Menu

Mode Gelap
InJourney Hospitality Group Salurkan Donasi untuk Korban Bencana Sumatera InJourney Gelar Doa Bersama Serentak untuk Sumatera di Destinasi Ikonik Pengurus KNG Raya Gelar Pertemuan Bahas RAT 2026 dan Bantuan Bencana Hari Pertama Tahun Baru, Menhub Dudy Pantau Arus Lalu Lintas di Jalur Tol Keluar-Masuk Jakarta Menhub Dudy Pastikan Kesiapan untuk Arus Balik Nataru di Stasiun Yogya UMK Kubu Raya 2026 Naik 7,7 Persen, Ditetapkan Rp3,1 Juta

RAGAM

Lereng Gundul Picu Ancaman Longsor, Warga di Kaki Gunung Ciremai Diminta Waspada

badge-check


					Lereng Gundul Picu Ancaman Longsor, Warga di Kaki Gunung Ciremai Diminta Waspada Perbesar

Wartatrans.com, CIREBON — Gunung Ciremai memunculkan kekhawatiran serius setelah sejumlah titik di lereng gunung terlihat gundul dan menunjukkan tanda-tanda rawan longsor. Kondisi tersebut diduga kuat akibat pembukaan lahan dan berkurangnya tutupan vegetasi yang selama ini berfungsi menahan air dan menjaga stabilitas tanah.

Sejumlah desa yang berada di kaki Gunung Ciremai, seperti Linggarjati, Cilimus, Palutungan, hingga Cibuntu, kini berada langsung di bawah jalur potensi longsor. Para ahli memperingatkan, lereng yang kehilangan vegetasi tidak mampu menyerap dan menahan curah hujan secara optimal, sehingga air hujan langsung meresap dan memicu pergerakan massa tanah.

“Jika hujan turun terus-menerus, risiko longsor dan banjir bandang dapat meningkat secara signifikan,” ujar seorang pemerhati lingkungan, Dawax Fathurahman. Ia menambahkan, kondisi serupa pernah terjadi di beberapa wilayah Aceh dan Sumatra, yang berujung pada kerusakan besar serta korban jiwa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya warga yang tinggal di sekitar aliran sungai, lereng curam, dan tebing yang mulai menunjukkan retakan. Beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain munculnya retakan panjang di tanah, pohon atau tiang yang miring, dinding rumah yang retak, serta suara gemuruh dari arah lereng, terutama saat hujan lebat.

Di sisi lain, pemerintah daerah didorong untuk segera mempercepat program reboisasi, memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, serta menyiapkan jalur evakuasi dan titik kumpul yang aman bagi warga. Edukasi kebencanaan kepada masyarakat juga dinilai sangat penting agar warga memahami langkah yang harus dilakukan ketika muncul tanda-tanda bencana.

Gunung Ciremai selama ini berperan sebagai sumber air sekaligus pelindung alami bagi wilayah sekitarnya. Tanpa tutupan pohon yang memadai, gunung kehilangan kemampuannya menahan limpasan air dan menjaga kestabilan tanah.

Para pakar mengingatkan, jika kerusakan lingkungan tidak segera dikendalikan, potensi bencana di masa mendatang akan semakin besar. Pesan kewaspadaan bagi warga pun ditegaskan: tetap tenang namun selalu siaga, simpan barang-barang penting di tempat yang mudah dijangkau, ikuti arahan petugas, dan segera menjauh dari lereng apabila hujan deras berlangsung dalam waktu lama.

Keselamatan menjadi prioritas utama. Mencegah bencana sejak dini dinilai jauh lebih baik dibandingkan harus menyesal kemudian hari.*** (Dulloh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pengurus KNG Raya Gelar Pertemuan Bahas RAT 2026 dan Bantuan Bencana

2 Januari 2026 - 12:02 WIB

Warga Tangse Masuk Hutan Lindung, Cari Pelaku Tambang Ilegal Penyebab Banjir Bandang

2 Januari 2026 - 06:35 WIB

Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026

2 Januari 2026 - 01:10 WIB

Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026

1 Januari 2026 - 21:20 WIB

Refleksi Awal Tahun, Noyo Gimbal View Dipadati Wisatawan

1 Januari 2026 - 18:57 WIB

Trending di RAGAM