Menu ✖

Mode Gelap
Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20% Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global KAI Services Apresiasi Petugas Keamanan yang Bantu Penumpang Melahirkan di KRL Dr. Mohammad Amin, M. Sn,MA Jangan Malu Disebut Kampungan, Dangdut Justru Siap Menembus UNESCO

PERISTIWA

KH. Sholeh Iskandar, Ulama yang Menanam Masa Depan

badge-check


 KH. Sholeh Iskandar, Ulama yang Menanam Masa Depan Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Pagi di Pasarean, Cibung Bulang, Bogor, selalu membawa cerita lama tentang seorang anak kampung yang kelak mengubah wajah daerahnya. Dari desa inilah KH. Sholeh Iskandar memulai perjalanan panjang—perjalanan yang tak hanya menembus hutan-hutan gerilya, tetapi juga menembus sekat kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan umat.

Sholeh Iskandar lahir pada 22 Juni 1922. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren, di tengah denyut kehidupan rakyat kecil. Sejak muda, ia percaya bahwa agama bukan sekadar urusan ibadah ritual, melainkan jalan pembebasan. Keyakinan itu yang membawanya terjun ke medan perang saat Republik Indonesia baru seumur jagung.

Ketika Belanda kembali ingin menancapkan kuku kolonialnya, Sholeh Iskandar mengangkat senjata. Ia memimpin laskar Hizbullah dan Batalyon Tirtayasa di bawah Divisi Siliwangi. Dengan pangkat Mayor, ia bergerilya di wilayah Bogor Barat hingga Banten. Hutan menjadi rumah, doa menjadi tenaga, dan kemerdekaan menjadi tujuan. Bagi Sholeh Iskandar, berjuang melawan penjajahan adalah bagian dari jihad mempertahankan martabat manusia.

Namun, ketika dentum senjata mereda, ia memilih medan juang lain. “Perang yang sesungguhnya,” demikian pandangannya, “adalah melawan kebodohan dan kemiskinan.” Dari sinilah perannya sebagai pendidik dan perancang masa depan umat bermula.

Pada 1960, ia mendirikan Pesantren Pertanian Darul Falah. Di pesantren ini, santri tak hanya belajar tafsir dan fikih, tetapi juga bercocok tanam, mengelola lahan, dan memahami ekonomi pertanian. Sholeh Iskandar ingin santrinya pulang ke kampung bukan sebagai pencari kerja, melainkan pencipta kehidupan. Sebuah gagasan yang terasa jauh melampaui zamannya.

Setahun kemudian, ia mendirikan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor. Kampus ini lahir dari keyakinannya bahwa umat Islam membutuhkan pendidikan tinggi yang memadukan iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial. UIKA bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi ruang pembentukan kesadaran—bahwa ilmu harus berpihak pada rakyat.

Kepeduliannya tak berhenti di pendidikan. Pada 1982, Sholeh Iskandar menggagas berdirinya Rumah Sakit Islam Bogor. Baginya, kesehatan adalah hak dasar, bukan komoditas. Di bidang ekonomi, ia mendirikan Bank Perkreditan Rakyat Amanah Ummah untuk menopang usaha kecil dan mikro. Ia melihat langsung bagaimana pedagang kecil sering tercekik modal, sementara sistem keuangan formal terlalu jauh dari jangkauan mereka.

Yang menarik, perubahan besar itu justru berangkat dari hal-hal paling dekat. Kampung halamannya di Pasarean ia ubah menjadi desa modern berbasis partisipasi warga. Inisiatif ini mengantarkan desa tersebut meraih penghargaan UNESCO pada 1953—sebuah pengakuan internasional atas kerja sunyi di tingkat akar rumput.

KH. Sholeh Iskandar wafat pada 22 April 1992. Ia dimakamkan di TPU Barengkok, Leuwiliang, Bogor. Tiga tahun setelah wafatnya, negara menganugerahkan Bintang Jasa Nararya. Majelis Ulama Indonesia kemudian mengusulkan namanya sebagai pahlawan nasional.

Kini, namanya diabadikan menjadi jalan protokol, kampus, dan rumah sakit. Namun warisan terbesarnya bukanlah prasasti atau papan nama. Warisan itu hidup dalam pesantren yang terus mencetak petani berilmu, kampus yang melahirkan intelektual muslim, rumah sakit yang melayani tanpa memandang latar belakang, dan lembaga ekonomi yang menguatkan rakyat kecil.

KH. Sholeh Iskandar mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa ulama sejati adalah mereka yang hadir di tengah persoalan zamannya. Ia membuktikan bahwa iman bisa menjelma menjadi tindakan, dan dakwah bisa berwujud kerja nyata—menanam hari ini, demi masa depan yang lebih bermartabat.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jeritan Pilu Warga Berawang Baro Pegasing Delapan Dekade Merdeka, Terisolasi di Kubangan Lumpur dan Janji Manis Pembangunan ‎

1 Oktober 2026 - 03:08 WIB

Peduli Lingkungan Sejak Dini, Terminal Teluk Lamong Edukasi Siswa tentang Pemilahan Sampah

30 September 2026 - 20:34 WIB

Dukung Program Presiden Prabowo, KKP Siapkan Produk Perikanan untuk Menu MBG

30 September 2026 - 18:39 WIB

Komitmen Jaga Setiap Perjalanan, DAMRI Raih Penghargaan Pelopor Kita DKI 2026

30 September 2026 - 14:46 WIB

KPU Fakfak Tetapkan Data Pemilih Triwulan III 2026, Naik 808 Jiwa

30 September 2026 - 13:41 WIB

Yanuar Cecar Eks Kalapas Cibinong: Sofa hingga AC Hilang, Siapa yang Perintah?

30 September 2026 - 12:34 WIB

Dari 10 Jamaah Menjadi 651, Majelis Taklim Ar Rahmah Rangkul Jemaah Syiar Islam Bersama

30 September 2026 - 12:19 WIB

Dari Control Room ke Lapangan, Peserta Magenta Intip Langsung Operasional IPC TPK

30 September 2026 - 11:13 WIB

Kolaborasi Addie MS & Twilite Orchestra, Anggun, dan Judika Warnai Perayaan 81 Tahun KAI

30 September 2026 - 07:37 WIB

KRI Sriwijaya-100 Akan Dimodernisasi

30 September 2026 - 05:11 WIB

Trending di ANJUNGAN