Wartatrans.com, JAKARTA – KRI Sriwijaya-100 resmi masuk jajaran TNI Angkatan Laut pada 24 September 2026 dan akan dimodernisasi.
PT PAL Indonesia dan Fincantieri baru menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 28 September untuk menyiapkan modernisasi kapal bekas Giuseppe Garibaldi tersebut.
MoU itu belum menetapkan nilai proyek, lingkup teknis secara rinci, pembagian pekerjaan, maupun jadwal pelaksanaan.
KRI Sriwijaya-100 dibangun Fincantieri dan diserahkan kepada Angkatan Laut Italia pada 1985, sehingga usianya kini lebih dari empat dekade.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan, kapal akan dimodifikasi agar mampu dukung pengoperasian helikopter dan pesawat nirawak.
“Kemampuan itu diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan,” ujarnya, Senin (28/9/2026).
Di sisi industri, CEO sekaligus Managing Director Fincantieri Pierroberto Folgiero mengatakan kerja sama dengan PT PAL telah berkembang melampaui penyerahan platform angkatan laut.
“Selama bertahun-tahun, kerja sama kami telah berkembang jauh melampaui sekadar penyerahan platform angkatan laut canggih,” ujar Folgiero.
Fincantieri menyebut kedua pihak akan bersama-sama menentukan lingkup dan pembagian tanggung jawab.
Fincantieri membawa pengetahuan atas platform asli, sedangkan PT PAL memiliki kemampuan pembangunan kapal, integrasi, pemeliharaan, dan dukungan.
CEO PT PAL Kaharuddin Djenod menyatakan, modernisasi dimulai dari inspection dan condition assessment sebelum masuk ke tahap engineering, penentuan lingkup pekerjaan, integrasi sistem, testing, dan commissioning.
Menurut dia, kondisi aktual platform dan sistem yang sudah terpasang menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan modernisasi.
KSAL Laksamana Muhammad Ali, Jumat (18/9/2026), mengatakan PT PAL dan Fincantieri akan memodernisasi kapal agar mesin dan teknologinya sesuai kebutuhan TNI AL serta doktrin operasional.
Kerja sama tersebut juga menjadi ruang pertukaran teknologi atau transfer of technology (ToT).
Pengalaman PT PAL dengan mitra asing sebelumnya mencakup pembangunan fregat SIGMA 10514 bersama Damen asal Belanda, jenis kapal perang permukaan.
Bersama Babcock asal Inggris, PT PAL menggunakan lisensi desain Arrowhead 140 untuk pembangunan fregat bagi Indonesia.
Namun, modernisasi platform berusia lebih dari 40 tahun membawa konsekuensi biaya dan kesiapan operasi.
Peneliti CSIS Muhammad Fauzan Malufti kepada Associated Press (AP), Jumat (18/9/2026), mengingatkan kebutuhan operasional harus menjadi dasar keputusan.
“Intinya, hal ini tidak boleh dipaksakan. Jika dipaksakan, manfaatnya dapat kalah oleh biayanya,” kata Fauzan.
Berbeda dengan pembangunan kapal baru berbasis desain berlisensi, proyek Sriwijaya-100 berangkat dari platform yang sudah beroperasi puluhan tahun.
Tahap kontrak dan engineering akan menentukan seberapa jauh modernisasi dilakukan, berapa nilainya, serta bagaimana pembagian pekerjaan dan transfer teknologi antara PT PAL dan Fincantieri.(Artha Tidar)




























