Menu ✖

Mode Gelap
Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang Truk Molen Diduga Rem Blong Tabrak Kerumunan di Bekasi, 6 Orang Tewas Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi Tolitoli Pastikan 21 Cabor Bertanding di Porprov X Sulteng Morowali 2026 Rimbun Air Bidik Rute Jakarta-Tasikmalaya KAI Buka Pemesanan Tiket Kereta untuk Keberangkatan 1 Desember 2026, Cek Jadwal Baru GAPEKA

SENI BUDAYA

Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang

badge-check


 Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG – Diskusi sastra sekaligus bedah puisi bertajuk “Ay Lien dalam Empat Babak” karya Anisa Setya Arifina (ASA), penyair asal Magelang, berlangsung di Wangjoning (Ndalem Dedet Kasetian), kediaman Dedet Setiadi, penyair dan sastrawan asal Magelang, Minggu (1/11/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga 14.30 WIB tersebut menghadirkan moderator Ridwan KH, dengan dua narasumber, yakni Agus Manaji dan Hasta Indriyana, yang keduanya merupakan penyair dan sastrawan.

Puisi Ay Lien dalam Empat Babak menjadi perhatian karena berhasil meraih Juara I Sayembara Puisi Nasional Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026. Sayembara bergengsi tersebut diselenggarakan di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, pada 29 Agustus 2026.

Kemenangan ASA terbilang istimewa. Pasalnya, karya tersebut berhasil menjadi yang terbaik di antara 4.316 puisi yang dikirimkan oleh 1.687 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Dewan juri terdiri atas Nur Wahida Idris, Hasta Indriyana, dan An Ismanto.

Sementara itu, Juara II diraih Agusta Mario B. Nanga dari Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, melalui puisi Minggu Palma. Juara III diraih Suparlan (Tjak S Parlan) dari Blitar, Jawa Timur, dengan puisi Mencari Modin Metri.

Adapun kategori favorit I diraih Muhammad Ade Putra dari Kampar, Riau, melalui puisi Anak-anak Subayang, sedangkan Favorit II diraih Muhammad Farid Hermawan dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dengan puisi Doa Seekor Kucing untuk Kaleng Sarden yang Tertutup Rapat.

Peserta diskusi

Mengangkat sejarah melalui perspektif kemanusiaan

Dalam pembahasan, puisi Ay Lien dalam Empat Babak dinilai memperlihatkan kematangan penulis dalam mengendalikan emosi dan menatanya menjadi sebuah bangunan puitik yang terstruktur.

Penulis tidak terjebak dalam melodrama ataupun sekadar menyampaikan curahan hati secara lugas. Secara teknis, kekuatan puisi ini juga terletak pada baris terakhir yang menghadirkan kejutan dengan daya impresi kuat.

Persoalan kemanusiaan yang diangkat melalui pengalaman satu kelompok masyarakat, yakni etnis Tionghoa, disampaikan dengan cara yang dapat diterima dan dirasakan oleh pembaca dari berbagai latar belakang.

Di sinilah letak kekuatan human interest puisi tersebut. Kisah yang berangkat dari pengalaman kelompok tertentu justru berkembang menjadi persoalan kemanusiaan yang universal.

Pembahasan juga menyinggung sisi sejarah, khususnya peristiwa kekerasan Mei 1998, yang menyisakan luka mendalam dalam perjalanan bangsa Indonesia. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa sebagaimana tercatat dalam temuan resmi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Persoalan tersebut menjadi bagian dari sejarah yang penting untuk terus diingat dan dibicarakan secara terbuka melalui berbagai medium, termasuk sastra.

Empat babak perjalanan sejarah dan kehidupan

Puisi Ay Lien dalam Empat Babak berkisah tentang pengalaman masa kecil penulis dalam memotret kehidupan masyarakat Tionghoa di Magelang dan sekitarnya.

Latar cerita membawa pembaca menyusuri beberapa periode sejarah Indonesia, mulai dari masa sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan, masa Orde Lama, peristiwa 1965 yang dikenal sebagai G30S/PKI, hingga memasuki masa Orde Baru.

Anisa Setya Arifina, penyair asal Magelang, yang karyanya didiskusikan.

Dalam rentang sejarah tersebut, puisi ini juga menyentuh persoalan identitas, diskriminasi, serta hubungan sosial antara masyarakat pribumi dan keturunan Tionghoa. Termasuk kebijakan-kebijakan pemerintah pada masa lalu yang turut memengaruhi posisi sosial dan identitas warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

Melalui sosok Ay Lien, penulis tidak sekadar menghadirkan kenangan personal, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana sejarah, identitas, dan pengalaman kemanusiaan saling berkelindan.

Diskusi ini sekaligus memperlihatkan bahwa puisi bukan hanya karya estetika yang bermain dengan diksi dan metafora. Sastra juga dapat menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif, mengungkap pengalaman yang terlupakan, serta membangun empati terhadap sesama manusia.

Kehadiran para penyair dan sastrawan dalam forum tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat tradisi diskusi dan apresiasi sastra, khususnya di Magelang.

Ay Lien dalam Empat Babak pada akhirnya menjadi bukti bahwa pengalaman lokal dan kenangan personal dapat menjelma menjadi karya sastra yang memiliki daya jangkau nasional, sekaligus menyuarakan persoalan kemanusiaan yang melampaui batas suku, identitas, dan generasi.***

(RM. Sudarmono)

Baca Lainnya

Pengamanan Konser Andrea Bocelli di Borobudur Libatkan Ribuan Personel, Terbesar Sepanjang Sejarah?

1 November 2026 - 10:58 WIB

Seni, Seniman, Karya Seni, Pekerja Seni dan Penikmat Seni

31 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Lama Tak Terlihat di Layar Kaca, Krisna Mukti Blak-blakan Akui Sedang Cari Job

31 Oktober 2026 - 12:49 WIB

‘Diana Memang Manja’, Novel SBY yang Lahir dari Riset dan Kenangan

30 Oktober 2026 - 18:39 WIB

Setnegpedia Ungkap Kisah di Balik Lukisan “Kawan-Kawan Revolusi” Karya S. Sudjojono

30 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Pelajar se-Sumatera Barat Pentas Bersama dalam Penutupan Workshop Apresiasi Sastra dan Pertunjukan Puisi

30 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Momen Sumpah Pemuda, Itab Purnama “Si Drumer Formula Langit” Rilis ‘Tersimpan Rapi’, Tembus Puluhan Ribu Views di YouTube

30 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Opie Kumis Akhirnya Bisa Main Film Bareng Sang Idola, Elvy Sukaesih

30 Oktober 2026 - 09:13 WIB

​Pelatihan Sastra dan Musikalisasi Puisi Kembali Bergairah, Sanggar Matahari Gelar Workshop Apresiasi Sastra di Rumah Puisi Taufiq Ismail

29 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Hazwan Iskandar Jaya Pimpin Satupena DIY 2026–2031, Perkuat Ekosistem Literasi dan Kebudayaan

28 Oktober 2026 - 10:40 WIB

Trending di SENI BUDAYA