Menu

Mode Gelap
471 Perwira Transportasi Poltekpel Barombong dan Poltekbang Makassar Dilantik adidas Kembali, 4 Klub Jadi Pijakan Baru di BRI Super League 2026/2027 Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin KAI Percepat Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang, 145 Titik Sudah Terealisasi Stasiun Karet dan BNI City Mulai Diintegrasikan, Layanan Penumpang KRL Dialihkan

RAGAM

Fenomena Tanah Amblas di Pondok Balik Kian Meluas

badge-check


 Fenomena Tanah Amblas di Pondok Balik Kian Meluas Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH —Fenomena tanah amblas di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus meluas dan kian mengkhawatirkan.

Luas area amblasan kini diperkirakan telah mencapai lebih dari 30.000 meter persegi (sekitar 3 hektare). Awalnya, amblasan hanya terjadi di area beberapa ribu meter persegi, namun dari tahun ke tahun terus berkembang.

Amblasan tersebut menyerupai sinkhole atau kubangan besar, yang telah menelan lahan pertanian milik warga, memutus badan jalan utama, serta semakin mendekati permukiman penduduk.

Akibatnya, jalan lintas antar kabupaten Aceh Tengah–Bener Meriah terputus total, sehingga mengganggu mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah menggelar rapat koordinasi untuk membahas fenomena ini dan menimbang langkah teknis penanganan ke depan. Sementara itu, PLN turut melakukan langkah mitigasi dengan mengamankan jaringan transmisi listrik 150 kV Bireuen–Takengon, termasuk relokasi jaringan dari zona rawan longsor.

Fenomena tanah amblas ini bukan kejadian baru. Warga menyebutkan pergerakan tanah telah berlangsung selama bertahun-tahun dan terus memburuk.

Kekhawatiran meningkat saat hujan deras, karena berpotensi memicu longsor tambahan dan memperluas area amblasan.

Secara teknis, struktur geologi wilayah tersebut dinilai rapuh. Tanah yang berasal dari material vulkanik mudah jenuh air, sehingga curah hujan tinggi mempercepat pergerakan tanah.

Fenomena ini kini menjadi ancaman serius bagi permukiman warga, infrastruktur vital, lahan pertanian, serta perekonomian lokal. Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih dinamis dan memerlukan perhatian serta penanganan berkelanjutan dari pihak terkait.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kunjungi Green Port Terminal Teluk Lamong, Kemenhub Apresiasi Komitmen TTL Wujudkan Net Zero Emission 2060

28 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Dinsos Tolak Ajuan Keringanan Pasien Miskin Non BPJS di RS dr. Slamet Garut 

28 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Ketua DEN Minta Perbaikan Program MBG Lewat Digitalisasi

28 Agustus 2026 - 14:26 WIB

Pemerintah Dorong Industri Baterai Nikel, MOLINAS Masuk Rantai Hilirisasi

28 Agustus 2026 - 13:16 WIB

KIP Dorong Keterbukaan Informasi Tak Sekadar Predikat Informatif

28 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Trending di RAGAM