Wartatrans.com, JAKARTA — Momentum Halal Bihalal yang digelar oleh YPI Al-Hidayah di Pondok Melati, Bekasi, Senin (30/03/2026), tidak hanya menjadi ajang saling bersalaman dan mempererat silaturahmi, tetapi juga dimaknai sebagai ruang refleksi dan penguatan kapasitas tenaga pendidik.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, Dr. Dewi Motik Pramono, M.Si dan Halimah Munawir, yang membahas pentingnya pengembangan profesionalisme guru di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.

Dalam pemaparannya, Dr. Dewi Motik Pramono menekankan bahwa tenaga pendidik harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tantangan global. Menurutnya, profesionalisme guru tidak hanya terletak pada kemampuan akademik, tetapi juga pada peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik.
“Guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ia bukan sekadar pengajar, tetapi juga inspirator yang mampu menanamkan nilai-nilai kehidupan,” ujarnya.
Sementara itu, Halimah Munawir menyoroti pentingnya pendidik sebagai agen perubahan sosial. Ia menyampaikan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses membangun kesadaran, empati, serta daya kritis siswa dalam menghadapi realitas kehidupan.
“Halal Bihalal ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita sebagai pendidik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual,” tuturnya.

Halimah Munawir (tengah) bersama para guru YPI Al-Hidayah.
Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Para peserta yang terdiri dari tenaga pendidik dan keluarga besar YPI Al-Hidayah tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.
Lebih dari sekadar tradisi, kegiatan ini juga diisi dengan penguatan wawasan tentang profesionalisme guru di era transformasi pendidikan. Dalam sesi tersebut disampaikan bahwa perubahan lanskap pendidikan menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi di berbagai bidang.
Penguasaan teknologi menjadi salah satu aspek penting yang harus dimiliki tenaga pendidik. Guru diharapkan mampu memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran yang efektif dan menarik bagi siswa. Selain itu, kemampuan komunikasi dan pendekatan emosional juga menjadi kunci dalam membangun hubungan yang sehat antara guru dan peserta didik.
Tak kalah penting, integritas dan etika profesi menjadi fondasi utama dalam menjalankan peran sebagai pendidik. Di tengah berbagai tantangan, guru dituntut tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, dan dedikasi.
Kegiatan Halal Bihalal YPI Al-Hidayah ini menjadi contoh bagaimana tradisi budaya dapat dipadukan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya di bidang pendidikan. Dengan demikian, perayaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberi nilai tambah bagi pengembangan profesionalisme tenaga pendidik.*** (Daus)



























