Wartatrans.com, BOGOR– Semangat memperjuangkan pemekaran Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) terus bergulir. Kali ini, dukungan tersebut diwujudkan melalui Deklarasi Pejuang ALA Bogor dan Jakarta yang dikemas dalam kegiatan diskusi publik pada Sabtu, 7 November 2026, di Bogor.
Kegiatan ini diinisiasi oleh dua tokoh Gayo, Miko Salman Gayo dan Putra Gara. Deklarasi tersebut mendapat dukungan dari sejumlah tokoh Gayo lainnya, di antaranya Irwan, Erwintoa, Sulaiman, Harma, Syamsul Bahri, Joul Lenteng Agung, Surya Darma, Miko Sabri, Adi Jantar, serta sejumlah tokoh dan masyarakat Gayo lainnya.
Diskusi publik ini turut dihadiri Prof. Dr. Rahmat Salam, Ketua KP3ALA Pusat, yang selama ini ikut mengawal aspirasi perjuangan pemekaran Aceh Leuser Antara.
Mengusung semangat “Mengawal Aspirasi, Menata Masa Depan Aceh Leuser Antara”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi masyarakat Gayo di wilayah Bogor dan Jakarta sekaligus membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga kesinambungan perjuangan ALA.
“Perjuangan pemekaran Aceh Leuser Antara bukanlah perjalanan singkat. Ia merupakan aspirasi panjang masyarakat yang menginginkan pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta hadirnya tata kelola pemerintahan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Rahmat Salam, saat dihubungi Wartatrsns.com.
Dalam konteks perjuangan tersebut, peran Prof. Dr. Rahmat Salam, selaku Ketua KP3ALA Pusat, menjadi salah satu perhatian penting. Sebagai akademisi sekaligus tokoh yang mengawal perjuangan ALA, Rahmat Salam diharapkan dapat memberikan perspektif lebih luas mengenai arah, strategi, dan masa depan perjuangan pemekaran.
Sementara Miko Salman Gayo mengungkapkan, pemekaran bukan semata-mata persoalan membentuk provinsi baru. Ada persoalan keadilan pembangunan, rentang kendali pemerintahan, efektivitas pelayanan publik, serta harapan agar potensi daerah dapat dikelola secara lebih optimal demi kesejahteraan masyarakat.
“Karena itu, perjuangan ALA membutuhkan lebih dari sekadar semangat emosional. Diperlukan kajian akademis, kesiapan administratif, konsolidasi masyarakat, serta komunikasi yang konstruktif dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan,” terang Miko Salman Gayo.
Hal senada diungkapkan Putra Gara. Menurutnya perspektif inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi publik bertajuk “Pemekaran ALA dan Spirit Perjuangan”, yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Pahlawan 10 November 2026.
“Selain itu, saya pun akan mengulas kenapa Bendera Alam Peudang menjadi simbol pergerakan, semua ada historynya,” ungkap Gara, yang dikenal juga sebagai budayawan dan seniman serta penulis novel novel sejarah.
Dalam diskusi tersebut, Rahmat Salam hadir bersama Miko Salman Gayo dan Putra Gara untuk membicarakan perjalanan aspirasi ALA, tantangan perjuangan, serta langkah-langkah yang perlu dipersiapkan ke depan.
Deklarasi Pejuang ALA Bogor dan Jakarta sekaligus menjadi penegasan bahwa aspirasi pemekaran tidak hanya hidup di tanah Gayo dan wilayah Aceh, tetapi juga mendapat perhatian masyarakat perantauan seperti di Bogor dan Jakarta.
Bagi para inisiator dan tokoh pendukung, jarak geografis bukan alasan untuk melepaskan tanggung jawab terhadap kampung halaman.
“Masyarakat Gayo di perantauan tetap memiliki ruang dan tanggung jawab untuk berkontribusi melalui pemikiran, jaringan, solidaritas, serta dukungan terhadap perjuangan daerah,” ungkap Rahmat Salam.
Momentum Hari Pahlawan menjadi pengingat bahwa perjuangan sebuah generasi adalah bagaimana meninggalkan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
ALA membutuhkan pemikiran yang jernih, perjuangan yang konsisten, persatuan masyarakat, dan kepemimpinan yang mampu mengarahkan aspirasi menjadi agenda nyata.
“Melalui deklarasi dan diskusi publik ini, diharapkan terbentuk konsolidasi yang semakin luas, tidak hanya di Bogor dan Jakarta, tetapi juga menjangkau masyarakat Gayo di berbagai daerah,” tambah Miko Salman Gayo.
Dari perantauan, suara perjuangan tetap bergema. Mengawal aspirasi, merawat persatuan, dan menata masa depan Aceh Leuser Antara.
Semoga deklarasi ini menjadi langkah bermakna dalam perjalanan panjang perjuangan ALA.*** (Jasa)






















