Wartatrans.com, BEKASI – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara resmi meluncurkan program Gala Indonesia Bercerita (GIB) 2026–2027 sekaligus meresmikan Pusat Pelatihan Indonesia Bercerita (PPIB). Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (1/11/2026).
Peluncuran ini menjadi langkah strategis Kementerian Kebudayaan dalam memperkuat pelestarian tradisi lisan, meregenerasi pencerita, serta memperkenalkan kembali kekayaan cerita rakyat Nusantara kepada generasi muda.
Gala Indonesia Bercerita merupakan kelanjutan sekaligus pengembangan dari Gerakan Nasional Dongeng Berkarakter Berbudaya dan rangkaian Gala Cerita Rakyat Indonesia yang sebelumnya telah berlangsung sepanjang 2026.
Program ini tidak sekadar menghidupkan kembali tradisi mendongeng, tetapi juga membangun ekosistem kebudayaan yang memungkinkan cerita rakyat, bahasa daerah, sastra, dan kearifan lokal terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, dengan sekitar 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa. Di balik keragaman tersebut tersimpan berbagai cerita rakyat, legenda, mitologi, dongeng, sejarah lokal, serta nilai-nilai kehidupan yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
Melalui Gala Indonesia Bercerita, kekayaan tersebut diharapkan dapat didokumentasikan secara lebih sistematis agar tidak hilang akibat perubahan zaman.
PPIB menjadi pusat regenerasi pencerita
Peresmian Pusat Pelatihan Indonesia Bercerita menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan program ini. PPIB diproyeksikan sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan kemampuan bercerita, sekaligus menyiapkan generasi baru yang mampu menjadi penerus tradisi lisan Indonesia.
Dalam rancangan programnya, pusat pelatihan ini melibatkan 42 anak yang akan mendapatkan pendampingan dari pendongeng dan tenaga pendidik profesional.
Pengembangan modul pembelajaran juga melibatkan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), sehingga metode pelatihan bercerita dapat disusun secara sistematis dan dikembangkan sebagai rujukan nasional.
Selain pelatihan, program ini dirancang menghadirkan roadshow di tujuh kota untuk menghimpun cerita lokal, memperkuat jejaring komunitas, serta melahirkan Pelopor Indonesia Bercerita di berbagai daerah.
Lima kategori kompetisi nasional
GIB 2026–2027 juga menghadirkan kompetisi nasional karya kreatif yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pelestarian budaya melalui berbagai medium.
Ada lima kategori yang diperlombakan, yakni video, audio, gambar, lagu, dan puisi.
Kelima kategori tersebut membuka ruang bagi anak-anak, pelajar, pendidik, seniman, sastrawan, komunitas kreatif, dan masyarakat umum untuk mengembangkan cerita rakyat menjadi karya yang menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.
Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi lisan dapat terus berkembang melalui teknologi digital dan kreativitas generasi masa kini tanpa kehilangan akar budayanya.
Melanjutkan capaian Gala Cerita Rakyat Indonesia
Pengembangan GIB 2026–2027 juga bertolak dari capaian Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026. Dalam penyelenggaraan sebelumnya, tercatat 2.797 peserta menghasilkan 1.737 karya dari berbagai daerah di Indonesia.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi masyarakat dalam mengangkat dan mendokumentasikan kekayaan cerita rakyat melalui media kreatif.
Ke depan, pengembangan platform digital Indonesia Bercerita diharapkan menjadi ruang bersama untuk menghubungkan cerita rakyat, keluarga, pendidik, komunitas, seniman, dan generasi muda.
Cerita rakyat sebagai identitas bangsa
Lebih dari sekadar hiburan atau dongeng pengantar tidur, cerita rakyat merupakan warisan pengetahuan dan kebudayaan yang menyimpan sejarah, filosofi, nilai moral, adat istiadat, serta kearifan masyarakat.
Karena itu, pelestariannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, sekolah, komunitas seni, budayawan, sastrawan, hingga media massa.
Gala Indonesia Bercerita 2026–2027 diharapkan menjadi gerakan kebudayaan yang tidak hanya melahirkan pendongeng baru, tetapi juga memperkuat kecintaan masyarakat terhadap bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan daerah.
Melalui gerakan ini, cerita-cerita dari Aceh hingga Papua, dari pesisir hingga pedalaman, diharapkan memperoleh ruang untuk dikenal, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Sebab, menjaga cerita berarti menjaga ingatan kolektif bangsa. Dan bangsa yang mampu merawat cerita serta sejarahnya adalah bangsa yang tidak kehilangan jati dirinya di tengah perubahan zaman.*** (Fahmi)


























