Wartatrans.com, JAKARTA – Kehidupan Sahrul dan keluarganya perlahan berubah setelah menempati Hunian Senen, Jakarta Pusat.
Setelah sekitar 10 tahun tinggal di kawasan Rel Kereta Api dengan bekerja sebagai pemulung, kini ia bersama istri dan anaknya dapat menikmati tempat tinggal yang lebih layak dan aman.
Sahrul merupakan satu dari 69 kepala keluarga (KK) yang saat ini menempati hunian yang dibangun melalui kolaborasi sejumlah badan usaha milik negara (BUMN). Ia mengaku bersyukur bisa mendapatkan tempat tinggal tersebut setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di lingkungan permukiman yang serba terbatas.
“Di sini sudah hampir jalan 4 bulan, Bang. Kesan-kesannya dapat Huntara ini ya alhamdulillah, yang awalnya kita kita dipandang sebelah mata, setelah dapet Huntara ini ya alhamdulillah kita nggak dipandang sebelah mata lagi. Orang yang punya punya pun pengen dapet Huntara ini, Bang,” kata Sahrul saat menceritakan pengalamannya di Lokasi Hunian, Senen, Jakarta pada Selasa (3/11/2026).
Pria asal Madura tersebut mengatakan, sebagian besar warga yang sebelumnya tinggal di kawasan Bantaran Rel Kereta Api bekerja sebagai pemulung. Ia sendiri telah menghabiskan sekitar satu dekade di kawasan tersebut sebelum akhirnya menempati Hunian Senen.
Kini, Sahrul tinggal bersama istri dan seorang anaknya yang masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar. Ia menilai lingkungan hunian yang baru memberikan rasa aman dan kenyamanan lebih baik bagi keluarganya.
Satu unit kamar yang ditempatinya berukuran sekitar 4,5 x 4,5 meter. Di dalamnya tersedia satu lemari, dua kasur, dan satu kipas angin untuk kebutuhan keluarga.
Sementara fasilitas bersama di luar kamar meliputi kamar mandi sebanyak tiga unit per blok, tempat mencuci, area mencuci piring, dapur, serta aula untuk kegiatan warga.
“Kalau listrik pertama gratis. Rp300.000 kalau per kamar. Nah, karena kita sudah hampir 4 bulan, gratisannya pun habis, kita sudah mulai bayar,” ujarnya.
Untuk kebutuhan listrik, Sahrul menggunakan sistem token. Ia biasanya mengisi listrik sebesar Rp100.000 yang menurutnya dapat mencukupi kebutuhan selama sekitar satu bulan.
Adapun kebutuhan air bersih ditanggung bersama oleh penghuni. Setiap keluarga disebut membayar sekitar Rp20.000 untuk kebutuhan air, dengan penggunaan fasilitas penampungan dan mesin air secara bersama-sama.
Selain tempat tinggal, warga juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan positif, seperti belajar bersama atau pelatihan dari pihak-pihak tertentu dan memasak. Sahrul menyebut terdapat pula rencana pelayanan kesehatan berupa klinik yang akan diselenggarakan melalui kementerian terkait.
Dari sisi bantuan sosial, ia mengatakan warga terkadang menerima bantuan sembako maupun makanan siap saji dari sejumlah pihak. Namun, bantuan tersebut tidak memiliki jadwal tetap.
Meski demikian, Sahrul berharap pengelola maupun pemerintah dapat menyediakan ambulans untuk membantu warga yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Menurutnya, selama ini warga masih harus menghubungi Babinsa ketika ada penghuni yang sakit dan membutuhkan bantuan transportasi.
“Alhamdulillah belum, Pak. Cuman kita berharap dari ya Pak Presiden, pembuatnya pengennya warga menyenangkan mobil ambulans karena kita kalau yang warga sakit bingung, ya harus nelpon Babinsa,” tuturnya.
Di tengah berbagai perubahan yang dirasakan, kepastian masa tinggal menjadi salah satu harapan terbesar Sahrul dan penghuni lainnya. Ia mengaku belum menerima informasi mengenai batas waktu menempati hunian tersebut dan berharap keluarganya dapat tinggal di sana untuk selamanya.
Ia mengatakan warga memilih mengikuti ketentuan yang berlaku sembari berharap tempat tinggal tersebut bisa menjadi rumah permanen bagi keluarga mereka.
“Kalau warga ya ngikutin dari aturan. Ya berharap mudah-mudahan selamanya, Pak, di sini,” katanya.
Sahrul juga mengungkapkan persoalan administrasi kependudukan yang sempat menjadi kendala bagi anak-anak penghuni untuk mengakses program pendidikan. Salah satunya terkait persyaratan alamat dan KTP dalam rencana mengikuti program Sekolah Rakyat.
Ia sendiri memiliki KTP Tangerang, meskipun telah lama tinggal di wilayah Jakarta. Kondisi tersebut membuat akses terhadap sejumlah program pendidikan perlu mendapat perhatian agar anak-anak penghuni tidak kehilangan kesempatan bersekolah.
Meski masih memiliki sejumlah harapan, Sahrul mengaku bahagia dengan perubahan kehidupan yang dialaminya bersama keluarga dan warga lainnya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan hunian, serta PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang membantu warga mendapatkan tempat tinggal lebih layak.
“Bahagia semua, Pak. Tadi kan sudah ini, warga bahagia semua. Banyak-banyak terima kasih ke Pak Presiden, Pak Dony, terus ke PT KAI yang membantu yang tinggal di bantaran rel mendapatkan rumah di Rusun Senen ini,” ucapnya.(fahmi)























