Menu

Mode Gelap
Pelindo Solusi Digital Perkuat Rantai Pasok Nasional Lewat Implementasi Produk Digital Pelabuhan KAI Siapkan Stasiun Gambir Jadi Hub Transportasi Terintegrasi KAJJ, KRL hingga Monas Terminal Teluk Lamong Gandeng Suara Surabaya Media, Perkuat Edukasi Publik untuk Mitigasi Kepadatan Arus Logistik Aset KAI Group Meningkat Jadi Rp105,43 Triliun pada 2025, Perkuat Layanan Berbasis Rel TDA Takengon Gelar Sharing dan Diskusi Kunci Mengelola Bisnis di Premium Coffee Libur Sekolah, ASDP Telah Layani 2,05 Juta Penumpang

RAGAM

Fenomena Tanah Amblas di Pondok Balik Kian Meluas

badge-check


 Fenomena Tanah Amblas di Pondok Balik Kian Meluas Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH —Fenomena tanah amblas di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus meluas dan kian mengkhawatirkan.

Luas area amblasan kini diperkirakan telah mencapai lebih dari 30.000 meter persegi (sekitar 3 hektare). Awalnya, amblasan hanya terjadi di area beberapa ribu meter persegi, namun dari tahun ke tahun terus berkembang.

Amblasan tersebut menyerupai sinkhole atau kubangan besar, yang telah menelan lahan pertanian milik warga, memutus badan jalan utama, serta semakin mendekati permukiman penduduk.

Akibatnya, jalan lintas antar kabupaten Aceh Tengah–Bener Meriah terputus total, sehingga mengganggu mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah menggelar rapat koordinasi untuk membahas fenomena ini dan menimbang langkah teknis penanganan ke depan. Sementara itu, PLN turut melakukan langkah mitigasi dengan mengamankan jaringan transmisi listrik 150 kV Bireuen–Takengon, termasuk relokasi jaringan dari zona rawan longsor.

Fenomena tanah amblas ini bukan kejadian baru. Warga menyebutkan pergerakan tanah telah berlangsung selama bertahun-tahun dan terus memburuk.

Kekhawatiran meningkat saat hujan deras, karena berpotensi memicu longsor tambahan dan memperluas area amblasan.

Secara teknis, struktur geologi wilayah tersebut dinilai rapuh. Tanah yang berasal dari material vulkanik mudah jenuh air, sehingga curah hujan tinggi mempercepat pergerakan tanah.

Fenomena ini kini menjadi ancaman serius bagi permukiman warga, infrastruktur vital, lahan pertanian, serta perekonomian lokal. Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih dinamis dan memerlukan perhatian serta penanganan berkelanjutan dari pihak terkait.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelindo Solusi Digital Perkuat Rantai Pasok Nasional Lewat Implementasi Produk Digital Pelabuhan

7 Juli 2026 - 20:57 WIB

Terminal Teluk Lamong Gandeng Suara Surabaya Media, Perkuat Edukasi Publik untuk Mitigasi Kepadatan Arus Logistik

7 Juli 2026 - 20:20 WIB

13 Keuchik Kluet Tengah Bersatu Desak Pemerintah Segera Tetapkan WPR

7 Juli 2026 - 13:10 WIB

Mustafa Gaseu Soroti 60 Unit Rumah Bantuan APBA di Aceh Barat Mangkrak, Desak Pemerintah Aceh Segera Tuntaskan Pembangunan

7 Juli 2026 - 12:15 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Teguhkan Komitmen Pelayanan Melalui Penandatanganan Maklumat Pelayanan

6 Juli 2026 - 17:38 WIB

Pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok Gelar Serah Terima Jabatan Nakhoda Kapal Negara Patroli, Perkuat Profesionalisme dan Keselamatan Pelayaran

6 Juli 2026 - 17:30 WIB

For-PAS Soroti Belanja Publikasi Media Online Rp260 Juta, Minta Dinas Pariwisata Berlaku Adil kepada Seluruh Media

6 Juli 2026 - 17:01 WIB

Hadirkan Genre Bisnis Baru, 10 Bioskop Mini Alfamart Siap Ramaikan Jagat Hiburan

6 Juli 2026 - 16:35 WIB

Warga Desa Gunung Bakti Bersatu Dukung Salamudin Syah (Edy Orga) Maju Pimpin Desa

6 Juli 2026 - 00:05 WIB

Sumur Minyak Tradisional di Darul Ihsan Aceh Timur Terbakar, Petugas Berjibaku Padamkan Api

5 Juli 2026 - 23:59 WIB

Trending di RAGAM