Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan Stasiun Karet tidak ditutup secara permanen. Stasiun yang berada di kawasan Jakarta Pusat tersebut justru tengah ditata dan diintegrasikan dengan Stasiun Sudirman Baru atau yang selama ini dikenal sebagai Stasiun BNI City untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna KRL.
VP Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, penggunaan istilah “Stasiun Karet ditutup” dinilai kurang tepat. Menurutnya, KAI tidak menutup stasiun, tetapi mengintegrasikan layanan naik dan turun penumpang KRL dari Stasiun Karet ke Stasiun Sudirman Baru/BNI City.

“81 tahun KAI belum pernah yang namanya menutup stasiun. Jadi saya sangat menolak diksi bahwa Karet ditutup,” kata Anne.
Anne menjelaskan, Stasiun Karet tetap memiliki fungsi dalam operasional perjalanan kereta. Namun, layanan naik-turun penumpang KRL di peron Stasiun Karet akan diintegrasikan dengan Stasiun Sudirman Baru/BNI City.
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya volume pelanggan KRL. Kondisi peron Stasiun Karet yang relatif pendek dan berada dekat dengan perlintasan juga menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan integrasi tersebut.
“Karet itu peronnya pendek, dekat dengan perlintasan. Investasi kita mulai dari dua tahun yang lalu sampai nanti untuk KRL itu semuanya sudah SF 12. Sehingga prasarana dan infrastrukturnya harus kita siapkan dari sekarang,” ujarnya.
Anne mengatakan, peningkatan kapasitas layanan KRL harus diikuti dengan kesiapan prasarana. Selain integrasi Stasiun Karet dan Sudirman Baru, KAI juga melakukan berbagai pengembangan infrastruktur, termasuk peningkatan kapasitas listrik untuk mendukung operasional KRL.
Dia menambahkan, jumlah pelanggan yang menggunakan Stasiun Karet dan sejumlah stasiun lainnya terus mengalami peningkatan setiap tahun. Karena itu, integrasi kedua stasiun menjadi bagian dari tahapan pengembangan angkutan urban KAI.
Siapkan Travelator hingga Eskalator
Dalam proses integrasi tersebut, KAI juga menyiapkan berbagai fasilitas untuk memudahkan perpindahan pelanggan dari Stasiun Karet menuju Stasiun Sudirman Baru/BNI City.
Anne mengatakan, KAI akan menyediakan travelator datar dan travelator menuju area yang lebih tinggi untuk memberikan kenyamanan kepada pelanggan yang berjalan kaki dari arah Stasiun Karet.
Sementara dari sisi Kendal, KAI menyiapkan fasilitas pedestrian, kanopi atau selasar, serta eskalator sebagai akses menuju kawasan stasiun.
“Walaupun kita jalan kaki dari arah Karet menuju stasiun ini, kita bisa tetap memberi kenyamanan kepada pelanggan-pelanggan kita,” katanya.
KAI juga akan menata kawasan Stasiun Karet untuk mendukung integrasi antarmoda. Salah satunya dengan menyediakan area drop zone dan fasilitas bagi layanan ojek agar aktivitas naik-turun penumpang tidak menimbulkan kemacetan.
“Nanti di Karet itu akan kita siapkan untuk yang namanya angkutan ojek dan juga terintegrasi dengan antarmodanya, tanpa kita memicu kemacetan,” ujar Anne.
Menurut Anne, konsep tersebut mengacu pada praktik integrasi antarmoda di berbagai tempat di dunia yang umumnya memiliki jarak sekitar 500 hingga 900 meter.
Stasiun Karet Tetap Menjadi Pintu Akses
Anne menegaskan, meskipun layanan naik-turun KRL dipusatkan melalui integrasi dengan Stasiun Sudirman Baru/BNI City, Stasiun Karet tetap memiliki peran sebagai akses bagi pelanggan.
“Stasiun Karet ini tetap aktif di dalam akses pelanggan, tetap aktif melayani jalur KRL,” tegasnya.
KAI juga membuka kemungkinan Stasiun Karet nantinya menjadi salah satu pintu akses bagi pengguna transportasi komuter lainnya, termasuk penumpang kereta bandara.
Saat ini, area Stasiun Karet masih ditutup sementara karena pekerjaan penataan dan pengembangan fasilitas. Anne menyebut pembukaan fasilitas akan dilakukan secara bertahap setelah pekerjaan selesai.
“Ketika sudah selesai pasti dibuka secara bertahap, diselesaikan dalam bertahap, satu sampai tujuh bulan ke depan sehingga nanti kita bisa menggunakan fasilitas layanan terhubungnya Karet ke BNI City,” katanya.
Dengan integrasi tersebut, KAI berharap perpindahan pelanggan antara kawasan Karet dan Sudirman Baru/BNI City dapat berlangsung lebih aman dan nyaman sekaligus mendukung integrasi transportasi publik di kawasan tersebut.
“Kalau di dalam grafik perjalanan kereta, Karet tetap di dalam pelayanan KRL, hanya naik-turun pelanggannya, peronnya disatukan dengan BNI City,” tutur Anne.(fahmi)





























