Wartatrans.com, JAKARTA — Festival Sastra Jakarta (FSJ) 2026 menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ekosistem kesusastraan di Ibu Kota. Mengusung tema *“Membangun Akar, Membibit Sastrawan, dan Menata Ekosistem Sastra yang Berkelanjutan”*, festival ini diarahkan untuk membangun tradisi sastra yang lebih inklusif, berkelanjutan, serta tumbuh dari kekuatan komunitas masyarakat.
Rangkaian Festival Sastra Jakarta 2026 diselenggarakan melalui pendekatan berbasis komunitas dengan melibatkan lima wilayah administrasi Jakarta. Program ini tidak hanya menghadirkan kompetisi sastra, tetapi juga mendorong pembinaan, pengembangan literasi, dan regenerasi sastrawan baru.
Ketua Panitia Festival Sastra Jakarta 2026, Yon Bayu Wahyono, menjelaskan bahwa Jakarta selama ini telah menjadi salah satu pusat penting perkembangan kesusastraan Indonesia. Sejumlah nama besar, seperti Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, Taufiq Ismail, Sutan Takdir Alisjahbana, hingga Goenawan Mohamad, telah memperkuat posisi Jakarta dalam perjalanan sastra nasional.
Namun, menurutnya, masih terdapat persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian, terutama dalam hal pembibitan dan regenerasi sastrawan.
Sebagian besar sastrawan yang membangun reputasi kepengarangannya di Jakarta justru berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, Jakarta perlu membangun sistem pembinaan yang mampu melahirkan generasi sastrawan baru dari lingkungan masyarakatnya sendiri.
Menurut Yon Bayu, keberadaan lembaga kebudayaan dan kesenian seperti Salihara Arts Center, Bentara Budaya, serta komunitas sastra independen telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sastra. Namun, aktivitas kesusastraan perlu diperluas hingga ke sekolah, kampung, ruang publik, dan lingkungan permukiman masyarakat.
Jakarta dan tantangan sebagai Kota Sastra Dunia
Perubahan status Jakarta dari Ibu Kota Negara menjadi Daerah Khusus Jakarta membawa konsekuensi terhadap arah pembangunan kebudayaan. Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan reputasi historis sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan nasional.
Terlebih, Jakarta telah memperoleh pengakuan UNESCO sebagai *City of Literature* atau Kota Sastra sejak 8 November 2021. Predikat tersebut harus diwujudkan melalui aktivitas sastra yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Yon Bayu menekankan bahwa sastra tidak boleh hanya tumbuh di gedung pertunjukan, ruang diskusi elite, atau festival berskala besar. Sastra harus hadir di sekolah, kampung, komunitas, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pembangunan kebudayaan Jakarta. Data Indeks Pembangunan Kebudayaan yang dikutip dalam materi penyelenggaraan menunjukkan DKI Jakarta berada pada peringkat ke-14 nasional dengan nilai 55,96. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan kebudayaan membutuhkan kerja panjang, konsistensi kebijakan, serta keterlibatan masyarakat.
Lima wilayah menjadi penggerak festival
Berbeda dengan festival yang terpusat di satu lokasi, FSJ 2026 mengedepankan keterlibatan komunitas lokal sebagai penggerak utama.
Rangkaian kegiatan telah dilaksanakan di lima wilayah, yakni Jakarta Barat oleh Komunitas Kosakata pada 13 September 2026, Jakarta Pusat oleh Komunitas Sajaks Pusat pada 19 September 2026, Jakarta Timur oleh Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT) pada 3 Oktober 2026, Jakarta Selatan oleh Komunitas Lingkar Sastra Jaksel pada 10 Oktober 2026, serta Jakarta Utara oleh Komunitas Kastara pada 18 Oktober 2026.
Melalui kegiatan tersebut, setiap wilayah diberikan ruang untuk mengembangkan potensi, menyelenggarakan aktivitas sastra, serta menjaring talenta baru yang nantinya dapat tampil dan berkompetisi di tingkat provinsi.
Kompetisi dalam festival ini tidak semata-mata diarahkan untuk mencari pemenang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana merangsang aktivitas literasi, mengorganisasi potensi lokal, serta mendorong komunitas agar semakin aktif melakukan pembinaan.
Diharapkan, kegiatan festival dapat berlanjut dalam bentuk pelatihan menulis, lokakarya, diskusi sastra, pembacaan puisi, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya.
Puncak festival digelar di Taman Ismail Marzuki
Seluruh rangkaian Festival Sastra Jakarta 2026 dijadwalkan mencapai puncaknya pada 4 November 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Puncak festival akan menjadi ruang perjumpaan para penyair, penulis, komunitas sastra, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas untuk merayakan perkembangan kesusastraan sekaligus memberikan apresiasi kepada para pelaku sastra.
Momentum ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni penghargaan kepada para pemenang lomba, tetapi menjadi ruang pertukaran gagasan dan penguatan jaringan komunitas sastra di Jakarta.
Festival Sastra Jakarta 2026 pada akhirnya membawa pesan bahwa pembangunan sastra tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Dibutuhkan pembinaan yang berkesinambungan, ruang berekspresi, serta dukungan nyata terhadap komunitas dan generasi muda.
Jakarta sebagai Kota Sastra Dunia diharapkan mampu membuktikan bahwa sastra bukan hanya milik sastrawan besar, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat.
Sastra harus tumbuh dari akar komunitas, dirawat melalui kreativitas, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.*** (Daus)


























