Menu

Mode Gelap
KAI Lanjutkan Pendampingan Korban Insiden Bekasi Timur, 17 Pelanggan Masih Dirawat Perkuat Standar Layanan dan Keselamatan Secara Berkelanjutan, DAMRI Tingkatkan Kompetensi Pengemudi di Berbagai Layanan Kemenhub Teken 2 Perjanjian Konsesi Strategis dengan PT Pelindo Dukung Kelancaran Logistik Wilayah, PTP Nonpetikemas Cabang Jambi Perkuat Peran ASDP Ramaikan Forum Inabuyer 2026, Dorong UMKM Naik Kelas Pojok Baca Edukasi Polsek Kalibaru: Menumbuhkan Minat Baca dan Kepedulian Gizi Anak Sejak Dini

PERISTIWA

KH. Sholeh Iskandar, Ulama yang Menanam Masa Depan

badge-check


 KH. Sholeh Iskandar, Ulama yang Menanam Masa Depan Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Pagi di Pasarean, Cibung Bulang, Bogor, selalu membawa cerita lama tentang seorang anak kampung yang kelak mengubah wajah daerahnya. Dari desa inilah KH. Sholeh Iskandar memulai perjalanan panjang—perjalanan yang tak hanya menembus hutan-hutan gerilya, tetapi juga menembus sekat kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan umat.

Sholeh Iskandar lahir pada 22 Juni 1922. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren, di tengah denyut kehidupan rakyat kecil. Sejak muda, ia percaya bahwa agama bukan sekadar urusan ibadah ritual, melainkan jalan pembebasan. Keyakinan itu yang membawanya terjun ke medan perang saat Republik Indonesia baru seumur jagung.

Ketika Belanda kembali ingin menancapkan kuku kolonialnya, Sholeh Iskandar mengangkat senjata. Ia memimpin laskar Hizbullah dan Batalyon Tirtayasa di bawah Divisi Siliwangi. Dengan pangkat Mayor, ia bergerilya di wilayah Bogor Barat hingga Banten. Hutan menjadi rumah, doa menjadi tenaga, dan kemerdekaan menjadi tujuan. Bagi Sholeh Iskandar, berjuang melawan penjajahan adalah bagian dari jihad mempertahankan martabat manusia.

Namun, ketika dentum senjata mereda, ia memilih medan juang lain. “Perang yang sesungguhnya,” demikian pandangannya, “adalah melawan kebodohan dan kemiskinan.” Dari sinilah perannya sebagai pendidik dan perancang masa depan umat bermula.

Pada 1960, ia mendirikan Pesantren Pertanian Darul Falah. Di pesantren ini, santri tak hanya belajar tafsir dan fikih, tetapi juga bercocok tanam, mengelola lahan, dan memahami ekonomi pertanian. Sholeh Iskandar ingin santrinya pulang ke kampung bukan sebagai pencari kerja, melainkan pencipta kehidupan. Sebuah gagasan yang terasa jauh melampaui zamannya.

Setahun kemudian, ia mendirikan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor. Kampus ini lahir dari keyakinannya bahwa umat Islam membutuhkan pendidikan tinggi yang memadukan iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial. UIKA bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi ruang pembentukan kesadaran—bahwa ilmu harus berpihak pada rakyat.

Kepeduliannya tak berhenti di pendidikan. Pada 1982, Sholeh Iskandar menggagas berdirinya Rumah Sakit Islam Bogor. Baginya, kesehatan adalah hak dasar, bukan komoditas. Di bidang ekonomi, ia mendirikan Bank Perkreditan Rakyat Amanah Ummah untuk menopang usaha kecil dan mikro. Ia melihat langsung bagaimana pedagang kecil sering tercekik modal, sementara sistem keuangan formal terlalu jauh dari jangkauan mereka.

Yang menarik, perubahan besar itu justru berangkat dari hal-hal paling dekat. Kampung halamannya di Pasarean ia ubah menjadi desa modern berbasis partisipasi warga. Inisiatif ini mengantarkan desa tersebut meraih penghargaan UNESCO pada 1953—sebuah pengakuan internasional atas kerja sunyi di tingkat akar rumput.

KH. Sholeh Iskandar wafat pada 22 April 1992. Ia dimakamkan di TPU Barengkok, Leuwiliang, Bogor. Tiga tahun setelah wafatnya, negara menganugerahkan Bintang Jasa Nararya. Majelis Ulama Indonesia kemudian mengusulkan namanya sebagai pahlawan nasional.

Kini, namanya diabadikan menjadi jalan protokol, kampus, dan rumah sakit. Namun warisan terbesarnya bukanlah prasasti atau papan nama. Warisan itu hidup dalam pesantren yang terus mencetak petani berilmu, kampus yang melahirkan intelektual muslim, rumah sakit yang melayani tanpa memandang latar belakang, dan lembaga ekonomi yang menguatkan rakyat kecil.

KH. Sholeh Iskandar mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa ulama sejati adalah mereka yang hadir di tengah persoalan zamannya. Ia membuktikan bahwa iman bisa menjelma menjadi tindakan, dan dakwah bisa berwujud kerja nyata—menanam hari ini, demi masa depan yang lebih bermartabat.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pojok Baca Edukasi Polsek Kalibaru: Menumbuhkan Minat Baca dan Kepedulian Gizi Anak Sejak Dini

6 Mei 2026 - 16:18 WIB

JMSI Sulawesi Tengah Kecam Pernyataan Mantan Direktur RSUD Undata Yang Hina Jurnalis

6 Mei 2026 - 02:35 WIB

Respon Cepat Pengaduan Layanan Polri 110, Polisi Datangi Mess ABK di Muara Angke Jakut

5 Mei 2026 - 15:36 WIB

Kartunis Dorong Pameran “JAKARTUN” untuk HUT Jakarta ke-499

5 Mei 2026 - 13:46 WIB

Pase Raya Gelar Halal Bihalal, Pererat Warga Aceh Utara di Perantauan

5 Mei 2026 - 10:55 WIB

Massa Aksi Padati Gedung Gubernur Aceh, Tuntut Pencabutan Pergub JKA 2026

4 Mei 2026 - 23:46 WIB

Sinergi Pelindo Regional 4 – DPRD, Dorong Pengembangan Pelabuhan Sorong

4 Mei 2026 - 22:40 WIB

Soliditas Jadi Kunci Bertahan Forwan

4 Mei 2026 - 13:20 WIB

Neno Warisman Diharapkan Perkuat Dukungan Negara dalam Pencanangan Bulan Ismail Marzuki

4 Mei 2026 - 11:19 WIB

Hendardi: Pengadilan Militer dalam Kasus Andrie Yunus Berpotensi Melanggengkan Impunitas

4 Mei 2026 - 11:06 WIB

Trending di TNI-POLRI