Wartatrans.com, BEKASI – Suasana di Kelenteng Hok Lay Kiong, kelenteng tertua di Kota Bekasi, tampak ramai dipadati warga yang mengantre di depan gerbang pada perayaan Tahun Baru Imlek. Sejumlah warga terlihat sabar menunggu giliran dengan harapan mendapatkan angpao dari umat yang beribadah di kelenteng tersebut.
Antrean mengular sejak pagi hari. Warga dari berbagai daerah datang untuk merasakan tradisi tahunan ini, termasuk Hj. Hasnah yang rela datang dari Pondok Gede demi mendapatkan angpao.

“Nyari angpao,” ujar Hj. Hasnah saat ditemui di lokasi.
Ia mengaku baru kembali datang tahun ini setelah sebelumnya tidak mengikuti tradisi tersebut. Informasi mengenai pembagian angpao ia peroleh dari kerabatnya.
“Dari saudara, saya ingat kesini kan,” katanya.
Meski sudah menunggu cukup lama, Hj. Hasnah mengatakan dirinya belum juga mendapatkan angpao. Ia bahkan berencana tetap bertahan hingga pembagian selesai.
“Belum. Sampai habis selesailah ini, sampai dapat,” ujarnya.
Selama menunggu, ia mengaku telah menghabiskan uang sekitar Rp20 ribu untuk membeli jajanan. Ia juga datang bersama anaknya untuk ikut mengantre.

Terlihat banyak perempuan, laki-laki mulai usia anak-anak hingga orang tua berbaris mengantre di bawah terik matahari yang lagi menunjukkan taringnya. Beberapa ada yang duduk di depan gerbang kelenteng tersebut. Banyak warga yang melakukan ibadah lalu lalang keluar masuk kelenteng. Mereka yang meminta tampak menyodorkan tangan dan mengatakan “angponya”.
Tradisi berburu angpao di Kelenteng Hok Lay Kiong memang selalu menjadi daya tarik tersendiri setiap perayaan Imlek. Selain menjadi momen berbagi rezeki, kegiatan ini juga mencerminkan kebersamaan dan toleransi antarwarga yang datang dari berbagai latar belakang.
Sementara itu, warga Tionghoa yang merayakan Imlek 2577/2026 yang melaksanakan ibadah di tempt yang merupakan Kelenteng tertua dan terbesar di Kota Bekasi itu menyambut dengan suka cita.
Hendra misalnya, dia datang bersama keluarga termasuk istri dan tiga orang anaknya. Mereka tampak mengenakan pakaian serba merah dalam menyambut datangnya tahun Kuda Api kali ini.
“Suasananya ramai dan sangat meriah ya di sini, bisa dirasakan dari perbedaan kali ini dari tahun sebelumnya,” kata Hendra di lokasi.
Dia juga sekeluarga memiliki banyak harapan untuk ke depannya.
Hendra mengaku sudah dari pagi mereka mempersiapkan diri untuk melaksakan ibadah imlek termasuk nanti akan mendatangi bersilaturahmi ke sanak saudara mereka.
Untuk diketahui, Klenteng Hok Lay Kiong berupa merupakan tempat ibadah penganut ajaran Tao dan Kong Hu Chu.
Klenteng tersebut juga memiliki altar Budha. Pengunjung yang berdatangan juga bukan sekedar ingin beribadah, namun juga menjadi objek pariwisata. Karena Klenteng Hok Lay Kiong memiliki sejarah.
Nama Hok Lay Kiong sendiri berarti pembawa berkah dari bahasa China. Para ahli sejarah memperkirakan berdiri pada abad ke-18. Hingga kini, Klenteng Hok Lay Kiong masih dimanfaatkan oleh warga etnis Tiongkok sampai sekarang.
Klenteng berusia 3 abad itu berdiri di atas tanah seluas 700 meter persegi. Sedangkan luas rumah ibadah sampai 650 meter persegi. Mengingat usianya, sebagian besar bangunan Klenteng telah banyak mengalami pembaruan. Hanya bagian pintu utama saja yang masih tetap dipertahankan keasliannya, dengan mengecatan dan bentuk sesuai bentuk awalannya. Bagian tepi pintu tersebut dihiasi papan tertulis. Ada juga hiasan yang menggambarkan perjalanan hidup hidup Hian Thian Siang Te. Selain pintu masuk utama, meja untuk peletakan peralatan sembayang juga masih asli. Demikian juga dengan dua tungku berbentuk pagoda yang biasa digunakan sebagai tempat pembakaran. (fahmi)




















