Wartatrans.com, JAKARTA – Rimbun Air menjajaki pembukaan rute penerbangan Jakarta-Tasikmalaya, melalui Bandara Wiriadinata.
Namun, peluang menghidupkan kembali jalur udara tersebut, masih menghadapi persoalan mendasar, yakni kepastian jumlah penumpang dan kelayakan pendapatan operasional.
Penjajakan itu ditandai dengan penerbangan pesawat ATR 72-600 dari Bandara Halim Perdanakusuma, menuju Bandara Wiriadinata, Sabtu (31/10/2026)
Penerbangan tersebut menjadi bagian dari penilaian awal, sebelum layanan reguler diputuskan.
Data Kementerian Perhubungan mencatat Bandara Wiriadinata melayani 41 penumpang dengan delapan pesawat sepanjang 2025.
Angka tersebut memperlihatkan aktivitas penerbangan yang masih terbatas dan menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan rute komersial.
Rimbun Air merupakan maskapai yang dioperasikan PT Rimbun Abadi Aviasi dan bagian dari Rimbun Group. Berdasarkan informasi perusahaan, operasional penerbangan dimulai pada 2017 menggunakan pesawat DHC-6 untuk layanan penumpang dan kargo, terutama menuju wilayah terpencil di Papua.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi atas penjajakan penerbangan tersebut.
“Ini warga Jawa Barat harus berterima kasih dengan orang Tasik yang kebetulan menjabat menjadi Wakil Jaksa Agung. Beliau telah membantu mempermudah layanan penerbangan dari Jakarta ke Tasik,” kata Dedi.
Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Asep Goparluloh mengatakan, penerbangan dari Halim menuju Wiriadinata berjalan lancar. Pesawat berangkat pukul 07.00 WIB dan mendarat sekitar pukul 08.00 WIB.
“Alhamdulilah berjalan lancar dan bisa mendarat di Bandara Wiriadinata Tasikmalaya. Tadi, dari Halim Perdanakusumah pukul 07.00 WIB dan sampai di sini pukul 08.00 WIB,” ujarnya.
Namun, pengalaman penerbangan sebelumnya menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur bandara belum otomatis menjamin keberlanjutan rute.
Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Wahid mengingatkan agar rencana pembukaan rute baru didahului kajian pasar.
Dia menyoroti beberapa penerbangan sebelumnya yang tidak bertahan lama akibat minimnya penumpang.
“Saya ingin ada kajian terlebih dahulu, jangan sampai kejadian sebelumnya yang beberapa kali gagal atau tidak berjalan lama yang salah satunya disebabkan minimnya penumpang. Sementara untuk maskapai mampu bertahan lama yang paling pokok adalah hasil dari penjualan tiket,” kata Wahid, Jumat (30/10/2026).
Risiko tersebut juga terlihat dalam penelitian Lestari, Dewanti, dan Sigit Priyanto, dari Universitas Gajah Mada (UGM), yang diterbitkan pada 2020 mengenai rute Sumenep-Surabaya.
Penelitian itu mencatat tingkat keterisian kursi penerbangan komersial dari Surabaya ke Sumenep turun dari 63,6 persen pada 2017 menjadi 34,6 persen pada 2019. Pada arah sebaliknya, tingkat keterisian turun dari 82,8 persen menjadi 38 persen dalam periode yang sama.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa jumlah penumpang menjadi pertimbangan penting bagi maskapai karena biaya operasional bergantung pada pendapatan tiket.
Ketika jumlah penumpang berada di bawah batas minimum yang ditetapkan operator, penerbangan dapat dibatalkan atau frekuensinya dikurangi.
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan mengatakan tarif dan jadwal penerbangan masih dalam pembahasan.
Viman menyebut keputusan mengenai frekuensi layanan selanjutnya berada di tangan manajemen Rimbun Air.
Tanpa perhitungan pasar yang realistis, pembukaan rute Jakarta-Tasikmalaya berisiko mengulang persoalan yang pernah dialami operator sebelumnya. (Artha Tidar)




























