Wartatrans.com, TAKENGON — Menghadapi kondisi ekonomi yang sulit dan dunia usaha yang penuh ketidakpastian, pengusaha dituntut tidak hanya mampu melihat peluang, tetapi juga harus memiliki ketahanan, menjaga kualitas produk dan membangun kepercayaan.
Pesan tersebut disampaikan Iwan Tosa Putra, SP, pemilik PT Putra Gayo International, saat menjadi pemateri dalam Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) TDA Takengon yang berlangsung di Hotel Grand Bayu Hill, Takengon.
Mengangkat tema “Solusi Pengusaha Bangkit Ketika Ekonomi Sulit”, Iwan membagikan pengalaman panjangnya membangun usaha hingga mampu menembus pasar ekspor.
Di hadapan peserta Mukerda, Iwan menceritakan perjalanan usahanya yang tidak dimulai dari kondisi serba mudah. Ia mengawali perjalanan dengan berbagai pekerjaan dan pengalaman, bahkan pernah membeli busi bekas sebagai bagian dari perjuangannya mencari penghasilan.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya kembali ke Takengon dan bekerja di PT Baburrayyan, perusahaan kopi yang dikenal bergerak dalam pengolahan dan ekspor kopi berkualitas.
Di tempat inilah, menurut Iwan, dirinya mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang kopi.
Ia belajar mengenal kopi mulai dari coffee cherry, proses pengolahan pascapanen, hingga kopi yang siap memenuhi standar untuk diekspor.
“Dari sana saya banyak belajar. Saya melihat bagaimana kopi diproses, bagaimana menjaga kualitas dan bagaimana sebuah produk bisa mendapatkan kepercayaan pasar,” demikian inti pengalaman yang dibagikannya kepada peserta.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting bagi Iwan untuk membangun usaha sendiri. Setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia kopi, ia memberanikan diri mendirikan PT Putra Gayo International.

Perusahaan tersebut kemudian berkembang dan mulai melakukan kegiatan ekspor sejak 2004 hingga saat ini, dengan pasar yang menjangkau sejumlah negara di Asia, Timur Tengah dan Eropa.
Kualitas Produk adalah Kunci
Dalam pemaparannya, Iwan menekankan bahwa salah satu fondasi utama dalam bisnis adalah menjaga kualitas produk.
Menurutnya, kualitas bukan hanya berkaitan dengan produk yang bagus, tetapi juga menjadi dasar untuk membangun kepercayaan konsumen dan mitra bisnis.
Ketika kualitas mampu dipertahankan, kepercayaan akan tumbuh. Dan ketika kepercayaan sudah terbentuk, hubungan bisnis dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Iwan juga mengingatkan para pengusaha agar tidak hanya fokus mencari pembeli, tetapi membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan berbagai pihak.
“Perbanyak koneksi,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikannya.
Koneksi tersebut, menurutnya, harus dibangun mulai dari penyedia bahan baku, buyer, sesama pelaku usaha hingga pemerintah.
Jaringan yang kuat akan menjadi modal penting ketika usaha menghadapi persoalan. Iwan juga membagikan pengalaman ketika bisnis kopi menghadapi kondisi sulit akibat cuaca yang tidak bersahabat dan bencana alam.
Bencana seperti tanah longsor dan banjir bandang di kawasan Takengon pernah berdampak terhadap aktivitas produksi dan pengiriman kopi. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian kopi tidak dapat diekspor sesuai rencana.
Di saat yang sama, harga kopi mengalami penurunan, sementara kontrak dengan buyer sudah terlanjur ditandatangani.
Situasi tersebut menjadi ujian bagi pengusaha. Namun Iwan memilih untuk tidak menghindar dari persoalan. Komunikasi dengan buyer terus dilakukan dengan menjelaskan kondisi sebenarnya yang terjadi di lapangan.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka menjadi sangat penting ketika terjadi masalah. Buyer akhirnya dapat memahami kondisi yang dihadapi dan hubungan bisnis tetap terjaga.
Dari pengalaman tersebut, Iwan menyampaikan bahwa ketika kondisi ekonomi sulit, pengusaha jangan menghilang dari komunikasi.
Sebaliknya, pengusaha harus menjelaskan keadaan secara jujur, mencari solusi bersama dan menjaga kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Pengusaha Harus Terus Belajar
Di hadapan anggota TDA Takengon, Iwan juga menekankan bahwa perjalanan menjadi pengusaha tidak berhenti ketika sebuah usaha sudah berjalan.
Pengusaha harus terus belajar, membaca perubahan pasar, menjaga kualitas dan memperluas jaringan. Menurutnya, pengalaman di lapangan merupakan sekolah yang sangat penting bagi seorang pengusaha.
Dari pengalaman sebagai pekerja, belajar tentang kopi, membangun jaringan, menghadapi persoalan hingga akhirnya mampu membawa produk Gayo ke pasar internasional, Iwan berharap kisah tersebut dapat menjadi motivasi bagi generasi muda dan pelaku usaha di Gayo.
Khususnya bagi anggota TDA Takengon, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bahwa kondisi ekonomi yang sulit bukan alasan untuk berhenti.
Mukerda TDA Takengon di Hotel Grand Bayu Hill tersebut menjadi ruang bagi para pelaku usaha untuk saling berbagi pengalaman, memperkuat jaringan dan mencari solusi menghadapi tantangan ekonomi.
Bagi Iwan, perjalanan panjang membangun usaha kopi memberikan satu pelajaran penting: bisnis bisa menghadapi badai, tetapi kepercayaan jangan sampai hilang.*** (Kamaruzzaman)
























