Wartatrans.com, JAKARTA – PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) memfasilitasi pendidikan dan pelatihan (diklat) bahasa serta budaya Jepang bagi calon pekerja migran Indonesia (PMI) untuk siap bekerja di Jepang.
Diklat ini untuk mendukung Program SMK Go Global yang dicanangkan Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat.

Diklat digelar melalui kolaborasi berbagai pihak dan berlangsung mulai Oktober 2025 hingga Februari 2026 dengan beberapa tahapan, yaitu pendaftaran, webinar, sesi wawancara, kelas daring, medical check up, hingga boarding camp ISO Jepang.
Di dalam program ini, InJourney Airports memfasilitasi 50 peserta terseleksi, sementara peserta lainnya didukung oleh berbagai institusi mitra.
Direktur Utama InJourney Airports Mohammad R. Pahlevi mengatakan, program ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam pengembangan SDM melalui program CSR yang berfokus pada peningkatan kompetensi tenaga kerja.
“Pengembangan SDM menjadi upaya kita bersama dalam mempersiapkan tenaga kerja yang kompeten, profesional sertai siap kerja di dalam negeri maupun lingkungan internasional. Di dalam pemenuhan bursa kerja luar negeri ini, InJourney Airports mendukung penuh melalui program pelatihan dan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan industri di negara tujuan,” jelasnya, Jumat (3/4/2026).
Melalui program pendidikan dan pelatihan bagi PMI, InJourney Airports sebagai bagian dari BUMN juga menjalankan peran agent of development.
Pada hari ini, bertempat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, didampingi Direktur Teknik InJourney Airports Ristiyanto Eko Wibowo, melepas keberangkatan tahap pertama pekerja migran Indonesia (PMI) yang berjumlah 200 orang untuk menuju ke Jepang dalam Program SMK Go Global.
Direktur Teknik InJourney Airports Ristiyanto Eko Wibowo menuturkan pelepasan keberangkatan PMI menuju Jepang melalui Bandara Soekarno-Hatta ini merupakan bentuk konkret kolaborasi antara pemerintah dengan berbagai sektor dalam meningkatkan kualitas SDM.
“Kolaborasi berbagai pihak ini diharapkan dapat mendukung program pemerintah dalam menempatkan 500.000 pekerja migran Indonesia terampil pada 2026,” ujar Ristiyanto. (omy)


