Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat layanan KRL Commuter Line Jabodetabek sebagai tulang punggung mobilitas kawasan aglomerasi Jakarta yang menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional. Penguatan ini dilakukan seiring dengan pertumbuhan jumlah komuter lintas kota yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa penguatan layanan KRL merupakan kebutuhan struktural dalam mendukung dinamika pertumbuhan kawasan aglomerasi Jabodetabek yang melayani mobilitas harian jutaan masyarakat.

“Setiap hari, KRL melayani lebih dari satu juta masyarakat Jabodetabek. KRL bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga infrastruktur produktivitas kota dan penggerak utama aktivitas ekonomi kawasan,” ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPR RI.
Dalam RDP tersebut, KAI memproyeksikan volume penumpang KRL Jabodetabek akan meningkat signifikan hingga mencapai 437 juta penumpang pada 2030, dari realisasi sekitar 339 juta penumpang pada 2025. Dengan tren pertumbuhan rata-rata sekitar 4 persen per tahun, jumlah pengguna harian KRL diperkirakan dapat menembus angka 2 juta penumpang per hari pada 2030.
Penguatan Sarana melalui Skema PMN dan Non-PMN
Untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas tersebut, KAI menjalankan penguatan sarana melalui kombinasi dukungan negara dan investasi korporasi. Saat ini, KAI telah mengoperasikan 11 trainset KRL baru produksi CRRC serta 4 trainset produksi PT INKA (Persero) yang memperkuat kapasitas angkut di koridor-koridor padat Jabodetabek.
Selain itu, KAI juga telah menandatangani kontrak pengadaan 16 trainset atau 192 unit KRL produksi PT INKA dengan nilai Rp3,85 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 rangkaian ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 sebagai bagian dari program percepatan regenerasi sarana.
“Kami memastikan pengadaan sarana dilakukan melalui berbagai pendekatan pendanaan, baik dukungan pemerintah maupun investasi perusahaan, agar kapasitas layanan terus tumbuh sejalan dengan kebutuhan mobilitas urban,” jelas Bobby.
Saat ini, KAI mengoperasikan total 1.088 unit KRL, dengan sebagian besar sarana telah berusia di atas 30 tahun dan secara bertahap akan memasuki masa konservasi. Oleh karena itu, regenerasi sarana dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan layanan.
Dukungan Pemerintah dan Modernisasi Prasarana
KAI juga mengapresiasi dukungan pemerintah pusat terhadap penguatan layanan transportasi publik. Dalam peresmian Stasiun Tanah Abang Baru pada 4 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kesiapan dukungan pendanaan hingga Rp5 triliun untuk pengembangan layanan KRL Jabodetabek.
Dukungan tersebut diarahkan untuk penambahan rangkaian, peningkatan kapasitas layanan, serta penguatan sistem operasional pada jalur-jalur utama.
“Kami melihat dukungan ini sebagai komitmen kuat negara dalam memperkuat transportasi publik. Targetnya adalah kapasitas meningkat, kepadatan berkurang, dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin andal,” ujar Bobby.
Selain pengadaan sarana, KAI juga terus mendorong modernisasi prasarana, antara lain melalui peningkatan kapasitas kelistrikan di lintas padat seperti Manggarai–Bogor dan Manggarai–Bekasi, modernisasi prasarana menuju lintas Rangkasbitung, pembaruan sistem operasi, serta penguatan integrasi layanan di simpul-simpul utama transportasi urban.
Saat ini, elektrifikasi lintas KRL telah mencapai 474,942 kilometer sejak 2017–2018, mencakup Bogor Line, Bekasi Line, Serpong Line, Tangerang Line, dan Tanjung Priok Line.
“Sarana baru harus ditopang sistem kelistrikan, persinyalan, dan stasiun yang siap menghadapi pertumbuhan penumpang. Modernisasi prasarana menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan kualitas layanan,” tutup Bobby.(fahmi)





















