Wartatranscom, JAKARTA — Silaturahmi diyakini oleh sebagian besar penduduk Indonesia sebagai upaya untuk mendapatkan rezeki. Nah, apalagi bagi orang, lembaga atau entitas yang memberikan kemudahan atau memfasilitasi agar mudah bersilaturahmi. Tentunya manfaatnya akan lebih banyak lagi.
Silaturahmi berkaitan erat dengan koneksksivitas. Semakin tinggi koneksivitas, akan mempermudah silaturahmi dan mempermudah pula untuk meraih rezeki.

Bagaimana dengan PT Pelabuhan Indonesia Terminal Nonpetikemas atau PT Pelabuhan Indonesia Terminal Nonpetikemas (PTP Nonpetikemas)? PTP Nonpetikemas melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan “rezeki” ekonomi dan konektivitas nasional Indonesia, yakni dengan mengembangkan dan mengelola terminal pelabuhan nonpetikemas di berbagai wilayah strategis.
Salah satu contoh nyata adalah pengelolaan Terminal Kijing. Terminal ini menjadi pelabuhan penting yang mendukung kegiatan ekspor dan impor di wilayah Kalimantan Barat.
Sejak dikelola oleh PTP Nonpetikemas, terminal ini menjadi tulang punggung pelayanan barang seperti kelapa sawit, pupuk, dan batubara. Kehadiran terminal ini membantu memperlancar arus barang nasional serta memperkuat konektivitas logistik di Indonesia.
Direktur PTP Nonpetikemas Utama Indra Hidayat Sani mengatakan, pengembangan pelabuhan dapat mendorong ekonomi daerah. Sani menegaskan, Terminal Kijing memiliki peran strategis dalam mendorong arus logistik yang lebih efisien dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Langkah tersebut berdampak pada arus distribusi barang antar pulau menjadi lebih lancar sehingga mempercepat proses ekspor dan impor serta mendukung pemerataan ekonomi di berbagai daerah.
“Kami berkomitmen menjadikan Terminal Kijing sebagai terminal yang efisien, andal, dan berdaya saing, sehingga dapat mendorong arus logistik yang lebih efisien, membuka peluang usaha baru, serta menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya di Terminal Kijing, Kalimantan Barat, (26/02/2026).
Volume barang yang dilayani di Terminal Kijing terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya, jumlah barang yang ditangani meningkat dari sekitar 2,27 juta ton pada 2023 menjadi lebih dari 3 juta ton pada 2024, menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Selain itu, PTP Nonpetikemas juga meningkatkan efisiensi layanan pelabuhan melalui digitalisasi dan modernisasi sistem operasional. Dengan penggunaan teknologi yang lebih canggih, proses bongkar muat menjadi lebih cepat dan waktu tunggu kapal dapat dikurangi. Hal ini berujung pada penurunan biaya logistik nasional sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
Sani menjelaskan pelabuhan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Sani menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen menjadikan terminal sebagai fasilitas yang efisien dan berdaya saing sehingga dapat membuka peluang usaha baru dan menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Transformasi teknologi di pelabuhan mampu meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya logistik nasional,” tambahnya.
Langkah berikutnya adalah memperkuat konektivitas logistik nasional dengan mengembangkan pelabuhan strategis di berbagai wilayah Indonesia. Pengembangan pelabuhan ini membantu memperlancar distribusi bahan baku dan hasil produksi industri, serta membuka peluang ekonomi baru di daerah.
Selain itu, PTP Nonpetikemas juga berperan dalam mendukung kelancaran rantai pasok nasional, sehingga ketersediaan barang kebutuhan masyarakat dan industri tetap terjaga.
SDM
Tidak hanya fokus pada infrastruktur, PTP Nonpetikemas juga mengembangkan sumber daya manusia melalui program pelatihan dan pendidikan di bidang maritim. Upaya ini bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja yang profesional dan kompeten.
Di samping itu, perusahaan juga menjalin kerja sama dengan pemerintah dan berbagai pihak industri untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kualitas layanan logistik nasional. Melalui berbagai langkah tersebut, PTP Nonpetikemas berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan konektivitas nasional Indonesia.
Kontribusi
Kontribusi PTP Nonpetikemas terhadap pendapatan negara cukup signifikan melalui pembayaran pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Berdasarkan data laporan perusahaan, pada tahun 2021 total kontribusi kepada negara mencapai sekitar Rp214,7 miliar, sedangkan pada tahun 2022 sekitar Rp144,6 miliar.
Kontribusi tersebut berasal dari berbagai jenis pajak seperti PPh dan PPN serta jasa kepelabuhanan. Selain itu, perusahaan juga memberikan dividen kepada negara sebagai pemegang saham. Dengan kontribusi tersebut, PTP Nonpetikemas ikut membantu menambah pendapatan negara dan mendukung pembangunan ekonomi nasional.
Dalam dua tahun terakhir, PT Pelabuhan Indonesia Terminal Nonpetikemas terus menunjukkan peningkatan kinerja yang mendukung pendapatan negara. Pada tahun 2025, perusahaan menargetkan volume pelayanan barang sebesar 53,5 juta ton melalui modernisasi terminal dan peningkatan kerja sama logistik.
Selanjutnya, pada Triwulan I tahun 2026, volume pelayanan mencapai sekitar 12,04 juta ton yang didominasi oleh curah kering dan curah cair. Peningkatan aktivitas ini menunjukkan bahwa peran PTP Nonpetikemas semakin penting dalam mendukung distribusi barang nasional serta meningkatkan potensi penerimaan negara melalui pajak dan jasa kepelabuhanan.
Peningkatan volume barang ini menunjukkan bahwa aktivitas pelabuhan semakin berkembang, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan negara serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan konektivitas nasional Indonesia.*** (septiadi)




























