Wartatrans.com, TAKENGON — Gerakan pembinaan anak dan yatim piatu di sekitar Kota Takengon terus dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan. Di antaranya program GAS (Geriten Anak Shaleh) yang mendorong anak-anak untuk membiasakan diri melaksanakan shalat Subuh berjamaah selama 100 hari nonstop di mersah atau masjid.
Program tersebut saat ini diikuti oleh 11 ananda yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kebayakan, Pegasing, dan Lut Tawar.

Di Kecamatan Kebayakan, sebanyak delapan ananda mengikuti kegiatan di Masjid Baitulquddus, Mendale. Mereka terdiri dari Faruk, Jamroni, Adli, Rizal, Rahmadi, Muslimah, Rama, dan Dava Kurniawan Sinaga.
Sementara di Kecamatan Pegasing terdapat dua ananda. Aulia mengikuti kegiatan di Masjid Babut Taubah, Pedekok, sedangkan Rizki mengikuti kegiatan di Masjid Kawi, Kung.
Adapun di Kecamatan Lut Tawar, satu ananda, Azri Alvaro, mengikuti shalat berjamaah di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Bujang.
Selain GAS, program pembinaan juga dilakukan melalui Yimpitar (Yatim Piatu dan Ananda Terlantar). Program ini saat ini mengelola 23 ananda yang tersebar di tiga kecamatan di sekitar Kota Takengon, dengan pendampingan 10 orang.
Salah satu kegiatan yang dijalankan adalah pembiasaan shalat sunnah Tahajud. Program tersebut dimulai pada 7 Agustus 2026 dan dilaksanakan sekitar pukul 04.10–04.29 WIB.
Menariknya, kegiatan ini dikemas dengan memberikan motivasi berupa hadiah. Ananda yang berhasil melaksanakan Tahajud sebanyak lima kali berkesempatan mendapatkan tas baru dalam program Yimpitar Ceria 2026. Sementara untuk mendapatkan baju rompi baru, ditargetkan mencapai 21 kali Tahajud.
Berdasarkan pembaruan data per 3 September 2026, sejumlah ananda telah mencapai lima kali Tahajud dan dinyatakan memenuhi target untuk memperoleh tas baru. Sebagian lainnya masih dalam proses meningkatkan jumlah Tahajud mereka.
Program tersebut tidak semata-mata berorientasi pada pemberian hadiah. Hadiah digunakan sebagai bentuk apresiasi sekaligus stimulus agar anak-anak memiliki kebiasaan beribadah secara konsisten.
Dengan pendampingan para pendamping dan dukungan konsumsi secara mandiri, kegiatan Yimpitar diharapkan dapat menjadi ruang pembinaan yang menanamkan kedisiplinan, kemandirian, serta kecintaan terhadap ibadah sejak usia dini.
Menurut Ketua Komunitas Gayo Peduli (KGP) Ardhiansyah Putra bin Alfian KZ, program GAS dan Yimpitar menjadi bagian dari upaya membangun generasi anak yang tidak hanya memiliki kepedulian sosial, tetapi juga tumbuh dengan kebiasaan beribadah dan kehidupan keagamaan yang kuat.
” Untuk mengajarkan kedisiplinan, misalnya yang sudah dapat hadiah tas akan saya tarik bila makan minum pakai tangan kiri. Untuk mendapatkannya lagi, harus ulangi tahajud 7 kali,” terang Ardhi mengakhiri.*** (Jasa)






























