juga dapat digunakan sebagai pendekatan ilmiah untuk membaca, menafsirkan, dan merekonstruksi makna budaya yang tersimpan dalam berbagai artefak sejarah.
Ia mengkaji Batu Nisan Aceh sebagai media komunikasi budaya yang merekam pesan-pesan visual mengenai religiusitas, identitas sosial, kekuasaan, hingga memori kolektif masyarakat Aceh pada masa Kesultanan. Dengan memadukan pendekatan DKV dan semiotika, penelitian tersebut menunjukkan bahwa bentuk, kaligrafi, ornamen, komposisi, serta struktur visual batu nisan merupakan sistem komunikasi yang dapat dibaca layaknya sebuah bahasa visual.
Dari hasil kajian tersebut lahir gagasan Desain Kebudayaan, yakni perluasan paradigma DKV yang menjadikan manuskrip kuno, ragam hias, arsitektur tradisional, hingga berbagai artefak budaya sebagai media komunikasi visual yang menyimpan nilai, pengetahuan, dan identitas suatu peradaban.
Menurut Iskandar, ancaman terbesar terhadap keberadaan Batu Nisan Aceh saat ini bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga semakin hilangnya kemampuan masyarakat dalam memahami makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Karena itu, pelestarian warisan budaya tidak cukup dilakukan melalui konservasi benda semata, melainkan juga dengan menghidupkan kembali pemahaman masyarakat terhadap pesan-pesan budaya yang diwariskan para leluhur.
Lahir di Gampong Seulunyok, Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara, Iskandar merupakan putra pasangan Ramlah Luthan dan almarhum Ishak Yusuf. Selain mengajar di Program Studi DKV ISBI Aceh, ia juga aktif sebagai peneliti, desainer, kurator, dan pegiat pelestarian budaya Aceh.
Selama menempuh pendidikan doktoral di ISI Surakarta, Iskandar dibimbing oleh Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutieningrum, M.Hum. sebagai promotor, serta Prof. Dr. Irwan Abdullah dan Dr. Drs. Isd. Sumbo Tinarbuko, M.Sn. sebagai ko-promotor.
Ia berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian tertutup di hadapan dewan penguji yang dipimpin Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn., sehingga resmi menyandang gelar Doktor Seni.
Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting bagi perkembangan keilmuan Desain Komunikasi Visual di Aceh maupun Indonesia. Melalui konsep Desain Kebudayaan, Dr. Iskandar berharap desain tidak hanya menjadi sarana komunikasi visual, tetapi juga berperan sebagai jembatan untuk menghidupkan kembali makna warisan budaya serta memperkuat identitas dan memori kolektif bangsa di tengah dinamika perkembangan zaman.*** (Kamaruzzaman)

























