Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mendorong transformasi layanan berbasis teknologi melalui pemanfaatan sistem face recognition di stasiun. Sepanjang periode Januari–Februari 2026, tercatat sebanyak 1.707.942 pelanggan memanfaatkan fasilitas tersebut saat proses boarding kereta api.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 1.637.612 pelanggan, menunjukkan semakin luasnya adopsi teknologi digital dalam layanan perjalanan kereta api.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan penggunaan face recognition membuat proses keberangkatan pelanggan menjadi lebih praktis sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
“Pelanggan tidak lagi perlu mencetak tiket fisik karena proses verifikasi identitas dilakukan secara otomatis melalui sistem yang terintegrasi dengan data perjalanan,” ujar Anne.
Dari sisi efisiensi, penggunaan face recognition pada Januari–Februari 2026 telah menggantikan kebutuhan pencetakan 1.707.942 tiket. Dengan asumsi satu roll kertas tiket sepanjang 72 meter menghasilkan sekitar 400 tiket dengan harga Rp14.765 per roll, maka teknologi ini telah menghemat sekitar 4.270 roll tiket atau setara dengan lebih dari Rp63 juta biaya pengadaan kertas tiket dalam dua bulan pertama tahun ini.
Tren efisiensi tersebut juga terlihat dalam data tahunan. Sepanjang 2025, layanan face recognition digunakan oleh 11.302.756 pelanggan, setara penghematan sekitar Rp417,2 juta dari kebutuhan kertas tiket. Sementara pada 2024 sebanyak 7.170.939 pelanggan menggunakan layanan ini dengan efisiensi sekitar Rp264,7 juta, dan pada 2023 sebanyak 2.935.855 pelanggan dengan efisiensi sekitar Rp108,3 juta.
Selain efisiensi biaya, pemanfaatan face recognition juga berdampak positif bagi keberlanjutan lingkungan. Setiap tiket memiliki panjang sekitar 18 cm, sehingga penggunaan teknologi ini pada Januari–Februari 2026 telah mengurangi kebutuhan kertas tiket sepanjang sekitar 307 kilometer.
Menurut Anne, pengurangan penggunaan kertas tersebut penting karena bahan baku kertas berasal dari serat kayu pohon. Semakin sedikit tiket yang dicetak, maka semakin kecil pula pemanfaatan sumber daya alam untuk produksi kertas.
Anne menambahkan, transformasi digital yang dilakukan KAI diarahkan untuk menghadirkan perjalanan yang lebih cepat, aman, dan efisien sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
“Proses boarding menjadi lebih ringkas karena pelanggan cukup melakukan pemindaian wajah tanpa perlu menunjukkan tiket fisik maupun identitas tambahan,” katanya.
Saat ini layanan face recognition telah tersedia di 22 stasiun, antara lain Stasiun Gambir, Pasar Senen, Bekasi, Bandung, Kiaracondong, Cirebon, Semarang Tawang Bank Jateng, Semarang Poncol, Pekalongan, Tegal, Purwokerto, Kutoarjo, Yogyakarta (Tugu), Lempuyangan, Solo Balapan, Madiun, Surabaya Pasarturi, Surabaya Gubeng, Malang, Jember, Medan, dan Kediri.
“Pemanfaatan face recognition menunjukkan bagaimana teknologi dapat meningkatkan kualitas layanan sekaligus menghadirkan efisiensi operasional serta penggunaan sumber daya yang lebih bijak. KAI akan terus memperluas pemanfaatan teknologi ini agar perjalanan kereta api semakin mudah, cepat, dan nyaman bagi masyarakat,” tutup Anne.(fahmi)































