Menu ✖

Mode Gelap
Truk Molen Diduga Rem Blong Tabrak Kerumunan di Bekasi, 6 Orang Tewas Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi Tolitoli Pastikan 21 Cabor Bertanding di Porprov X Sulteng Morowali 2026 Rimbun Air Bidik Rute Jakarta-Tasikmalaya KAI Buka Pemesanan Tiket Kereta untuk Keberangkatan 1 Desember 2026, Cek Jadwal Baru GAPEKA Borobudur Disorot: Kesejahteraan Warga dan Kontroversi Konser Andrea Bocelli

RAGAM

Fenomena Tanah Amblas di Pondok Balik Kian Meluas

badge-check


 Fenomena Tanah Amblas di Pondok Balik Kian Meluas Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH —Fenomena tanah amblas di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus meluas dan kian mengkhawatirkan.

Luas area amblasan kini diperkirakan telah mencapai lebih dari 30.000 meter persegi (sekitar 3 hektare). Awalnya, amblasan hanya terjadi di area beberapa ribu meter persegi, namun dari tahun ke tahun terus berkembang.

Amblasan tersebut menyerupai sinkhole atau kubangan besar, yang telah menelan lahan pertanian milik warga, memutus badan jalan utama, serta semakin mendekati permukiman penduduk.

Akibatnya, jalan lintas antar kabupaten Aceh Tengah–Bener Meriah terputus total, sehingga mengganggu mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah menggelar rapat koordinasi untuk membahas fenomena ini dan menimbang langkah teknis penanganan ke depan. Sementara itu, PLN turut melakukan langkah mitigasi dengan mengamankan jaringan transmisi listrik 150 kV Bireuen–Takengon, termasuk relokasi jaringan dari zona rawan longsor.

Fenomena tanah amblas ini bukan kejadian baru. Warga menyebutkan pergerakan tanah telah berlangsung selama bertahun-tahun dan terus memburuk.

Kekhawatiran meningkat saat hujan deras, karena berpotensi memicu longsor tambahan dan memperluas area amblasan.

Secara teknis, struktur geologi wilayah tersebut dinilai rapuh. Tanah yang berasal dari material vulkanik mudah jenuh air, sehingga curah hujan tinggi mempercepat pergerakan tanah.

Fenomena ini kini menjadi ancaman serius bagi permukiman warga, infrastruktur vital, lahan pertanian, serta perekonomian lokal. Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih dinamis dan memerlukan perhatian serta penanganan berkelanjutan dari pihak terkait.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi

1 November 2026 - 17:52 WIB

Borobudur Disorot: Kesejahteraan Warga dan Kontroversi Konser Andrea Bocelli

1 November 2026 - 11:31 WIB

KEMALA Jabodetabek Gelar Maulid Nabi, Hadirkan Penceramah dari Palestina

31 Oktober 2026 - 22:26 WIB

FIFGROUP Raih 2 Penghargaan dalam Ajang Indonesia Corporate Sustainability Initiatives 2026

31 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Perayaan Ulang Tahun Panglima Langit Bareng Anak Yatim-piatu serta Perayaan Maulid Nabi Muhammad 

31 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Lama Tak Terlihat di Layar Kaca, Krisna Mukti Blak-blakan Akui Sedang Cari Job

31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

PSM Peduli Gandeng PMI Jakarta Utara, Perkuat Kepedulian Sosial dan Kebermanfaatan BUMN Berkelanjutan

30 Oktober 2026 - 17:53 WIB

Management Walkthrough Dorong Optimalisasi Pengawasan dan Perluasan Area Kerja di Surabaya

30 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Dorong Green Port, Terminal Teluk Lamong Datangkan Alat Bongkar Muat Bertenaga Listrik

30 Oktober 2026 - 16:59 WIB

Pelindo dan Pemkab Bangka Barat Bahas Pengelolaan Pelabuhan Mentok

30 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Trending di ANJUNGAN