Menu ✖

Mode Gelap
KAI Angkut 2,04 Juta Ton BBM hingga September 2026, Naik 3,92 Persen Tanjung Perak jadi Pelabuhan Uji Coba Pertama Penertiban Kendaraan ODOL Hendak Naik Kapal Banjir dan Longsor Lumpuhkan Akses Blangkejeren–Kutacane, Aktivitas Ekonomi Warga Terancam Rocky Gerung Diminta Tak Lagi Desak Gibran Mundur, Kebebasan Berpendapat dan Etika Kekuasaan Jadi Sorotan KSOP Muara Angke Kampanye Pemeriksaan Kapal Terkonsentrasi Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

SUMBER DAYA

Dr. Iskandar Torehkan Sejarah, Jadi Doktor Pertama Desain Komunikasi Visual Asal Aceh

badge-check


 Dr. Iskandar Torehkan Sejarah, Jadi Doktor Pertama Desain Komunikasi Visual Asal Aceh Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH – Dunia akademik dan kebudayaan Aceh kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Dr. Iskandar, resmi meraih gelar Doktor Seni dari Program Doktor Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Capaian tersebut menjadikan Iskandar sebagai doktor pertama di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV) asal Aceh. Keberhasilannya sekaligus menghadirkan paradigma baru dalam pengembangan ilmu desain melalui konsep Desain Kebudayaan, yang menempatkan warisan budaya sebagai objek kajian utama dalam disiplin DKV.

Gelar doktor diraih melalui disertasi berjudul “Batu Nisan Aceh sebagai Media Komunikasi Budaya: Transformasi Makna dan Fungsi Komunikasi Visual dalam Perspektif Desain Komunikasi Visual.”

Dalam penelitiannya, Iskandar mengemukakan bahwa Desain Komunikasi Visual tidak hanya berperan sebagai ilmu yang menghasilkan media komunikasi visual, tetapi juga dapat digunakan sebagai pendekatan ilmiah untuk membaca, menafsirkan, dan merekonstruksi makna budaya yang tersimpan dalam berbagai artefak sejarah.

Ia mengkaji Batu Nisan Aceh sebagai media komunikasi budaya yang merekam pesan-pesan visual mengenai religiusitas, identitas sosial, kekuasaan, hingga memori kolektif masyarakat Aceh pada masa Kesultanan. Dengan memadukan pendekatan DKV dan semiotika, penelitian tersebut menunjukkan bahwa bentuk, kaligrafi, ornamen, komposisi, serta struktur visual batu nisan merupakan sistem komunikasi yang dapat dibaca layaknya sebuah bahasa visual.

Dari hasil kajian tersebut lahir gagasan Desain Kebudayaan, yakni perluasan paradigma DKV yang menjadikan manuskrip kuno, ragam hias, arsitektur tradisional, hingga berbagai artefak budaya sebagai media komunikasi visual yang menyimpan nilai, pengetahuan, dan identitas suatu peradaban.

Menurut Iskandar, ancaman terbesar terhadap keberadaan Batu Nisan Aceh saat ini bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga semakin hilangnya kemampuan masyarakat dalam memahami makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Karena itu, pelestarian warisan budaya tidak cukup dilakukan melalui konservasi benda semata, melainkan juga dengan menghidupkan kembali pemahaman masyarakat terhadap pesan-pesan budaya yang diwariskan para leluhur.

Lahir di Gampong Seulunyok, Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara, Iskandar merupakan putra pasangan Ramlah Luthan dan almarhum Ishak Yusuf. Selain mengajar di Program Studi DKV ISBI Aceh, ia juga aktif sebagai peneliti, desainer, kurator, dan pegiat pelestarian budaya Aceh.

Selama menempuh pendidikan doktoral di ISI Surakarta, Iskandar dibimbing oleh Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutieningrum, M.Hum. sebagai promotor, serta Prof. Dr. Irwan Abdullah dan Dr. Drs. Isd. Sumbo Tinarbuko, M.Sn. sebagai ko-promotor.

Ia berhasil mempertahankan disertasinya pada ujian tertutup di hadapan dewan penguji yang dipimpin Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn., sehingga resmi menyandang gelar Doktor Seni.

Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting bagi perkembangan keilmuan Desain Komunikasi Visual di Aceh maupun Indonesia. Melalui konsep Desain Kebudayaan, Dr. Iskandar berharap desain tidak hanya menjadi sarana komunikasi visual, tetapi juga berperan sebagai jembatan untuk menghidupkan kembali makna warisan budaya serta memperkuat identitas dan memori kolektif bangsa di tengah dinamika perkembangan zaman.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Townhall Meeting IPC TPK 2026: Fokus Penyelarasan Peta Peran Pelindo Group dan Transformasi Perusahaan

12 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pelindo Kenalkan Dunia Maritim kepada Siswa SMPN 129 Jakarta melalui Edukasi Kemaritiman

12 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Executive Director 4 Pelindo Paparkan Peran Hukum dalam Bisnis BUMN di FH Unhas

11 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026

11 Oktober 2026 - 19:43 WIB

PTP Nonpetikemas Dorong Generasi Muda Perluas Wawasan dan Raih Cita-Cita

11 Oktober 2026 - 00:42 WIB

Hadir di Multifinance Day 2026, ACC Dukung Inklusi Keuangan OJK

11 Oktober 2026 - 00:29 WIB

Inovasi Terminal Teluk Lamong Kembali Raih Penghargaan Nasional di Lima Tahun Merger Pelindo

10 Oktober 2026 - 22:38 WIB

32 Dosen Poltekpel Surabaya Tambah Gelar Setelah Dilantik sebagai Insinyur

10 Oktober 2026 - 19:24 WIB

NPCT1 Raih Penghargaan “Container Terminal Operator of the Year” pada Indonesia Logistics Awards 2026

10 Oktober 2026 - 11:19 WIB

KKP-BPOM Bersinergi Jamin Keamanan Produk Perikanan untuk MBG

10 Oktober 2026 - 01:13 WIB

Trending di NASIONAL