Wartatrans.com, JAKARTA – KAI Commuter mengoperasikan 89 rangkaian kereta untuk melayani 1.065 perjalanan Commuter Line Jabodetabek setiap hari kerja.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga jarak waktu kedatangan antarkereta (headway) sekaligus mengakomodasi peningkatan mobilitas masyarakat dari wilayah penyangga Jakarta.
Direktur Utama KAI Commuter, Purnomo Sidi, mengatakan pengaturan operasional sarana dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan pengguna di setiap lintas, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
“Menjaga konsistensi headway dan melakukan rekayasa pola peredaran rangkaian kereta merupakan strategi dalam melayani pengguna Commuter Line,” kata Purnomo, Sabtu (7/11).
Menurutnya, KAI Commuter menerapkan pola pengoperasian rangkaian secara adaptif dengan menyesuaikan tingkat okupansi penumpang di setiap lintas. Saat ini, perusahaan mengoperasikan kereta dengan formasi delapan kereta (SF8), 10 kereta (SF10), dan 12 kereta (SF12).
Dari total 89 rangkaian yang dioperasikan, sebanyak 22 trainset menggunakan formasi SF8, kemudian 34 trainset SF10, dan 33 trainset SF12.
“Pengaturan pola peredaran sarana ini tentunya dilakukan dengan menyesuaikan okupansi pengguna lintas khususnya pada jam sibuk. KAI Commuter sudah mencermati kebutuhan masyarakat, sehingga bisa mengambil langkah diperlukan, sebagai solusi,” jelas Purnomo.
Tingginya kebutuhan layanan Commuter Line tercermin dari jumlah pengguna sepanjang Januari hingga Oktober 2026 yang mencapai 303.792.024 orang. Angka tersebut meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 287,29 juta orang.
Khusus Oktober 2026, KAI Commuter mencatat 32.312.018 pengguna atau naik 1,68 persen dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai 31.776.933 orang.
Peningkatan volume penumpang juga terjadi di seluruh lintas layanan. Lintas Bogor mencatat 133,78 juta pengguna atau tumbuh 4,8 persen. Lintas Cikarang melayani 74,88 juta pengguna, meningkat 6,1 persen.
Sementara itu, lintas Rangkasbitung mencatat 68,09 juta pengguna atau naik 6,7 persen, sedangkan lintas Tangerang mencapai 24 juta pengguna dengan pertumbuhan 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Untuk mengantisipasi pertumbuhan tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama KAI Commuter mempercepat pemenuhan sarana guna meningkatkan kapasitas angkut. KAI Commuter juga terus berkoordinasi dengan INKA dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan pengadaan rangkaian baru berjalan sesuai rencana.
Purnomo mengatakan, penguatan armada menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menjaga kualitas pelayanan di tengah peningkatan jumlah pengguna.
“KAI Commuter mendukung dan akan terus berkordinasi dengan KAI dan stakeholders dalam pemenuhan sarana Commuter Line ke depannya,” ujarnya.
Saat ini, proses pengiriman delapan trainset tersisa dari total 16 rangkaian pengadaan tahap awal terus dikoordinasikan bersama PT Industri Kereta Api (INKA). Seluruh rangkaian tersebut ditargetkan tiba pada 2027.
Hingga Oktober 2026, sebanyak delapan trainset telah dikirimkan. Tujuh rangkaian di antaranya sudah beroperasi melayani penumpang, sementara satu rangkaian lainnya masih menjalani uji coba operasional.
Selain itu, KAI merencanakan pengadaan 23 trainset baru dengan konfigurasi 12 kereta (SF12) dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pengadaan tersebut mencakup delapan rangkaian yang menjadi kebutuhan mendesak dengan skema pembiayaan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
Pengoperasian armada baru juga membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung. Karena itu, KAI mempercepat peningkatan prasarana perkeretaapian, termasuk kapasitas daya listrik pada layanan Green Line atau lintas Rangkasbitung.
Peningkatan daya listrik tersebut diperlukan untuk mendukung operasional rangkaian SF12 agar pengadaan dan pengoperasian kereta baru dapat berjalan optimal serta meningkatkan kapasitas angkut penumpang.
Di sisi lain, KAI Commuter tetap mengoptimalkan perawatan seluruh sarana yang beroperasi untuk menjaga keandalan dan keselamatan perjalanan setiap hari.
Purnomo menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna apabila penyesuaian pola peredaran rangkaian kereta menimbulkan ketidaknyamanan selama masa transisi.
“Upaya ini kami lakukan semata-mata untuk menjaga konsistensi headway dalam layanan perjalanan, khususnya pada jam-jam sibuk,” tandasnya.(fahmi)


























