Wartatrans.com, BOGOR — Pagi di Pasarean, Cibung Bulang, Bogor, selalu membawa cerita lama tentang seorang anak kampung yang kelak mengubah wajah daerahnya. Dari desa inilah KH. Sholeh Iskandar memulai perjalanan panjang—perjalanan yang tak hanya menembus hutan-hutan gerilya, tetapi juga menembus sekat kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan umat.
Sholeh Iskandar lahir pada 22 Juni 1922. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren, di tengah denyut kehidupan rakyat kecil. Sejak muda, ia percaya bahwa agama bukan sekadar urusan ibadah ritual, melainkan jalan pembebasan. Keyakinan itu yang membawanya terjun ke medan perang saat Republik Indonesia baru seumur jagung.

Ketika Belanda kembali ingin menancapkan kuku kolonialnya, Sholeh Iskandar mengangkat senjata. Ia memimpin laskar Hizbullah dan Batalyon Tirtayasa di bawah Divisi Siliwangi. Dengan pangkat Mayor, ia bergerilya di wilayah Bogor Barat hingga Banten. Hutan menjadi rumah, doa menjadi tenaga, dan kemerdekaan menjadi tujuan. Bagi Sholeh Iskandar, berjuang melawan penjajahan adalah bagian dari jihad mempertahankan martabat manusia.

Namun, ketika dentum senjata mereda, ia memilih medan juang lain. “Perang yang sesungguhnya,” demikian pandangannya, “adalah melawan kebodohan dan kemiskinan.” Dari sinilah perannya sebagai pendidik dan perancang masa depan umat bermula.
Pada 1960, ia mendirikan Pesantren Pertanian Darul Falah. Di pesantren ini, santri tak hanya belajar tafsir dan fikih, tetapi juga bercocok tanam, mengelola lahan, dan memahami ekonomi pertanian. Sholeh Iskandar ingin santrinya pulang ke kampung bukan sebagai pencari kerja, melainkan pencipta kehidupan. Sebuah gagasan yang terasa jauh melampaui zamannya.
Setahun kemudian, ia mendirikan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor. Kampus ini lahir dari keyakinannya bahwa umat Islam membutuhkan pendidikan tinggi yang memadukan iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial. UIKA bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi ruang pembentukan kesadaran—bahwa ilmu harus berpihak pada rakyat.
Kepeduliannya tak berhenti di pendidikan. Pada 1982, Sholeh Iskandar menggagas berdirinya Rumah Sakit Islam Bogor. Baginya, kesehatan adalah hak dasar, bukan komoditas. Di bidang ekonomi, ia mendirikan Bank Perkreditan Rakyat Amanah Ummah untuk menopang usaha kecil dan mikro. Ia melihat langsung bagaimana pedagang kecil sering tercekik modal, sementara sistem keuangan formal terlalu jauh dari jangkauan mereka.
Yang menarik, perubahan besar itu justru berangkat dari hal-hal paling dekat. Kampung halamannya di Pasarean ia ubah menjadi desa modern berbasis partisipasi warga. Inisiatif ini mengantarkan desa tersebut meraih penghargaan UNESCO pada 1953—sebuah pengakuan internasional atas kerja sunyi di tingkat akar rumput.
KH. Sholeh Iskandar wafat pada 22 April 1992. Ia dimakamkan di TPU Barengkok, Leuwiliang, Bogor. Tiga tahun setelah wafatnya, negara menganugerahkan Bintang Jasa Nararya. Majelis Ulama Indonesia kemudian mengusulkan namanya sebagai pahlawan nasional.
Kini, namanya diabadikan menjadi jalan protokol, kampus, dan rumah sakit. Namun warisan terbesarnya bukanlah prasasti atau papan nama. Warisan itu hidup dalam pesantren yang terus mencetak petani berilmu, kampus yang melahirkan intelektual muslim, rumah sakit yang melayani tanpa memandang latar belakang, dan lembaga ekonomi yang menguatkan rakyat kecil.
KH. Sholeh Iskandar mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa ulama sejati adalah mereka yang hadir di tengah persoalan zamannya. Ia membuktikan bahwa iman bisa menjelma menjadi tindakan, dan dakwah bisa berwujud kerja nyata—menanam hari ini, demi masa depan yang lebih bermartabat.*** (PG)









