Wartatrans.com, JAKARTA — Setelah mengakhiri masa pengabdiannya di dunia militer, seorang purnawirawan TNI tetap menunjukkan produktivitas melalui dunia musik. Berbekal kecintaan terhadap musik sejak kecil, ia kini aktif menciptakan lagu dengan mengangkat berbagai persoalan sosial, motivasi, hingga hak ekonomi para pencipta lagu.
Kecintaannya terhadap musik telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hobi tersebut terus berkembang ketika dirinya menjadi pemain band semasa SMP hingga SMA Negeri 1 Medan.
“Sejak SD, saya sudah suka bermusik, saya sudah belajar musik secara otodidak dan kursus musik. Meski sudah menjadi anggota TNI, jiwa musik saya tetap tumbuh,” ujar Brigjen TNI (Purn) Amrizar saat bincang dengan awak media di rumahnya di kawasan Islamic Village, Karawaci, Tangerang belum lama ini
Meski menjalani tugas sebagai anggota militer, ia mengaku tetap menyempatkan diri bermain musik di sela-sela kesibukan dinas. Bahkan, menjelang masa pensiun, ia mulai lebih serius menekuni proses penciptaan lagu
Dua tahun jelang purna tugas Amrizar mencoba peruntungan dengan masuk dapur rekaman. Untuk memproduksi lagu karya ciptanya.
“Saya mencoba memberanikan diri masuk dapur rekaman, siapa tahu ada rejeki untuk mengisi masa pensiun,” ujar pria berdarah Padang ini panjang lebar.
Sejak 2023, ia mulai aktif bergabung dalam komunitas pencipta lagu dan mengembangkan karya-karyanya. Sejumlah lagu dan album pun berhasil diproduksi, termasuk melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, AI memberikan kemudahan besar dalam proses produksi musik. Jika sebelumnya pembuatan satu lagu secara manual bisa membutuhkan waktu sekitar satu minggu, kini proses tersebut dapat berlangsung jauh lebih cepat.
Teknologi AI dapat membantu menyusun melodi, aransemen, hingga berbagai instrumen musik sesuai arahan pencipta. Namun, ia menegaskan bahwa kreativitas, narasi, dan pesan dalam lirik tetap harus berasal dari pemikiran manusia.
Baginya, teknologi hanyalah alat bantu. Pencipta tetap harus memiliki gagasan, menentukan jalan cerita, serta memastikan pesan yang ingin disampaikan melalui lagu tidak kehilangan karakter dan nilai kemanusiaannya.
Dalam berkarya, ia juga tidak membatasi diri pada satu genre musik. Mulai dari pop, rock and roll, reggae hingga blues dapat menjadi pilihan, bergantung pada tema dan pesan yang ingin disampaikan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utamanya adalah kritik sosial mengenai kesejahteraan pencipta lagu, khususnya persoalan royalti. Melalui lagu bertema royalti, ia ingin menyuarakan keresahan para pencipta yang kerap kesulitan memperoleh hak ekonomi atas karya mereka.
“Karya yang related dengan jaman, akan mudah ditangkap penikmat musik, khususnya kritik sosial. Seperti lagu Bongkar karya Iwan Fals, kan menjadi lagu fenomenal dan dikenang sepanjang masa.” Kata pria yang dikarunia 4 Anak ini.
Ia menilai negara perlu hadir untuk memastikan transparansi dan ketepatan distribusi royalti kepada para pencipta lagu. Menurutnya, hak ekonomi pencipta merupakan sesuatu yang harus dihormati dan dilindungi.
Selain kritik sosial, ia juga menciptakan lagu-lagu motivasi. Salah satu karya terbarunya mengangkat tema tentang seseorang yang mulai memasuki usia tua dan menghadapi keterbatasan fisik.
Melalui lagu tersebut, ia ingin mengingatkan masyarakat bahwa sehebat apa pun seseorang, usia merupakan bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat dihindari. Karena itu, setiap orang perlu memiliki kesadaran, kepedulian, dan penghormatan terhadap orang-orang yang telah lanjut usia.
Baginya, masa pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Justru, masa tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan potensi yang selama ini belum sepenuhnya tersalurkan.
Di luar aktivitas bermusik, ia juga mengisi waktu dengan kegiatan di kampung halaman sang istri di Makassar, termasuk mengurus kebun durian dan sawah.
Melalui berbagai aktivitas tersebut, ia ingin menunjukkan bahwa masa purna tugas tetap dapat menjadi periode produktif, bermanfaat, dan penuh kreativitas.*** (byl)


























