Menu

Mode Gelap
Pelindo Sambut Menteri Transportasi Arab Saudi, Bahas Potensi Kerja Sama Kepelabuhanan dan Logistik KAI Gunakan B50 pada Lokomotif, Distribusi BBM Semester I 2026 Ikut Meningkat IDSurvey dan Danantara Investment Management Jalin Kerja Sama Strategis Dukung Pengembangan Sistem Pengolahan Sampah Terintegrasi Terminal Teluk Lamong Gandeng BRIN Petakan Biota Laut, Perkuat Komitmen Pelestarian Lingkungan Mulai Rp5.000 Saja, DAMRI Antar Wisatawan dari Kota Denpasar ke Desa Wisata Penglipuran Modernisasi Alat, IPC TPK Panjang Resmi Operasikan QCC 004

SUMBER DAYA

Dr. Iskandar Torehkan Sejarah, Jadi Doktor Pertama Desain Komunikasi Visual Asal Aceh

badge-check


 Dr. Iskandar Torehkan Sejarah, Jadi Doktor Pertama Desain Komunikasi Visual Asal Aceh Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH – Dunia akademik dan kebudayaan Aceh kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Dr. Iskandar, resmi meraih gelar Doktor Seni dari Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Capaian tersebut menjadikan Iskandar sebagai doktor pertama di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV) asal Aceh. Keberhasilannya sekaligus menghadirkan paradigma baru dalam pengembangan ilmu desain melalui konsep Desain Kebudayaan, yang menempatkan warisan budaya sebagai objek kajian utama dalam disiplin DKV.

Gelar doktor diraih melalui disertasi berjudul “Batu Nisan Aceh sebagai Media Komunikasi Budaya: Transformasi Makna dan Fungsi Komunikasi Visual dalam Perspektif Desain Komunikasi Visual.”

Dalam penelitiannya, Iskandar mengemukakan bahwa Desain Komunikasi Visual tidak hanya berperan sebagai ilmu yang menghasilkan media komunikasi visual, tetapi juga dapat digunakan sebagai pendekatan ilmiah untuk membaca, menafsirkan, dan merekonstruksi makna budaya yang tersimpan dalam berbagai artefak sejarah.

Ia mengkaji Batu Nisan Aceh sebagai media komunikasi budaya yang merekam pesan-pesan visual mengenai religiusitas, identitas sosial, kekuasaan, hingga memori kolektif masyarakat Aceh pada masa Kesultanan. Dengan memadukan pendekatan DKV dan semiotika, penelitian tersebut menunjukkan bahwa bentuk, kaligrafi, ornamen, komposisi, serta struktur visual batu nisan merupakan sistem komunikasi yang dapat dibaca layaknya sebuah bahasa visual.

Dari hasil kajian tersebut lahir gagasan Desain Kebudayaan, yakni perluasan paradigma DKV yang menjadikan manuskrip kuno, ragam hias, arsitektur tradisional, hingga berbagai artefak budaya sebagai media komunikasi visual yang menyimpan nilai, pengetahuan, dan identitas suatu peradaban.

Menurut Iskandar, ancaman terbesar terhadap keberadaan Batu Nisan Aceh saat ini bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga semakin hilangnya kemampuan masyarakat dalam memahami makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Karena itu, pelestarian warisan budaya tidak cukup dilakukan melalui konservasi benda semata, melainkan juga dengan menghidupkan kembali pemahaman masyarakat terhadap pesan-pesan budaya yang diwariskan para leluhur.

Lahir di Gampong Seulunyok, Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara, Iskandar merupakan putra pasangan Ramlah Luthan dan almarhum Ishak Yusuf. Selain mengajar di Program Studi DKV ISBI Aceh, ia juga aktif sebagai peneliti, desainer, kurator, dan pegiat pelestarian budaya Aceh.

Selama menempuh pendidikan doktoral di ISI Surakarta, Iskandar dibimbing oleh Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutieningrum, M.Hum. sebagai promotor, serta Prof. Dr. Irwan Abdullah dan Dr. Drs. Isd. Sumbo Tinarbuko, M.Sn. sebagai ko-promotor.

Ia berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian tertutup di hadapan dewan penguji yang dipimpin Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn., sehingga resmi menyandang gelar Doktor Seni.

Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting bagi perkembangan keilmuan Desain Komunikasi Visual di Aceh maupun Indonesia. Melalui konsep Desain Kebudayaan, Dr. Iskandar berharap desain tidak hanya menjadi sarana komunikasi visual, tetapi juga berperan sebagai jembatan untuk menghidupkan kembali makna warisan budaya serta memperkuat identitas dan memori kolektif bangsa di tengah dinamika perkembangan zaman.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelindo Sambut Menteri Transportasi Arab Saudi, Bahas Potensi Kerja Sama Kepelabuhanan dan Logistik

14 Juli 2026 - 21:46 WIB

IDSurvey dan Danantara Investment Management Jalin Kerja Sama Strategis Dukung Pengembangan Sistem Pengolahan Sampah Terintegrasi

14 Juli 2026 - 20:49 WIB

Terminal Teluk Lamong Gandeng BRIN Petakan Biota Laut, Perkuat Komitmen Pelestarian Lingkungan

14 Juli 2026 - 20:39 WIB

Mulai Rp5.000 Saja, DAMRI Antar Wisatawan dari Kota Denpasar ke Desa Wisata Penglipuran

14 Juli 2026 - 20:22 WIB

Modernisasi Alat, IPC TPK Panjang Resmi Operasikan QCC 004

14 Juli 2026 - 20:13 WIB

Senat STKIP YPUP Makassar Gelar PKD, Upgrading, dan Raker untuk Bangkitkan Semangat Berorganisasi

14 Juli 2026 - 15:13 WIB

Sambut Delegasi Kanada, Pelindo Solusi Digital Buka Gerbang Kolaborasi Global untuk Maritim Digital Indonesia

14 Juli 2026 - 10:06 WIB

Pelindo dan Pemprov Sumsel Dorong Percepatan Pembentukan BUP Tanjung Carat

13 Juli 2026 - 12:36 WIB

Dugaan Keropsi Kantin Sma 3 Medan: Dari 6 Jadi 12 Unit Tanpa Musyawarah, Monopoli Guru Dan Uang Sewa Tak Jelas

12 Juli 2026 - 23:19 WIB

Anwar Aras: Gen Z Harus Kuasai Media Digital untuk Menebar Dakwah

12 Juli 2026 - 15:44 WIB

Trending di SUMBER DAYA